Menulis di Atas Tulisan


Menulis di atas tulisan? Haneh numpuk-numpuk hurufnya! Haneh ruwet bin nggak bisa dibaca tulisannya! Sebentar Lur! Tentu maksudnya nggak seperti itu nggih! Ungkapan tersebut tentu bukanlah ungkapan yang wantah alias denotatif. Terlebih jika hal tersebut dituturkan oleh seorang Presiden Puisi Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Sudah pasti ada maksud tersirat yang teramat dalam dan mungkin tidak pernah dipikirkan oleh kalangan masyarakat awam puisi, seperti kita-kita

Oke. Ketika berlangsung malam penganugerahan Ijazah Maiyah saat Kenduri Cinta awal bulan ini, Bang Tardji ditanya, “Darimana mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi?” Bagaimanapun nama Sutardji dengan ribuan karya puisi yang unik dengan bobot sastra yang luar biasa tentu menarik untuk diungkap bagaimana proses kreatif yang dijalani. Apakah ia mendapatkan wisik kata-kata dari langit? Bagaimana ia memilih kata, merangkai satu sama lain, menyusunnya menjadi kalimat dan bait-bait yang kaya makna? Ada keindahan puisi, namun yang terlebih penting lagi adalah pesan-pesan mendalam di dalamnya.

Sebagian orang mungkin menganggap bahwasanya seorang penyair, sekelas Sutardji lagi, sebagai seorang yang apapun kata terlintas di pikirannya langsung menjelma menjadi kata indah dan bait puisi. Ibarat mantra, tinggal memejamkan mata sejenak, berkomat-kamit sesaat, maka kata-kata itu akan segera meluncur deras dan lahirlah puisi. Benarkah demikian?

Bagi Bang Tardji sendiri, menulis puisi adalah pekerjaan yang tidak hanya sekedar menuliskan kata-kata. Sebuah kalimat dan bait puisi ditulis oleh seorang penyair melalui proses serta lika-liku pemikiran yang teramat dalam. Tidak ada yang namanya sekonyong-konyong kata-kata itu jatuh dari langit. Seorang penyair tidak sekedar seorang pemikir. Lebih dari itu seorang penyair adalah seorang pejalan sejati dalam kehidupan. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasa adalah bagian dari sumber inspirasi. Demikian tentu juga dengan tulisan-tulisan yang pernah ia baca.

Tidak ada tulisan puisi yang terlahir dari kehampaan. Tidak ada kertas kosong sama sekali sebelum sebuah bait puisi dituliskan oleh penyairnya. Tulisan puisi yang hadir melalui goresan tinta di atas kertas sejatinya sebelum itu telah terlebih dahulu tertulis secara abstrak di pikiran dan angan-angan sang penyair. “Sebuah tulisan dituliskan di atas tulisan, “ demikian poin terpenting yang disampaikan penulis puisi Mantra yang masih tetap energik dalam setiap kesempatan membaca karya-karya meski di usia yang sudah tidak muda lagi saat ini.

Menulis di atas tulisan! Diskusi malam itu kemudian mengalir deras kepada latar belakang proses kreatif Bang Tardji. Sebagaimana difirmankan Tuhan bahwa ummat Islam diperintahkan untuk iqra’, membaca! Apa yang dibaca adalah tulisan. Tentu jika kita memerdekan diri bahwasanya yang dimaksud dengan tulisan tidaklah sekedar tulisan sebagaimana makna denotatifnya, maka apapun ciptaan Tuhan adalah tulisan. Kita suci adalah tulisan. Gunung adalah tulisan. Matahari adalah tulisan. Lautan, hutan, air, hujan, angin, lembah, sungai, ngarai, semua adalah tulisan. Bagaimana mungkin seorang penyair kosong dari itu semua? Kosong dari semua tulisan-tulisanNya tersebut?

Puisi terlahir bukan dari sebuah kehampaan. Puisi hadir bukan tanpa sebab dan latar belakang, serta perjalanan hidup yang pernah dilalui penyairnya. Lingkungan, adat kebiasaan, budaya, keyakinan, pendidikan, semua berpengaruh dalam proses kreativitas seorang penyair. Tulisan hadir di atas tulisan yang lain. Tulisan hadir di atas alam pikiran penyair. Tulisan hadir dan dituliskan di atas ayat-ayatNya.

Ngisor Blimbing, 25 Juli 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s