Darah Jiwa Raga Tempe


Tempe. Ya, si tempe makanan dari bahan dasar kedelai itu. Mendengar ataupun bersentuhan dengan makanan yang satu ini bagi kebanyakan orang mungkin merupakan suatu hal yang biasa saja. Tidak demikian halnya dengan saya. Tempe tidak hanya soal sebuah kata semata. Tempe bukan hanya soal nama makanan thok. Pun tempe bukan hanya soal persepsi kaum bermental rendahan. Tempe merupakan bagian dari sejarah dan perjalanan hidup keluarga kami.

Biyung Harjo, nenek kami, adalah maestro perajin tempe di masanya. Tidak hanya saja menyejarah, penggelan hidup tersebut bahkan semakin melegenda di dalam sanubari kami, segenap para cucu-cucunya.

Di masa gejolak revolusi saat Orde Lama berkuasa, Presiden Soekarno sering berapi-api berpidato, “Bangsa kita bukan bangsa tempe!”. Dalam realitas kenyataan sehari-hari di tengah rakyat saat itu justru hanya sekedar lauk tempe itulah kemewahan di atas meja makan yang hadir. Namun demikian, entah kenapa tempe disimbolisasikan sebagai keadaan suatu kaum atau bangsa yang lembek, kurang semangat, nglokro, bahkan rendah diri. Tempe seolah dijadikan perlambang kemiskinan, ketertinggalan, bahkan kebodohan.  Sudah pasti dalam pemaknaan tersebut justru akan semakin memperpuruk mentalitas bangsa yang baru merdeka. Maka meskipun kita setiap hari makan berlauk tempe, Soekarno berharap bangsa kita adalah bangsa yang besar, tidak kerdil, tidak rendah diri, dan tidak berwatak  pemalas.

Dari sisi emosional pribadi, keterkaitan tempe dengan biyung tuwa sungguh menjadi sebuah ikatan batin yang sangat kuat nan erat hingga kini. Entah sejak kapan biyung tuwa menekuni profesi perajin tempe kedelai. Semenjak saya lahir yang ijir mampu mengingat sesuatu, biyung tuwa sudah lama nempe. Nempe adalah rutinitas kesehariannya.

Adalah bapak saya yang di sela-sela kepulangannya dari tempat mengajar tak segan-segan memboncengkan sekarung goni kedelai setidaknya dua minggu sekali. Sore menjelang petang, biyung merebus kedelai dalam sebuah kenceng yang terbuat dari bahan tembaga. Setelah direbus, kedelai kemudian direndam dalam air jernih hingga semalaman.

Pagi hari selepas menjajakan tempe yang sudah jadi dan siap konsumsi, biyung membawa rendaman kedelai ke kedhokan, sebuah tempat mandi yang berasal dari mata air di kaki Gunung Merapi. Dalam sebuah wadah krombong yang terbuat dari anyaman bambu, kedelai di-idak alias diinjak-injak dengan kedua kaki. Tujuan dari proses ngidak adalah untuk melepaskan kulit ari dari setiap butir kedelai. Proses pengidakan juga berguna untuk membelah butir kedelai menjadi dua sisi serupa yang saling terpisah.

Kedelai bersih yang sudah di-idak, Kedelai tersebut kemudian dikukus atau direbus sekira 2-3 jam, Pada saat pengukusan api harus dijaga stabil dan jangan sampai kehabisan air di bawah kukusan.Setelah matang, rebusan kedelai ditiriskan dan dihamparkan pada sebuah tampah besar. Setelah agak hangat, ragi tempe segera di taburkan atau dicampurkan secara merata. Barulah di saat malam, selepas Isyak, adonan kedelai tersebut dibungkus dengan daun pisang. Demikianlah rutinitas biyung tuwa sehari-hari sebagai seorang perajin tempe kedelai.

Tentu rutinitas keseharian tersebut menjadi bagian dari keseharian kami selaku keluarga. Hampir setiap dari kami turut membantu pekerjaan-pekerjaan tertentu. Saya sendiri sering membantu untuk “nyuwiri” tali dari iratan bambu apus muda. Tali inilah yang digunakan untuk menali bungkusan tempe.

Sekitar tiga tahun silam biyung tuwa menghada ke haribaanNya. Mbokde sesekali masih meneruskan pembuatan tempe. Namun secara usaha keluarga, kami sedikit banyak kini tidak lagi bersentuhan dengan dunia pertempean.

Bisa karena biasa, memanglah sebuah ungkapan yang tepat. Terbiasa dengan keseharian dan kesibukan membuat tempe menjadikan keluarga kami tahu persis setiap tahapan pembuatan tempe. Sekian lama tidak pernah membuat tempe menjadikan rasa rindu di dalam kalbu. Sembari memperkenalkan proses pembuatan tempe kedelai secara tradisional kepada anak-anak yang tidak pernah “menangi” simbah buyutnya membuat tempe, kamipun membeli kedelai dan ragi tempe beberapa minggu silam. Akhirnya dua hari ini projek pembuatan tempe benar-benar kami eksekusi.

Dengan keyakinan resep “keluarga” warisan dari biyung tuwa tentu saja kami optimis akan berhasil. Meskipun sudah banyak hal yang tinggal samar kami ingat berkenaan dengan proses pembuatan tempe kedelai, tentu kami dag-dig-dug akan hasilnya seperti apa. Setidaknya masih semalaman ini kami menanti proses fermentasi ragi tempe dapat berlangsung secara sempurna hingga di esok pagi. Moga kami benar-benar berhasil ya lurr…….

Ngisor Blimbing, 21 Juli 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Keluarga dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Darah Jiwa Raga Tempe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s