Kembali Berguru Ilmu Padi


Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Seyogyanya seseorang yang semakin pandai, maka wajarnya ia akan semakin berendah hati. Hikmah ilmu padi ini sudah puluhan tahun diajarkan di bangku sekolah dan menjadi pedoman bagi manusia budiman. Jangan berkebalikan dengan ilmu padi, celakalah bagi anak manusia yang sudahlah tidak berilmu, sudahlah tidak berharta, sudahlah tidak berpangkat jabatan, sudahlah tidak memiliki apa-apa namun bersikap sombong, angkuh, dan tinggi hati.

Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Ilmu padi yang satu ini memang hikmah tersohor buah nasehat dari tanaman yang menghasilkan beras si cikal bakal nasi. Namun sebagai sebuah ayat kauniyah Tuhan, tanaman padi tentunya masih menyimpan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan hikmah ilmu kebijaksanaan yang senantiasa bisa digali dan dihikmahi.

Dalam edisi Kenduri Cinta Presiden Sejati Pujangga Abadi, Iman Budhi Santoso, salah seorang penyair yang malam itu mendapatkan ijzah maiyah dari segenap masyarakat maiyah melontarkan sebuah pertanyaan yang mendalam, “Untuk apa kita makan nasi?”

Pertanyaan sangat sederhana. Namun karena yang bertanya seorang penyair tentu hadiring yang mendengarnya mau tidak mau terhanyut untuk berpikir di luar kebiasaan. Harus mendalam dan menggali segala hikmah kebijaksanaan yang bersumber dari kesucian hati nurani yang terdalam. Ada beberapa hadirin yang mencoba menjawab. Untuk bertahan hidup. Untuk melangsungkan kewajiban menjaga kesehatan tubuh. Untuk mendapatkan tenaga atau energi. Untuk terhindar dari kelaparan. Untuk mendapatkan rasa kenyang. Demikianlah rata-rata jawaban yang sejatinya juga mewakili sebagian manusia yang lain yang tidak berkesempatan turut menjawab.

Pak Iman menggelang. Jawaban yang ia maksudkan masih belum ada yang memikirkannya. Setelah kembali memberikan kesempatan kepada hadirin lain untuk turut urun rembug dan tak ada yang kembali menjawab, ia memberikan sebuah uraian. Pak Iman teringat apa yang dipikirkan Cak Nun tatkala mendapatkan pertanyaan yang sama. Bukanlah untuk bertahan hidup, menjaga kesehatan, mendapatkan tenaga, terhindar dari rasa lapar, ataupun agar kenyang, Cak Nun memberikan sebuah jawaban singkat, padat, di luar mainstream namun sungguh menghentakkan pikiran bersama.

Pak Iman menirukan Cak Nun, “Kita makan nasi dari beras dan padi, agar tanaman padi senantiasa berkesempatan untuk bereproduksi!

Mak jleb bukan? Namanya penyair, pujangga, filosof, pejalan salik tentu melontarkan sebuah refleksi pemikiran yang sungguh dalam. Ketika manusia awam ditanya mengenai untuk apa makan nasi, maka jawaban umum yang terungkap sejatinya masih berorientasi kepentingan pribadi masing-masing. Bagi seseorang yang telah melampaui maqom manusia awam, justru jawaban yang merupakan buah pikiran bersumber dari hati nurani mengarahkan sudut pandang terhadap kepentingan obyek yang sedang diperbincangkan. Dalam konteksi nasi, beras, dan padi, Cak Nun memberikan jawaban yang mengambil sudut pandang kepentingan sang pohon padi. Untuk membantu tanaman padi bereproduksi! Luar biasa bukan?

Seseorang yang sudah tuntas dan lulus dengan kepentingan pribadinya tentu dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan maupun sikapnya senantiasa berorientasi kepada kepentingan yang jauh lebih besar. Berbicara tentang orang lain, berbicara tentang masyarakat, negara, dan bangsa. Juga berpikir tentang makhluk lain, tentang alam, dan sudah pasti tentang Tuhan.

Andaikan tanaman padi menghasilkan gabah, kemudian beras, hingga nasi yang siap konsumsi namun tidak ada satupun makhluk lain yang mengkonsumsinya, apakah tanaman padi akan berkembang biak? Apakah tanaman padi akan beregenerasi? Karena tanaman padi dibutuhkan dan kemudian ia memberikan manfaat kepada manusia, dan yang lebih luas lagi kepada tata keseimbangan alam, maka manusia membudidayakannya. Manusia menebar benih padi. Manusia menanam padi. Manusia mengairi, merawat, menyiangi, bahkan memupuk tanaman padi. Akhirnya sang padi bertumbuh, berbunga, hingga berbuah. Maka aktivitas makan nasi menjadi bukanlah “sekedar” sebuah aktivitas jasmani dan biologis semata. Makan nasi adalah peristiwa siklus kehidupan, adalah tata keseimbangan, adalah kelestarian, dan yang sudah pasti adalah kehidupan itu sendiri.

Berpikir dengan cakrawala luas, berpikir dari sudut pandang kepentingan pihak lain, berpikir dengan hikmah kebijaksanaan, dan seterusnya-seterusnya merupakan sebuah pengembaraan untuk menghikmahi setiap ayat Tuhan. Berpikir dengan cara demikian akan menghasilkan butiran-butiran ilmu yang menjadikan manusia mencapai tataran kesejatian. Manusia insan kamil. Manusia paripurna. Manusia sebagaimana dititahkan Tuhan melalui ketentuan penciptaanNya.  Dari titik inilah manusia akan menemukan kedamaian dan ketentraman yang sejati nan abadi. Semoga.

Ngisor Blimbing, 15 Juli 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s