Keliling Bandung ala Bandros Tour


Bandros. Setahu saya bandros yang pertama kali saya kenal merupakan nama sejenis minuman. Tentu saja minuman tradisional khas Sunda atau Tanah Priyangan. Mirip atau sebelas dua belaslah dengan bajigur. Mungkin terinspirasi dari minuman bandros ini Kang Emil, pada saat menjabat Walikota Bandung, menggagas bus untuk wisata keliling kota dinamakan Bandros. Bandros, Bandung Tour on Bus!

Adalah sebuah kelaziman sebuah kota tujuan wisata kelas dunia rata-rata memiliki layanan wisata keliling kota dengan kendaraan tertentu. Di negara tetangga saja, semisal Singapura dan Kuala Lumpur telah lama memiliki hop on hop off bus. Fungsi utama kendaraan tersebut untuk mengantarkan turis ke berbagai sudut kota. Mulai dari pusat kota, kawasan sejarah atau kota tua, kawasan perbelanjaan, kawasan pemerintahan, jalanan protokol, merupakan spot-spot yang lazim dilalui atau disinggahi.

Di samping ide mengantarkan wisatawan untuk lebih mengenal sudut kota Bandung, Kang Emil lebih jauh menggagas pengenalan sejarah kota Bandung. Untuk tujuan tersebut, pada setiap Bandros yang melaju senantiasa dilengkapi seorang pemandu perjalanan. Melalui uraian atau cerita yang disampaikan oleh pemandu tersebut, para penumpang Bandros diperkenalkan dengan nama da nasal-usul jalan-jalan yang dilalui. Ada pula kisah tentang taman tematik yang dilintasi. Nama gedung dan sejarah yang menyertainya juga diterangkan. Intinya segala macam hal yang berkaitan dengan Kota Kembang dijelaskan, dan dapat ditanyakan.

Saking seriusnya agar pesan-pesan pengenalan serba-serbi kota Bandung tersampaikan, Kang Ganis (salah seorang pemandu) bahkan ‘diperintahkan’ untuk menurunkan peserta tour yang tertidur di tengah perjalanan. Menurutnya Kang Emil pernah berpesan, “Jika mau tidur kenapa harus naik Bandros?” Para pemandupun merasa memiliki tanggung jawab bahwa mereka digaji untuk dapat bercerita semenarik mungkin sehingga tidak ada satu orangpun penumpang yang mengantuk. Maka jangan heran jika Anda naik Bandros, rata-rata para pemandunya semangat berkisah, banyak melawak, bermain teka-teki dengan peserta tour, bahkan bernyanyi ala lagu libur hari minggu naik Bandros istimewa duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja.

Pertama kali naik Bandros, kami naik di titik sisi timur Alun-alun Bandung. Di titik keberangkatan yang satu ini memiliki jumlah armada Bandros yang paling banyak, kalau tidak salah ada 6 enam Bandros senantiasa siap melayani dari jam 08.00 – 17.00. Dengan mengitari kawasan Alun-alun perjalananpun dimulai. Lintasan pertama adalah Jalan Bancey dan ABC. Di Bancey, penumpang dikisahkan mengenai cerita seputaran penjara Bancey. Bagaimana Soekarno ditahan kurang lebih selama 8 bulan sebelum disidangkan dan menyampaikan pledoi Indonesia menggugat, menjadi inti cerita Bancey.

Perihal Jalan ABC, rupanya merupakan kependekan dari Arab, Bumiputera, dan China. Ketiga etnis utama tersebut telah mendiami kawasan pusat perdagangan Bancey semenjak masa awal Kota Bandung berkembang. Kawasan sisi selatan jalur rel saat ini diistilahkan sebagai kawasan Bandung Selatan. Kawasan ini semenjak awal memang diperuntukkan untuk pusat bisnis dan perdagangan. Adapun sisi uatara alias wilayah Bandung Utara merupakan kawasan elit dimana para pejabat Hindia Belanda pada waktu itu bermukim.

Perjalananpun melintasi jalanan paling elit dan ikonik bagi Bandung. Braga merupakan simbol kehadiran sisi kehidupan bergaya eropa. Pabrik roti, tempat pembuatan es cream, hingga berbagai kedai ataupun caffe mewah hadir di kawasan ini.  Ada pula beberapa pusat perkantoran, seperti kantor perusahaan gas hingga kantor perusahaan beberapa perkebunan yang selepas era tenam paksa berjaya dengan komoditas kina, kopi dan teh. Di kawasan ini pula nadi kesenian Bandung menggeliat. Banyak seniman jalanan (pengamen) ataupun para pelukis kanfas mengekspresikan spirit seninya.

Jalur-jalur selanjutnya meliputi lingkar bawah jembetan rel kereta api, sisi taman dan kantor Walikota Bandung, Riau junction, ruas Jalan Dago, Jalan Diponegoro, hingga area Gedung Sate. Berada di depan Gedung Sate, pemandu kami mengisahkan sejarah rencana pemindahan ibu kota pemerintahan Hindia Belanda dari Bogor (Buitenzorg) ke Bandung berkenaan dengan ancaman serangan Inggris menjelang tahun 1810.

Yang paling unik sudah tentu perihal asal-usul nama gedung sate. Alih-alih banyak pedagang sate di seputaran gedung yang kini menjadi Kantor Dinas Gubernur Provinsi Jawa Barat ini, kita hanya disuguhkan sebuah lapangan terbuka di seberang jalannya. Gedung Sate tidak terlepas dari keberadaan enam buah jambu air yang ditusuk sebagaimana sate di puncak atap gedung. Enam jambu air tersebut konon menyimbolkan biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung calon kediaman gubernur jenderal kala itu, enam juta gulden.

Tepat di seberang Gedung Sate terhampar sebuah tanah lapang yang cukup luas. Selain berfungsi sebagai tempat upacara kedinasan, lapangan tersebut juga sering digunakan warga untuk berolah raga. Di setiap pagi ataupun petang, kita dapat menyaksikan ratusan warga yang berlari jogging, bermain bola, berlatih bela diri, hingga yang hanya sekedar duduk-duduk menikmati suasana lapangan yang dikenal sebagai Lapangan Gasibu. Gasibu sendiri rupanya merupakan kependekan dari Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara.

Bus Bandrospun lanjut melaju di depan Musium Geologi yang berseberangan dengan Taman Lansia. Kawasan Kodam Siliwangi, Taman Lalu Lintas, Jalan Tamblong, akhirnya bus melintasi Jalan Asia Afrika. Jalan ini merupakan jalan protokolnya kota Bandung. Banyak sekali situs sejarah yang bertebaran di sepanjang jalan. Hotel Preanger, titik nol kilo meter Bandung, Hotel Savoy Homann, hingga Musium Asia Afrika.

Selain gedung Asia Afrika yang menyejarah, tepat di sisi tepian Sungai Cikapundung rupanya banyak warga ataupun mobil yang tengah melintas menepi ke pinggir trotoar. Di sepanjang trotoar rupanya banyak penampakan alam gaib, ada hantu pocong, suster terbang, ratu kidul, hingga spongebob dan minion. Bukannya menakut-nakuti, perwujudan-perwujudan tersebut rupanya sedang ngamen.

Kurang lebih satu jam, kami diperjalankan keliling kota Bandung. Banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang didapatkan oleh setiap penumpang. Hanya dengan membayar tiket seharga Rp. 20.000,- kita bisa lebih mengenal Bandung. Selain start-finis dari Alun-alun Bandung, bus Bandros lain juga tersedia di Taman Badak depan Balaikota, juga di Taman Lansia seberang Musium Geologi. Belum pernah naik Bandros? Ah, rugi bener eta teh!

Ngisor Blimbing, 28 Juni 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s