Resah Gelisah Masalah Sekolah


Ilmu pengetahuan dan teknologi diyakini,  bahkan telah banyak terbukti, menjadi salah satu factor penunjang kesuksesan seseorang. Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu secara formal. Semakin tinggi jenjang Pendidikan seseorang, peluang teraihnya kehidupan masa depan yang lebih baik juga semakin terbuka. Tentu saja di luar teori mainstream ini ada pula jalan kesuksesan seseorang yang diraih dengan nasib baik atau keberuntunga. Namun bagaimanapun, kecakapan seseorang terkait dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki dapat dipandang sebagai sebuah ikhtiar manusia untuk “mengkondisikan” takdirnya.

Urusan mencari sekolah akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang cukup hangat, bahkan semakin memanas. Pemberlakuan penerimaaan peserta didik baru dengan sistem zonasi untuk sekolah negeri menjadi biang keroknya. Belum meratanya keberadaan suatu sekolah di berbagai daerah menjadi faktor utama kekisruhan system zonasi. Sistem tersebut seolah menafikan keberadaan anak-anak pintar yang kurang beruntung karena tinggal di daerah yang kemana-mana jauh dari sekolahan.

Berbicara mengenai lika-liku perjuangan mendapatkan suatu sekolah yang diinginkan atau menjadi keinginan anak-anak, jaman saya meneruskan jenjang Pendidikan di tangkat SMP ataupun SMA lebih dari 25 tahun yang lalu tidak serumit system zonasi yang kini berlaku. Siapapun anak di seantero negeri ini secara prinsip tidak dilarang untuk bersekolah di wilayah manapun di republik ini. Hal tersebut tentu selaras dengan jaminan Undang-undang Dasar 1945 bahwa setiap tumpah darah Indonesia berhak atas pendidikan yang layak.

Saya jujur menjadi terngiang pada saat mencari sekolah lanjutan tatkala lulus SMP sekitar 26 tahun silam. Saya merupakan anak dusun, anak gunung yang tinggal di pelosok lereng Gunung Merapi. Nasib mentakdirkan saya lulus dari sebuah sekolah yang cukup favorit di kota Muntilan. Dengan nilai hasil Ebtanas rerata di angka 8, membumbungkan harapan untuk memilih sekolah yang terbaik.

Bagaimanapun di benak masyarakat Indonesia, Yogyakarta adalah kota pelajar sekaligus kota pendidikan. Salah seorang kerabat simbah biyung, alias nenek, yang pensiunan guru di salah satu SMA ternama di Jogja, saya disarankan untuk melanjutkan sekolah ke kota pelajar. Dengan kualitas mutu pendidikan yang lebih baik, dengan sekolah SMA di Jogja harapannya akan lebih membuka peluang untuk kelak melanjutkan jenjang kuliah di kampus yang ternama.

Dorongan untuk melanjutkan sekolah di sekolah negeri tentu terutama karena keterbatasan biaya. Kami adalah sebuah keluarga besar dengan enam bersaudara.   Tentu saja orang tua kami tidak bias leluasa menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta yang notabene lebih mahal biaya sekolahnya. Akhirnya saya mendaftar di SMA 4 Jogjakarta. Sebuah sekolah di provinsi tetangga yang berjarak 30an km dari tempat tinggal kami.

Salah satu persyaratan administrasi yang harus kami kantongi untuk mendaftar sekolah di wilayah DIY adalah surat rekomendasi dari Kepada Dinas Pendidikan tingkat Kabupaten Magelang. Ada sebuah kelucuan dan ketidaklaziman yang saya alami pada saat mengajukan surat rekomendasi tersebut. Ketika mengisikan alasan kenapa memilih sekolah di Jogja, saya menuliskan untuk mencari sekolah dengan mutu Pendidikan yang lebih baik.

Dengan alasan tersebut di atas, saya justru tidak diperkenankan. Menurut petugas jika mencari sekolah dengan tingkat mutu pendidikan yang lebih tinggi, Magelang telah memiliki SMA Taruna Nusantara. Waktu itu memang SMA TN sudah dua-tiga tahun berjalan. Sayapun diminta mengganti alasan, dengan alasan yang lebih masuk akal nan logis. Akhirnya dengan penuh kenekatan, saya koreksi alasannya menjadi ingin mencari sekolah yang “terdekat”. Dengan alasan ini justru saya diperkenankan, dan surat rekomendasi dengan tanda-tangan “batikan bunga mawar” dari Kadinas Pendidikan Kab Magelang saya dapatkan.

Tidak usah terlalu canggih dengan system zonasi yang katanya ingin mendekatkan anak dengan sekolahnya, ternyata saya sudah sangat visioner untuk mencari sekolahan terdekat lebih dari 25 tahun silam. Sayang seribu sayang, kini dua puluh lima tahun berselang, keberadaan sekolah-sekolah negeri lanjutan, baik di tingkat SMP dan SMA di wilayah kampung halaman kami belum bertambah. Dari sisi ini, sistem zonasi memiliki puncak kelemahan yang tidak sederhana impak dan akibatnya di tingkat lapangan. Andaikata di waktu itu system zonasi yang edan-edan sebagaimana saat ini sudah diberlakukan, tentu saya tidak akan mengenyam sekolah SMA di kota pendidikan.

Endonesyah! Endonesyah! Gegernya nggak sudah-sudah.

MH Thamrin, 21 Juni 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s