Lebaran Yang Tak Lebar-Lebar


Lebaran memang lebar betul. Karena dimensi lebar betul itu, lebaran menjadi memiliki makna yang luas. Saking luasnya, jika semakin digali dan terus digali maknanya maka lebaran menjadi tak lebar-lebar, tak berkesudahan. Barangkali karena urusan rutin tahunan yang satu inilah, kami sempat vakum dari dunia online di blog ini. Setidaknya dua minggu lebih kami lebih mendalami makna lebaran pada tataran offline.

Lebaran bagi warga kampung seperti kami, paling identic dengan tradisi ujung. Ujung adalah istilah silaturahmi di Hari Lebaran, khususnya di daerah selingkaran Magelang Raya. Di Hari Lebaran itu kami benar-benar saling membuka hati lebar-lebar. Satu sama lain saling berendah hati untuk meminta maaf dan memberi maaf, saling maaf-memaafkan. Wabil khusus pada kesempatan tersebut yang muda lebih diutamakan untuk sowan, menghadap kepada yang lebih tua. Kepada orang tua, mertua, simbah kakek-nenek, simbah buyut, mbah canggah, bahkan kepada pakde, bude, paklik, bulik, juga guru-guru atau siapapun yang kita tuakan.

Bagi yang masih telaten untuk ujung tersebut, waktu untuk berkunjung selama 4-5 hari masih dirasa kurang hari. Tidak kurang 20-25 rumah kami kunjungi per hari di setiap kesempatan ujung. Semua keluarga atau rumah yang masih memiliki kaitan saudara dengan kami berusaha kami kunjungi dengan merata. Tidak ada pembedaan strata dalam tradisi ujung. Saudara yang kaya, yang miskin, yang berpangkat, yang petani, yang buruh, yang bakul, yang berlantai marmer atau keramik, yang berlantai tanah, semua kami sambangi. Lebaran dengan tradisi ujungnya adalah kesempatan untuk senantiasa memperbarui, menyegarkan kembali, menyambung lebih erat lagi tali persaudaraan. Dalam kesempatan lain tentu tali silaturahmi tersebut senantiasa kami pelihara, namun dalam kesempatan dan momentum lebaran tali tersebut lebih kami kuatkan lagi.

Sedikit catatan kesibukan berlebaran kami tahun ini dengan saling berkunjung kepada sanak-saudara dan handai-taulan.

Hari pertama lebaran: tetangga dan handai taulan sekampung (42 rumah), kerabat Dusun Mangunan (8 rumah). Hari ke-2 lebaran: Dusun Nglarangan (1 rumah), Dusun Gowok (1 rumah), Dusun Nglempong (2 rumah), Dusun Tompen (2 rumah), Dusun Ngampel (2 rumah), Dusun Pule (1 rumah), Dusun Kaliwungu (1 rumah), Dusun Ngablak (1 rumah), dan Dusun Grogolan (1 rumah). Hari ke-3 lebaran: Kampung Peniten (5 rumah), Dusun Pirikan (1 rumah), Dusung Tanggulangin (1 rumah), Dusun Giri (2 rumah), Dusun Tepis (1 rumah), Dusun Gedono (1 rumah), dan Dusun Ngampon (1 rumah). Hari ke-4 lebaran: Dusun Tlatar (1 rumah), Dusun Citrogaten (2 rumah), Dusun Losari (1 rumah), Dusun Waru (1 rumah), Dusun Ngaglik (1 rumah), Dusun Cawakan (2 rumah), Dusun Tonalan (1 rumah), Dusun Bringin Wetan (4 rumah), Dusun Mandungan (3 rumah), dan Dusun Sikepan (1 rumah). Hari lebaran-5: Dusun Karanglo (2 rumah), Dusun Kedon (2 rumah), Dusun Songgengan (1 rumah), Dusun Barisan (1 rumah), Dusun Geblok (5 rumah), Dusun Gondangan (2 rumah), Dusun Papringan (2 rumah), Dusun Berokan (1 rumah), dan Dusun Kamongan (1 rumah). Hari lebaran ke-6: Dusun Sawitan (1 rumah), Dusun Nglerep (1 rumah), Dusun Dipan (5 rumah), Dusun Curah (1 rumah), dan Dusun Dukuh (1 rumah).  Hari lebaran ke-7: Dusun Ngasem (1 rumah), Dusun Bobosan (2 rumah), Dusun Medangan (1 rumah), Dusun Gesikan (1 rumah), Dusun Jagalan (1 rumah), dan Dusun Tamanagung (2 rumah). Hari lebaran ke-8: Dusun Mantran Wetan (1 rumah). Total jenderal selama 8 hari, kami keliling mengunjungi 127 rumah kerabat kami. Alhamdulillah.

Dengan mengunjungi sebanyak kerabat kami tersebut, tentu lebaran memiliki makna yang sangat mendalam bagi kami dan keluarga. Lebaran menjadi wahana untuk saling bertegur sapa, saling berjumpa, saling berkunjung, saling bermaafan. Di hari-hari yang lain mungkin kami sibuk dengan kerja atau aktivitas masing-masing. Di masa lebaran kita benar-benar mengkhususkan hari untuk silaturahmi. Bukankah silaturahmi menjadikan kita diberi umur panjang? Bukankah dengan silaturahmi kita dilapangkan pintu rejeki? Bukankah dengan silaturahmi kita senantiasa diberi kemudahan dan pertolongan Tuhan dengan berbagai cara yang tidak pernah terduga? So, bagaimana dengan silaturahmi lebaran sedulur semua? Semoga kita masih senantiasa diberi kekuatan untuk mengabadikan silaturahmi lebaran.

Ngisor Blimbing, 17 Juni 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s