Mudik, Bali Ndesa Nglebur Dosa


Idhul Fitri serasa baru berlalu kemarin hari. Hari-hari ini tak terasa kita akan segera menjumpai kembali Hari Raya Idhul Fitri di tahun ini. Dunia memang sebuah cakra manggilingan, roda waktu yang senantiasa bergulir, berputar, menapaki sebuah siklus kehidupan dari sebuah penggalan periode waktu menuju ke penggalan periode waktu yang lain. Kemarin berganti hari ini. Hari ini akan berganti hari esok. Hari esokpun akan berganti dengan lusa, demikian seterusnya. Begitulah suratan takdir dan sunatullah-Nya.

Ramadhan adalah bulan suci dimana manusia membersihkan diri dari segala noda dan dosa. Hari-hari ummat muslim di bulan tersebut senantiasa diwarnai berbagai aktivitas amalan ibadah. Puasa sudah pasti menjadi inti ibadah di bulan Ramadhan. Di luar amalan wajib tersebut terdapat banyak sekali amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan. Mulai dari sholat tarawih atau qiyamul lail, tadarus Al Qur’an, dzikir, i’tiqaf, hingga memperbanyak infaq, sedekah dan amal jariyah, serta zakat. Meskipun pada umumnya setiap amalan ibadah memiliki dimensi kepedulian sosial kepada sesama hidup, akan tetapi ada pula ibadah yang lebih bersifat privat antara seorang abdillah, hamba Allah, dengan Allah SWT sendiri. Dengan kata lain, amalan ibadah yang dilakukan lebih berdimensi hablum minnallah. Antara seorang hamba dengan khalik-Nya.

Di samping dimensi kemakhlukan manusia terhadap Allah SWT, manusia sesungguhnya juga eksis berdampingan dengan manusia lain di dunia. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa terlepas dari peranan dan bantuan manusia lain dalam menjalani aktivitas kehidupannya. Dalam berinteraksi antar sesama manusia tersebut, tentu saja manusia senantiasa bersanding dengan kesalahan, kealpaan, dan kekhilafan. Selain menabur kebajikan dan kebaikan, manusia juga acap kali menanam noda dan dosa terhadap sesamanya, baik secara sengaja maupun karena sebuah kekhilafan.

Dalam rangka merayakan kemenangan fitri setelah sebulan penuh melebur dosa masing-masing terhadap Tuhan Yang Maha Esa, manusia juga harus melebur dosa atas pikiran, perkataan, dan perbuatan yang telah melukai manusia yang lain di sekitarnya, baik kedua orang tua, kakek-nenek, hingga buyut dan nenek moyang, termasuk saudara, tetangga beserta sesama manusia secara lebih luas. Sikap inilah yang meneguhkan keutamaan hablum minnanas.

Ummat Islam, sebagai makhluk yang utuh, diajarkan untuk menyeimbangkan dimensi hablum minnallah dan hablum minannas. Keduanya sama-sama penting, saling melengkapi dan saling tidak terpisahkan satu sama lain. Kesempurnaan manusia sebagai titah yang mengemban misi kalifatullah fil ardzi adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang selanjutnya berbuah sebagai akhlakul karimah yang memberikan kemanfaatan bagi sesama di dunia.

Saling bermaafan terhadap sesama manusia sesungguhnya dapat dilakukan kapanpun, dimanapun dan dengan cara apapun. Alangkah lebih baik apabila setiap kesalahan dan kekhilafan terhadap orang lain langsung disusul dengan permohonan maaf. Dengan cara demikian kita tidak akan memikul beban dosa yang berat dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, berkaitan dengan pelaksanaan amalan ibadah di bulan Ramadhan sebagai pelebur dosa seorang hamba kepada Allah SWT, maka tentu saja lebih lengkap jika juga disertai dengan permohonan maaf atas kesalahan kepada sesama manusia. Hal inilah yang kemudian di negara kita melahirkan tradisi lebaran.

Inti lebaran adalah saling memaafkan diantara sesama. Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, tentu juga lain ikannya. Desa mawa cara, negara mawa tata. Tradisi lebaran di masing-masing daerah tentu saja sangat beragam, meskipun inti atau maksud tujuannya kurang lebih sama. Ada yang disebut syawalan, ujung, ba’da, badan, dan lain sebagainya.

Adalah sebuah kenyataan hidup bahwa manusia Indonesia di jaman globalisasi ini semakin tersebar di berbagai penjuru tanah air. Ketersediaan lapangan pekerjaan, kesempatan penghidupan, tugas, kewajiban, ataupun pendidikan seringkali menjadikan seseorang harus meninggalkan kampung halaman dan menjadi perantau di daerah lain. Keterpisahan seseorang dengan sanak saudara semestinya tidak menjadikan alasan terputusnya tali silaturahmi dan persaudaraan. Meskipun teknologi komunikasi dewasa ini telah memungkinkan untuk terus bersilaturahmi jarak jauh, tetapi sesekali kita memerlukan bertatap muka dengan sanak saudara, kerabat, maupun teman-teman kita. Maka di tengah kesibukan rutinitas masing-masing, kita memerlukan momentum waktu khusus untuk dapat rehat sejenak, saling bertemu dalam tradisi lebaran. Hal inilah yang menjadikan momentum lebaran sebagai waktu para perantau untuk mudik, kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Betapa hari-hari menjelang maupun setelah lebaran, jalanan raya hampir di seluruh pelosok negeri dipadati dengan para pemudik yang menuju ke kampung halamannya maupun saling kunjung-mengunjungi sanak kerabatnya. Mudik seolah telah menjadi kesepakatan bersama anak bangsa yang kemudian kokoh sebagai sebuah tradisi ritual tahunan di negeri ini. Secara makro tentu saja tidak sedikit sumber daya kita, baik uang, tenaga, maupun waktu yang diperlukan untuk mudik ini. Bayangkan berapa banyak arus manusia yang memerlukan sarana angkutan, logistik, pengamanan, perbaikan sarana transportasi, dan segala kelengkapannya. Tentu banyak sekali keuangan kita yang diperlukan untuk ongkos mudik dan lebaran.

Mudik lebaran bisa saja diartikan bali ndesa nglebur dosa. Kembali ke kampung halaman untuk melebur dosa. Mudik juga menjadi sarana ngumpulke balung pisah, mempertautkan kembali tali kekerabatan yang terpisah ruang dan waktu untuk sekian bulan lamanya. Segala jerih payah dan pengorbanan untuk itu harus dimaknai sebagai ongkos sosial dalam rangka mempererat silaturahmi, persaudaraan, dan kekerabatan yang mendukung terwujudkan persatuan dan kesatuan semua anak bangsa Indonesia. Mudik dan tradisi lebaran harus ditransformasikan dalam dimensi vertikal dan horizontal, hablum minallah wa hablum minannas, untuk kemaslahatan kehidupan yang lebih abadi, di dunia hingga akhirat kelak.

Ngisor Blimbing, 28 Juli 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s