Sosok Kuncung Marincung di Film Aladin


 Arabian night alias kehidupan malamnya dunia Arab. Bukan kehidupan malam tanda kutip lho ya. Lebih tepatnya the arabian night is imagination story from Arabic. Semacam seribu satu dongeng anak ala Timur Tengah. Dan sudah pasti diantara kisah dongeng yang tersohor dari tanah Arab, ya Jin Aladdin.

Jin Aladdin. Saya sendiri semenjak kecil seringkali salah kaprah. Jin yang hidup ribuan tahun di dalam sebuah lampu ajaib, saya kira namanya Jin Aladdin. Justru Jin Aladdin merupakan dua sosok perwujudan yang tak sama. Jin ya si jin itu sendiri. Sedangkan Aladdin justru nama seorang pemuda gelandangan yang mendapatkan lampu ajaib dan kemudian menjadi tuan dari si Jin Timur Tengah.

Begitu gencarnya iklan akan tayangnya film Aladdin the movie di layer kaca, e lha kok si Noni menjadi sangat penasaran bahkan gandrung untuk menontonnya di bioskop kampung sebelah. Maka di tengah siang hari pekan terakhir bulan puasa, daripada klengkar-klengkur bin nglindhur siang, ya kami turutilah kemauan si Noni. Bagaimanapun jika si Bungsu ini sudah bertitah, seisi rumah tidak ada pilihan lain kecuali sendhiko dhawuh bin sami’na wa atho’na.

Meskipun pernah didongeni dari kisah Jin Timur tengah melalui buku cerita maupun melihat versi film kartun, si Noni rupanya tidak begitu ngeh dengan sosok jin temannya Aladdin. Dari penampilan Jin Timur Tengah di berbagai gambar dan pamphlet, si Noni selalu terkesan dengan kebotakan kepala si Jin. Satu lagi soal kuncung di kepala botak itu. Tak heran jika kemudian yang muncul di benak si Noni adalah sosok yang dijulukinya  sebagai si Kuncung Marincung.

Oke, terang sudah bahwa si Kuncung Marincung adalah sosok jin temannya Aladdin. Ternyata pertanyaan dan pernyataan lain si Nonipun bersambung. Melihat ketangkasan, ketrengginasan dan keprigelan, juga kesaktian jin dalam mewujudkan setiap permohonan yang diajukan tuannya, ia langsung menyamakannya dengan kehidupan yang serba mudah ala surge.

“Njaluk apel langsung di tangan. Ganti baju tinggal muter-muter. Mau jadi pangeran tinggal set-set-set. Lha kok seperti di surga sih Pak?” Noni bertanya sekaligus menyimpulkan. 

“Di surge nanti aku pingin Timezone. Pingin main salju ke Rusia. Emang bisa ya Pak, ” lanjut si Noni semakin semangat.

“Ntar di surga bisa minta ke Timezone kapanpun. Tinggal ngangguk-angguk sampai. Gratis! Nggak perlu bayar. Mau ke Rusia juga mudah. Nggak usah pakai pesawat. Nggak usah pakai tiket. Main main sama Caca, sama beruang gampang. Semua gratis. Semua mudah,” saya turut menyemangati.

Jadilah dari ketemu sosok si Kuncung Marincung itu si Noni jadi bertekad malamnya untuk ikut sholat tarawih penuh. Untuk latihan puasa lebih lama lagi. Amazing. It’s like real amazing magic from Arbian night to my daughter.

Ngisor Blimbing, 29 Mei 2019.

Foto dipinjam dari sini.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s