Perempatan Sarinah Nan Bersejarah


Menjejaki tepi jalanan di perempatan Sarinah, tak salah jika membayangkan perempatan yang sama di Ginza, Tokyo. Sama berada di pusat ibukota negara. Sama-sama berada di kawasan bisnis dan pusat perbelanjaan yang siang malam tak pernah tidur. Sebuah titik perempatan dengan silang penyeberangan pejalan kaki yang sungguh sangat sibuk. Kini penyeberangan zebra cross hitam putih, putih hitam itu lebih trend disebut sebagai pelican crossing.

Perempatan Sarinah dengan sudut-sudut Menara Sarinah, Menara Cakrawala, Gedung Jaya, dan Gedung Bawaslu, bukanlah tempat asing bagi kami.  Dulu, sekitar enam belas tahun silam ketika pertama kali merantau ke belantara ibukota Jakarta, tidak jauh dari titik perempatan itulah kantor berada. Demikian hal dengan tempat tinggal sebagai “kontraktor” di Ndalem Bu Ageng Kebun Kacang II juga masih di seputaran perempatan Sarinah. Jadilah dapat dikatakan setiap hari senantiasa lalu-lalang di simpul tersebut.

Adalah hanya sekedar sebuah kebetulan di kala pekan lalu pada suatu sore kami wira-wiri juga di seputaran perempatan Sarinah. Memang semenjak beberapa minggu pasca Pemilu April lalu setiap hari ada demonstrasi masa di depan Kantor Bawaslu, sudut barat dari perempatan Sarinah. Persoalan ketidakpuasan atas pelaksanaan pesta rakyat bulan lalu senantiasa diteriakkan sebagai isu aspirasi massa tersebut. Demikian halnya di siang jelang sore hingga petang di hari saat kami melintas, demontrasipun masih berlangsung. Demo yang tertib, tidak kisruh, tidak chaos, dan tentunya damai.

Beberapa hari berselang, ternyata demo itu memuncak sebagai kejadian kekisruhan yang menganggu kemanan ibukota. Tidak hanya fasilitas umum dan beberapa aset miliki warga sekitar yang rusak menjadi sasaran massa tak bertanggung jawab, beberapa nyawa juga melayang menjadi korban.

Atas kejadian di Rabu kelabu 22 Mei itu tentu kita semua turut prihatin. Semoga keadaan dan keamanan segera pulih kembali. Pihak-pihak yang memicu maupun melakukan tindak kerusuhan segera dapat diproses hukum dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Sebagai bagian dari warga masyarakat awam tentu kita semua senantiasa berharap negeri kita semakin beradap. Kita harus bersikap lebih dewasa sebagai anak bangsa. Kepentingan nasional kita tempatkan kembali di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Sarinah dengan perempatannya menjadi saksi sejarah perjalanan demokrasi kita. Sarinah, kenapa baru terbertik kenapa dinamakan Sarinah ya? Sarinah ayu, awake lemu….Kalau ini sepertinya tembangnya Budhe Waljinah ya?

Ngisor Blimbing, 26 Mei 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s