Halte Unik, Halte Ramah Anak dengan Ayunan nan Asyik


Halte merupakan sarana pemberhentian kendaraan umum. Keberadaan halte tentu saja dalam rangka ketertiban lalu lintas agar kendaraan umum seperti angkot atau bus tidak berhenti secara sembarangan. Dengan adanya halte, kendaraan umum tidak menaikkan dan menurunkan penumpang seenak udelnya sendiri. Demikian halnya dengan para calon penumpang kendaran tersebut tidak menyetop kendaraan umum di sembarang tempat yang bisa berujung mengganggu kelancaran lalu lintas atau kemacetan.

Meningkatnya jumlah kendaraan pribadi menjadikan tingkat kepadatan lalu lintas semakin tinggi. Tidak di kota besar, di kota kecilpun saat ini sudah menjadi kelaziman adanya kemacetan lalu lintas di jalur-jalur utama, terutama pada jam-jam sibuk. Di sisi lain keberadaan angkutan atau kendaraan umum kini justru semakin terpinggirkan. Persentase warga masyarakat yang masih mau mengguna sarana transportasi umum dari hari ke hari semakin berkurang. Hal ini menyebabkan kompleksitas penguraian masalah kemacetan lalu lintas menjadi semakin jauh panggang daripada api.

Pemerintah daerah melalui dinas dan pihak terkait senantiasi mendorong masyarakat untuk kembali mau menggunakan sarana transportasi umum. Salah satu sarana pendukung yang mendapat perhatian untuk dibenahi adalah sarana halte bus. Hal ini dilakukan di banyak kota. Untuk tujuan tersebut, Pemerintah Kota Bandung memiliki kiat unik untuk menarik kembali masyarakat untuk kembali berkendaraan umum, terkhusus lagi naik dan berhenti di halte yang telah disediakan.

Adalah sebuah halte di Jalan Tamansari Bandung memiliki keunikan tersendiri. Keberadaan halte di pintu keluar Kebun Binatang Bandung yang bersebelahan dengan BATAN Bandung maupun Kampus ITB, memungkinkan halte ini menjadi akses naik turun penumpang dari dan ke bonbin, BATAN, ataupun kampus ITB. Meskipun pada kenyataannya pengguna angkot yang naik dan turun dari halte tersebut senantiasa nampak sepi, namun upaya pemerintah setempat untuk melengkapi halte yang ada dengan fasilitas permainan anak berupa ayunan anak-anak patut diapresiasi.

Halte bus dengan ayunan anak-anak baru saya temukan kali ini. Di tempat lain yang namaya halte bus yang merupakan fasilitas umum justru seringkali digunakan oleh oknum pedagang kaki lima untuk mangkal. Selain semakin terasa sempit, keberadaan pangkalan pedagang di halte juga seringkali membuat kebersihan terabaikan. Hal lain yang dirasakan masyarakat adalah ketidaknyamanan, bahkan gangguan atau ancaman keamanan.

Mungkin dengan asumsi, para penumpang angkutan umum yang naik dan turun di halte Taman Sari tersebut akan didominasi para keluarga yang mengajak anak-anak untuk berkunjung ke Kebun Binatang Bandung,  maka sangat dimungkinkan di halte akan banyak anak-anak juga. Terutama pada saat menunggu angkutan umum tiba, daripada bengong anak-anak dapat menikmati ayunan yang ada. Ibarat kata sambil berayun-ayun, angkutan yang dinantipun tiba.

Tentu niat baik dan inisitif keberadaan wahana permainan ayunan anak di halte yang tengah kita bahas ini adalah sesuatu yang positif. Hanya saja dalam kenyataannya, rancangan halte unik yang ramah anak tersebut belum serta-merta meningkatkan jumlah pengguna halte yang akan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah warga yang mau berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Pada saat kami selesai mengunjungi Kebun Binatang Bandung dan keluar di pintu sisi utara, kamipun menunggu kendaraan di halte tersebut. Sekian lama, antara 10-15 menit, tidak ada keuarga ataupun penumpang lain yang juga menunggu angkutan kota sebagaimana kami. Walhasil, ayunan anak yang hanya ada satu dan satu-satunya tersebut dikuasai sepenuhnya untuk bermain anak-anak kami.

Yuk, kembali kita ajak anak-anak untuk cinta kendaraan umum. Selain mengurangi kemacetan, kesadaran warga untuk kembali menggunakan kendaraan umum akan menghemat konsumsi bahan bakar minyak dan juga turut mengurangi tingkat polusi yang berasal dari kendaraan kita. Semakin sering kita berkendara umu, tentu akan semakin baik. Tentu kesadaran ini harus kita tanamkan dengan sungguh-sungguh dan dengan contoh perilaku dari orang tua. Sekecil apapun kontribusi setiap warga dalam hal ini akan sangat bermanfaat untuk masa depan kota, masa depan lalu lintas kita yang lebih baik, tertib, teratur, dan ramah lingkungan.

Ngisor Blimbing, 19 Mei 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s