Kuda Besi Kuda Rejeki Sepanjang Hari


Kuda merupakan binatang kendara yang sangat dekat dengan manusia. Semenjak jaman baheula, kuda sudah menjadi sarana transportasi yang handal. Hewan perkasa ini tidak minum bensin ataupun solar, ia hanya minum air murni. Demikianpun soal makanan, ia hanya membutuhkan rumput hijau nan segar. Namun demikian kuda menjadi simbol kekuatan, keperkasaan, kejantanan. Bahkan peralatan mesin modernpun dinyatakan kekuatan dalam satuan kekuatan kuda ( horse power). Tentu kita kemudian menjadi sangat maklum kenapa sepeda motorpun disebut sebagai kuda besi.

Selain sebagai tunggangan langsung, bagi anak-anak, kuda mungkin identik dengan andong, delman, saldo, bendi, atau istilah yang serupa di banyak daerah. Di masa sekolah kanak-kanak mungkin sebagian besar diantara kita sangat menghayati lagu pada hari minggu kuturut ayah ke kota. Imajinasi seorang dibawa berkembara bersama keluarga naik delman istimewa. Digambarkan pula bagaimana asyiknya duduk di depan di samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya. Tuk, tik, tak, tik, tukpun terdengar mengirama indah di hati.

Konon di jaman sebelum kemerdekaan, hampir di setiap desa di tanah Jawa ini banyak warga yang masih memiliki dan memelihara kuda. Mbah Kakung saya sendiri, sering dikisahkan oleh Mbah Biyung ataupun Mak’e sebagai seorang prabot yang kemana-mana berkendara kuda. Tiga-empat orang anak angkatnya bahkan secara khusus bertugas untuk menyabit rumput untuk beberada ekor kudanya tadi. Sayang seribu sayang, saya hanya bisa terngiang dan terkenang dari cerita yang konon katanya. Mbah Kakung meninggal tatkala saya masih bayi merah berumur selapan hari.

Kembali ke soal kuda dan kuda besi. Kini kuda sebagai penarik delman atau andong semakin langka. Pak Eko, seorang tetangga kampung yang dulu memiliki andongpun kini telah meninggal. Tak ada satupun keluarga yang meneruskannya menjadi kusir andong. Maka kuda dan andongnya Pak Ekopun hanya tinggal cerita lama. Demikian halnya dengan para kusir andong yang lain. Tidak ada regenerasi, tidak ada penerus. Andong semakin tergerus deru derap jaman. Kini hanya di pinggiran kota-kota tertentu, andong bin saldo masih terseok-seok membawa penumpang ibu-ibu tua yang pulag dari pasar. Tak banyak lagi anak-anak dan keluarga muda yang sengaja keliling kota naik andong di hari minggu yang istimewa. Kuda telah telak kalah bersaing dengan kuda besi!

Bagaimanapun kalah bersaing dengan kuda besi, kuda beneran telah menjelma menjadi legenda. Perkenalan melalui lagu naik delman istimewa tetap abadi. Di benak para bocah akan senantiasa menemukan sensasi tersendiri ketika bersama keluarga naik kuda, naik andong. Namun demikian memelihara seekor kuda di tengah kota yang tidak lagi menyisakan padang rumput yang menghijau mungkin menjadi sebuah ironi yang semakin kuat menggusur kuda di perkotaan. Kuda-kuda itupun sebagaian besar telah berganti atau diganti dengan kuda besi sebagai kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewa sebagaimana ojek.

Kenangan manusia, khususnya anak-anak, akan kuda yang senantiasa hidup seolah menjadi oase di tengah padang tandusnya kota yang semakin semrawut. Kenangan dan nostalgia tentang kuda dan andong ternyata telah memercikkan sebuah ide dan peluang untuk menambang uang.

Ini mungkin baru satu-satunya, setidaknya yang saya ketahui dengan mata kepala sendiri. Sebuah kuda besi bergerobak ditarik oleh sebuah perwujudan kuda. Kuda “jadi-jadian” itupun membawa penumpang keliling kota. Kuda besi yang satu ini benar-benar memiliki kepada kuda yang manggut-manggut berirama tatkala gerobaknya melaju di jalan raya.

Kreativitas menangkap peluang. Demikian barangkali predikat cermat dan cerdas yang bisa kita sandangkan dari salah seorang warga Kota Bandung yang satu ini. Di setiap siang hingga menjelang petang, ia dengan motor tosa berpenampakan gerobak kuda senantiasa mondar-mandir di seputaran alun-alun kota. Rupanya yang unik, goyangnya yang tenang, anggukan kepalanya yang riang tentu senantiasa mengundang ketertarikan bagi siapapun yang baru pertama kali melihatnya. Maka berbondong-bondonglah orang antri di halte bus tetapi bukan untuk naik bus karena mereka antri untuk naik sang kuda besi istimewa.

Berbeda dengan andong beneran yang ditarik kuda dan dikendalikan seorang kusir, andong kuda besi yang satu ini harus dikendalikan oleh dua orang “kusir” sekaligus. Satu orang duduk di depan untuk mengendalikan kemudi. Satu orang lagi sebagai asisten yang duduk di sisi samping agak ke belakang. Tugas asistem kusir ini adalah menarik tali kendali kuda besi, sehingga sang kepada kuda benar-benar bisa mengangguk-angguk secara ritmis dan dinamis. Sebuah kolaborasi kerja nan apik antara suami dan istri terlihat sangat kompak dalam mengikhtiari rejeki di sepanjang hari. Dari kuda besi kuda pembawa rejeki sepanjang hari inilah, kedua suami istri tersebut dapat melangsungkan ekonomi rumah tangganya.

Di hari-hari Ramadhan hingga nanti di masa Lebaran merupakan waktu emas untuk mengisi pundi-pundi bagi si kusir kuda andong besi di Bandung ini. Kongkow bin santai ngabuburit di area Alun-alun Bandung akan terasalebih syahdu dan sensasional jika berkesempatan sebentar untuk naik andong unik yang satu ini. Sebuah hiburan yang murah meriah bagi keluarga. Ah, sayang seribu sayang, pada saat kami menyambangi Alun-alun Bandung kami tidak berkesempatan untuk mencoba naik kuda besi nan istimewa tersebut. Semoga di lain hari di lain waktu masih berkesempatan untuk menaikinya. Salam.

Ngisor Blimbing, 17 Mei 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s