Menikmati Masjid Agung Bandung


Hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup juga merupakan suatu pengelanaan. Dalam sebuah perjalanan pengelanaan, kita mendapatkan banyak pengalaman. Mengenal sebuah tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, mengetahui tradisi dan adat-istiadat masyarakat setempat, dan lain sebagainya.

Salah satu ikon sebuah kota yang menjadi menu wajib untuk kami kunjungi pada saat bertandang ke sebuah kota, wilayah, atau daerah, adalah masjid. Bagi ummat muslim, masjid tidak hanya sekedar menjadi tempat ibadah. Masjid adalah pusat hidup manusia muslim. Dari tempat mulia inilah semestinya setiap pribadi muslim meletakkan pondasi nurani yang selanjutnya menjadi alas bagi pola pikir, sikap, dan tindakan atau perilakunya sehari-hari. Bagaimana dengan Bandung?

Bandung, sebagaimana wilayah lain di tanah air, merupakan kota dengan warga yang sebagian besar memeluk agama Islam. Meskipun dari sisi sejarah, Bandung lebih dikenal berdekatan dengan Kerajaan Padjajaran yang bercorak Hindu, namun faktanya Kota Kembang ini memiliki simbol-simbol ataupun ikon bercorak keislaman yang tak terhitung. Salah satu ikon Islamnya Kota Bandung ya Masjid Agung Kota Bandung.

Sungguh berbeda dengan gaya arsitektur masjid-masjid agung yang ada di Pulau Jawa, arsitektur Masjid Agung Bandung saat kini nampak jauh lebih modern dibandingkan masjid agung lain. Alih-alih kental dengan gaya arsitektur bangunan khas Sunda atau Parahyangan, Masjid Agung Bandung lebih mengadopsi gaya bangunan masjid di wilayah Timur Tengah. Namun demikian, jika dirunut dari kesejarahan bangunan arsitekturnya di masa lalu, sedikit banyak masjid ini juga menampilkan pola bangunan bersusun atau tumpang tiga sebagai simbolisasi islam, iman, dan ikhsan sebagaimana masjid agung di kota lain.

Masjid Agung Bandung bercorak bangunan kotak dengan dua kubah setengah lingkaran berwarna kuning emas pada kedua sisi kanan-kiri yang mengapit kubah Utama di puncaknya. Ciri khas lain yang sangat menonjol dari bangunan masjid ini adalah keberadaan dua menara yang menjulang tinggi di sisi utara dan selatan. Menara tersebut memiliki tinggi 81 meter. Uniknya lagi, pengunjung dapat naik ke atas puncak Menara dengan naik sebuah lift. Untuk setiap pengunjung hanya dikenakan tiket Rp 3.000,-.  Dari puncak menara inilah hamparan dataran kota Bandung yang indah nan menakjubkan berlatar Gunung Tangkuban Perahu di utara dapat dinikmati. Keindahan kota Bandung akan semakin sempurna di kala senja yang cerah dimana matahari yang perlahan pulang ke peraduannya menyajikan sinar keemasan yang membalut langit indah Kota Kembang. Masjid Agung Bandung yang kini memiliki ukuran luas bangunan lebih dari 23 ribu meter persegi ini mampu menampung hingga 10.000 jamaah.

Masjid adalah tempat berkumpulnya ummat Islam. Sedikitnya lima kali dalam sehari Masjid Agung Bandung menjadi tempat ummat Islam menunaikan kewajiban sholat fardlunya. Berbagai majlis taklim dengan berbagai bidang kajian juga dilangsungkan di masjid ini. Ada kajian hadist, kajian fikih, kajian kitab kuning, kajian amaliah harian, bahkan kajian seni dan tradisi Islam. Dapat diumpamakan setiap hari dalam satu minggu senantiasa ada acara rutin keagamaan yang dilangsungkan.

Masjid Agung Kota Bandung berada tepat di jantung Kota Bandung. Ia berada di sisi ujung barat Jalan Asia Afrika yang merupakan jalur protokolnya kota berjuluk Paris van Java ini. Secara tata kota, Bandung memang berbeda dengan kota-kota di Jawa Tengah ataupun Jawa Timur. Namun demikian, sebagaimana umumnya kota-kota di dalam arsitektur tata budaya Jawa, Bandungpun memiliki alun-alun kota. Alun-alun kota merupakan tanah lapang di pusat kota yang menjadi sarana publik untuk berkumpul ataupun menyelenggarakan aktivitas-aktivitas bersama. Alun-alun Bandung menjadi pelataran utama tepat di sisi depan Masjid Agung Bandung.

Di samping mengunjungi Masjid Agung Bandung untuk merasakan nuansa ibadah di dalamnya, masjid terbesar dengan keberadaan alun-alunnya di Kota Kembang ini juga memberikan suguhan suasana dan nuansa yang sungguh mengasyikkan untuk dinikmati bersama keluarga. Satu hal yang paling istimewa dari Alun-alun Bandung adalah hijau rumput yang mengalasinya. Jika di alun-alun kota lain, rumput hijau dibiarkan tumbuh menutupi pelataran lapangan alun-alun, di  Alun-alun Bandung justru tergelar karpet raksasa bercorak rumput hijau. Meskipun tidak asli atau alami, rumput “palsu” yang ada justru senantiasa terjaga kebersihannya.

Ada pemikiran unik di balik terhamparnya karpet rumput di Alun-alun Kota Bandung. Walikota Bandung, Ridwal Kamil pada waktu itu menggagas revitalisasi alun-alun. Area alun-alun di tata kembali dengan membangun area parkir kendaraan di bawah tanah alun-alun. Dengan pertimbangan penggunaan rumput asli di tanah alun-alun seringkali rusak karena terinjak oleh pengunjung justru menjadikan area tanah lapang menjadi becek di musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Dengan penggunaan karpet rumput kedua masalah tersebut dapat dihindari. Untuk menjaga agar area karpet rumput tetap bersih dan tidak cepat rusak, setiap pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki saat berada di hamparan karpet rumput. Di samping itu, pengunjung juga tidak diperkenankan menyantap makanan di atasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajarkan kedisiplinan kepada masyarakat untuk patuh terhadap aturan dan menjaga kebersihan bersama. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah menugaskan satuan petugas untuk tida lelahnya membina dan mengajak masyarakat untuk tertib bersama.

Masjid Agung Bandung dengan pelataran alun-alunnya tentu akan semakin semarak dan meriah di sepanjang bulan Ramadhan. Di waktu selepas Ashar hingga menjelang bedug Maghrib, area publik ini menjadi salah satu tempat ngabuburitnya masyarakat Bandung. Ribuan orang tumplek bleg di area alun-alun sambil duduk bersantai bersama keluarga ataupun teman dan sahabat. Berbincang, ngobrol, bercanda dalam sebuah kebersamaan akan semakin menentramkan hati. Dengan berbagai sajian jajajan khas pembuka puasa yang dijual di area sekitar alun-alun, buka puasa di tempat ini akan semakin terasa beda dan istimewa. Selain itu, Masjid Agung Bandung di setiap petang juga menyediakan sajian takjil untuk berbuka bersama yang dapat dinikmati ummat Islam.

Jika aktivitas di Alun-alun Bandung dipuncaki dengan ngabuburitnya, dengan bedug, adzan Maghrib dan buka bersama dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah, maka aktivitas malam di dalam masjid akan diteruskan dengan rangkaian ibadah malam. Sholat Isyak dan tarawih berjamaah, ceramah agama, tadarus Al Qur’an, sholat qilamul lail, rangkaian ibadah sahur, sholat Subuh dengan kuliahnya. Ibarat kata di hari-hari Ramadhan Masjid Agung Bandung senantiasa sibuk dengan ghirah aktivitas syiar serta dakwah keagamaannya.

Sebagai spot yang terletak di jantung kota, area Masjid Agung Bandung dengan alun-alunnya tentu mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. Sarana transportasi umum, mulai dari bus Damri, angkot, bahkan bus Bandros juga melewati area ini. Di sisi utara yang merupakan tepian Jalan Asia Afrika tersedia halte pemberhentian angkutan kota ke berbagai tujuan. Dengan kemudahan akses transportasi, pemerintah tentu berharap agar warga maupun pengunjung Masjid Agung Bandung sedapat mungkin datang dan pulang dengan kendaraan umum. Hal ini tentu sejalan dengan program untuk mengurangi masalah kemacetan yang senantiasa terjadi di area pusat kota ini.

Ketika kami hendak meninggalkan area alun-alun, kamipun kemudian menunggu kendaraan yang akan membawa kami di halte yang senantiasa ramai dengan warga. Kami sempat menjumpai sebuah ojek yang unik dan mungkin satu-satunya yang ada di tanah air. Ojek tersebut bukan ojek motor biasa. Pengemudi ojek tersebut menggunakan kendaraan Viar yang memiliki box kecil yang biasa digunakan untuk angkutan barang terbatas. Kali ini box tersebut digunakan untuk mengangkut beberapa orang sekaligus. Uniknya justru di sisi depan sang pengemudi ojek. Untuk lebih menarik penumpang, sang pengemudi membuat sebuah kreasi patung kuda yang dapat bergerak manggut-manggut. Jadilah ojek tersebut sebagai sebuah kombinasi antara andong, ojek, dan bemo. Sungguh kami sampai melongo dan keheranan menyaksikannya.

Ngisor Blimbing, 12 Mei 2019

Foto pertama dipinjam dari sini, foto ke tiga dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s