Butir-butir Mutiara Kemuliaan Ramadhan


Alkisah pada suatu ketika di masa Kekaisaran Iskandar Zulkarnain. Saat pasukannya dalam masa peperangan yang sungguh berat dan ditimpa dalam keletihan yang mendera, suatu ketika pasukannya harus menyeberangi sebuah sungai di malam yang sungguh gelap gulita. Sebelum menuruni lembah dan menyeberangi sungai, ia mengamanatkan sebuah perintah penting untuk segenap pasukannya.

“Wahai pasukanku yang gagah berani. Sebentar lagi kita harus menyeberangi sungai di depan. Malam akan semakin gelap dan kita suka tidak suka harus menyeberanginya dalam gelap gulita tanpa lentera. Saat kalian nanti menginjak dasar sungai, rasakan apa yang terinjak di kaki. Ambillah dan bawalah. Masukkan ke dalam tas atau apapun untuk dapat membawanya,” perintah Zulkarnain jelas.

Mendengar perintah pimpinan yang tegas dan jelas itu sesungguh diantara para pasukan terbelah dalam menyikapinya. Ada yang berpikir buat apa sudah lelah letih membawa badan dari medan perang masih disuruh membawa batu kerikil dari dasar sungai. Ada yang berpikir Zulkarnain sedang menguji mereka. Ada yang berpikir lurus apapun perintah atasan, prajurit harus taat. Bagi sebagian kalangan yang terakhir ini, mereka langsung berikrar sami’na wa atho’na. Sendiko dhawuh kepada sang kanjeng.

Akhirnya pasukan ribuan prajurit itu mengular memasuki badan air di sebuah sungai yang gelap gulita. Benar saja, ketika mereka melintasi dan berada di tengah sungai kaki mereka merasakan perjalanan yang semakin berat. Batu, kerikil, pasir, hingga lumpur dan benda apapun di dasar sungai mereka injak, mereka terjang. Tidak sedikit dari kaki para prajurit itu yang mengalami luka lecet karenanya.

Sebagaimana apa yang dipikirkan oleh pasukan yang terbelah semenjak di atas bukit, di tengah sungaipun ada sebagian diantara pasukan yang langsung melaksanakan perintah pemimpinnya. Ada yang setengah hati, namun ada pula sebagian diantaranya yang melakukan dengan sepenuh hati. Merasa menginjak batu, ia segera mengambil dan memasukkannya ke dalam ransel. Ada yang mengambil banyak sehingga ranselnya penuh dan terasa sangat berat digendong. Ada yang mengambil seperlunya sebatas butiran kerikil kecil atau segenggam pasir sebagai sekedar penggugur kewajiban dan ketaatannya kepada Zulkarnain.

Tentu saja ada pula sebagian diantaranya yang sama sekali tidak melakukan apa yang diperintahkan. Mereka merasa tidak ada gunanya menaati perintah Zulkarnain saat itu. Sudah letih, lelah, badan lemas, berbasah ria di air sungai yang dingin, buat apa menambah beban dengan kerikil dan batu. Mereka sedikit lebih ringan dalam berjalan. Tidak perlu terseok-seok dan merasa keberatan dengan beban batu kerikil di ransel sebagaimana sebagian teman mereka yang lain.

Singkat cerita sungai yang kelam tanpa seberkas cahaya itupun berhasil diseberangi dengan selamat. Merekapun segera tiba di seberang saat fajar menyingsing di ufuk timur menyambut dengan penuh kecemerlangan.

Tatkala sesaat pasukan itu kemudian beristirahat pada sebuah tanah lapang yang teduh. Mulailah Zulkarnain menginspeksi pasukannya, “Wahai pasukanku! Semalam kita telah melintasi sebuah sungai yang gelap tanpa pelita. Sebelumnya aku telah berpesan agar kalian sebisa mungkin, sebanyak mungkin membawa sesuatu yang kalian injak, yang kalian temukan ketika melintas di dasar sungai.”

“Sekarang bukalah ransel kalian. Lihatlah apa yang telah kalian bawa dari dasar sungai semalam?” Zulkarnain bertanya.

Pasukan itupun segera teringat apa yang telah mereka alami semalam. Dengan segera sebagian diantara pasukan yang ketika menyebarang sempat ataupun menyempatkan untuk mengambil dan membawa sesuatu ke dalam ranselnya membuka guna melihat isi bawaan mereka. Dan sungguh luar biasa. Mereka semua menjadi terbelalak. Mereka seolah tidak percaya dengan apa yang ada di tangan. Ada yang memegang butiran pasir mutiara indah. Bahkan yang merasa membawa batu-batu banyak dan berat mendapati yang mereka bawa semalaman ternyata adalah bongkahan batu-batu permata yang segera berkemilau indah tertepa sinar mentari pagi yang cerah. Mereka merasa sungguh beruntung karena menaati perintah pemimpinannya. Mereka seolah mendapatkan hujan permata. Sebuah rejeki harta benda yang tidak terduga-duga.

Adapun sebagian lain diantara pasukan yang sama sekali  tidak menghiraukan perintah, mereka hanya bisa bengong. Mereka seolah menyesali diri kenapa ia berprasangka tidak baik terhadap perintah pemimpinnya. Kenapa mereka abai dan tidak amanat. Kenapa mereka begitu sial di tengah rekan-rekannya yang lain yang mendapatkan harta berlimpah tanpa terduga dan tanpa usaha kerja yang terlalu berat. Mere sungguh menyesal, seolah mereka ingin kembali menyeberangi sungai yang semalam dilintasinya. Namun bagaimanapun waktu tidak pernah berjalan muundur dan penyesalan senantiasa datang belakangan.

Apa makna di balik kisah pasukan Zulkarnain tersebut? KIsah tersebut merupakan perumpamaan bulan Ramadhan. Bulan penuh keberkahan. Bulan penuh kemuliaan. Di saat amalan wajib diganjar pahala berlipat ganda. Di saat amalan Sunnah dihargai sebagai amalan wajib. Di saat pintu surga dibuka lebar-lebar da pintu neraka ditutup rapat-rapat, bahkan setan dan iblis dibelenggu untuk menggoda manusia, berapa banyak ummat yang sadar akan kemuliaan Ramadhan? Berapa banyak diantara kita yang sungguh-sungguh menegakkan amal di bulan suci ini. Seberapa banyak yang istikomah untuk menuntaskan tarawihnya, tadarusnya, dhuhanya, sedekahnya, zakatnya, dan apapun amalan agama yang lain.

Ibarat pasukan Zulkarnain tadi, kelak ketika Ramadhan telah meninggalkan kita, ada sebagian diantara kita yang telah penuh pundi-pundi pahalanya sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat. Sementara sebagian yang lain, yang hanya bersantai ria dari ibadah Ramadhan maka kelak ia akan mendapati dirinya dalam keadaan rugi bahkan binasa oleh tindakan ketidaktaatannya atas perintah Allah dan Rasulnya. Ramadhan adalah bulan panen raya pahala bagi hambanya yang sungguh-sungguh beriman dalam ketaatan. Sebaliknya Ramadhan tidak berarti apapun dan hanya sekedar datang dan lewat tanpa disadari betapa ruginya apabila kita berleha-leha tak menghiraukan panggilan amalan mulia di bulan mulia ini.

Demikian hikmah tausiyah sholat tarawih di malam ke dua sebagaimana diuraikan Ustadz KH Ahmad Sonhaji, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Haromain.

Pilihan ada di tangan kita. Monggo menjadi bahan perenungan bersama.

Ngisor Blimbing, 7 Mei 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s