Bersih Diri, Bersih Jiwa Bersih Raga Sambut Bulan Mulia


Ramadhan adalah bulan mulia. Berbagai pahala dan kemulian digelar sebulan penuh. Ramadhan sekaligus menjadi bulan suci. Tidak saja bulannya yang suci, Ramadhan juga hadir untuk mensucikan bagi siapapun insan beriman. Ramadhan menjadi bulan ujian sebagai batu pijakan untuk meraih tingkatan ketaqwaan yang lebih tinggi lagi dibandingkan tahun-tahun lalu.

Ramadhan bulan suci. Bagi jiwa insan beriman yang ingin memasuki bulan suci, sudah sepantasnya dan semestinya bila setiap pribadi muslim juga mempersiapkan diri dengan kondisi yang lebih suci, baik suci raga maupun suci jiwa. Kondisi penyiapan diri dalam kesucian ini dalam rangka memuliakan kedatangan Ramadhan dan yang lebih penting lagi dalam rangka kesiapan mental, psikis, dan psikologis agar nantinya kita dapat mempergunakan waktu di bulan Ramadhan dalam rangka sebaik-baiknya ibadah guna mencapai derajat taqwa yang lebih tinggi.

Desa mawa acara, negara mawa tata. Lain ladang, lain belalang. Sama-sama Islamnya, sama-sama Allahnya, sama-sama kitab sucinya, sama nabi dan rasulnya, namun setiap kelompok ummat  ataupun bangsa muslim memiliki beragam tradisi termasuk dalam rangka penyucian diri menyambut Ramadhan. Di sekitar kita saja, masih di tanah air Indonesia, beragam tradisi masyarakat muslim dapat kita temukan dan saksikan hingga hari ini. Diantara banyak tradisi penyambutan Ramadhan tersebut, kita bisa menyebut kegiatan sadranan, padusan, munggahan, dan cucurah.

Sadranan eksis di kalangan masyarakat suku Jawa. Sadranan konon merupakan serapan dan adaptasi dari tradisi sraddha. Tradisi pemuliaan arwah leluhur bagi masyarakat Hindu yang lebih dulu eksis di masa pra Islam. Tersebutlah Ratu Tribhuwana Tunggadewi, raja ke tiga Majapahit melakukan ritual upacara sraddha dalam rangka doa puja bakti untuk para arwah leluhur pendahulu kerajaan Majapahit, khusus untuk sang ibunda Dewi Gayatri.

Di dalam ajaran Islam dikenal ajaran tentang birul walidain, berbakti kepada ibu-bapak dan leluhur, baik yang masih hidup ataupun yang telah bersemayan di alam kubur. Setelah kedatangan Islam, melalui kreativitas Wali Songo, ritual sraddha diadatasi menjadi acara berdoa bersama untuk para arwah leluhur yang dikhususkan dilaksanakan pada bulan Arwah, alias bulan Ruwah atau Sya’ban menjelang Ramadhan tiba. Dari kata sraddha inilah istilah sadranan muncul.

 

Di samping acara sadranan, masih di kalangan masyarakat Jawa juga mengenal tradisi padusan. Adus berarti mandi. Satu hari menjelang 1 Ramadhan, ummat Islam menusucikan diri dengan mandi besar. Bukan mandi air kembang atau mandi air tujuh sumber lho ya! Pada intinya padusan bisa dilakukan di kamar mandi, di sendang, di pancuran, di telaga atau manapun sebagaimana ummat muslim bermandi besar untuk membersihkan diri dari hadast kecil dan besar. Jadi nggak neko-neko, seperti harus mandi beramai-ramai sebagaimana yang kini salah kaprah dipahami banyak kalangan.

Padusan, adus, alias mandi, secara fisik tentu berguna untuk membersihkan badan atau raga kita. Lebih dalam lagi, secara ukhrawi padusan menjadi simbolisasi manusia untuk membersihkan batin, pikiran, hati, jiwa dari segala macam bentuk dosa. Dengan demikian, padusan juga menjadi sebuah bentuk pertobatan diri. Dengan pertobatan yang dilakukan diharapkan manusia akan terbebas dari noda dan dosa hingga menjadi suci. Hanya dengan kondisi dan keadaan suci, harapannya kita menjadi layak dan pantas untuk menyambut, memasuki, dan melakukan berbagai pengamalan ibadah suci di bulan yang suci, bulan Ramadhan.

Selanjutnya tentang tradisi munggahan atau cucurah. Tradisi ini memang terdengar agak asing bagi masyarakat Jawa. Tradisi ini lebih populer dilakukan kalangan masyarakat Sunda. Pada beberapa hari menjelang Ramadhan, jika dimungkinkan kalangan keluarga besar berkumpul bersama. Selain menikmati kebersamaan dan rasa syukur atas nikmat kesehatan serta panjang umur yang diberikan, kebersamaan dalam munggahan dilengkapi atau dipungkasi dengan makan bersama. Pada kesempatan tersebut satu sama lain juga saling memaafkan agar dilapangkan segala batin dari beban noda dan dosa sehingga kembali suci untuk memasuki bulan Ramadhan.

Pernah pada suatu kesempatan beberapa tahun silam, tatkala hari-hari menjelang Ramadhan sebagaimana saat ini, penulis diundang untuk singgah di salah satu restoran ayam geprek milik salah seorang sahabat di kota Bogor. Di tengah temu kangen kami, saya benar-benar merasa heran dengan keramaian restoran saat itu yang melebihi hari-hari biasa. Banyak rombongan datang dan pergi silih berganti. Ada rombongan sebuah keluarga besar, namun banyak pula rombongan teman sekantor. Intinya, mereka bertemu, berkumpul, bertegur sapa, ngobrol, dan makan-makan. Itu rupanya yang disebut sebagai munggahan atau cucurah.

Sadranan, padusan, munggahan, cucurah, hanyalah sedikit dari banyak ragam tradisi sambut Ramadhan yang ada di tengah masyarakat kita. Kita patut bersyukur bahwasanya dengan berbagai tradisi tersebut pada intinya masyarakat bergembira menyambut bulan mulia, bulan suci, bulan Ramadhan. Kegembiraan menyambut kedatangan Ramadhan sejatinya merupakan modal utama untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana dalam rangka meningkatkan derajat ketaqwaan kita kepada Tuhan Allah SWT.

Berkenaan dengan Ramadhan yang akan segera kita tapaki bersama, penulis memohon maaf yang sebesar-besar kepada siapapun apabila ada kekhilafan ataupun hal-hal yang telah penulis lakukan dan menjadi ketidaknyaman bahkan merugikan Anda semua. Semoga dengan permohonan maaf tersebut menjadikan langkah kita lebih ringan untuk memasuki bulan Ramadhan, untuk lebih khusyuk dalam beribadah Ramadhan, untuk meraih derajat muttaqin yang lebih tinggi, untuk menjadi hamba Allah yang sebaik-baiknya. Marhaban Ya Ramadhan. Marhaban Ya Sakhru Siyam.

Ngisor Blimbing, 5 Mei 2019

Tulisan terkait:

Padusan, Sarana Sucikan Diri Sambut Bulan Suci

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s