Santai Sore di Pelataran Gedung Sate


Kota ini berjuluk Kota Kembang. Pun dulu para ningrat kolonial menyebutnya sebagai Paris van Java. Peuyem dan wajit menjadi makanan khas yang menjadi sajiannya. Tidak pernah masyarakat di kota ini maupun tamu yang mengunjunginya menemukan sajian sate bandung. Namun sungguh ada satu hal yang aneh berkenan dengan kota ini. Tetiba saja ia memiliki Gedung Sate. Saya dulu berpikir yang paling cocok memiliki gedung sate, ya Pulau Madura. Secara sate Madura lebih tenar semenjak Bu Bariyah jualan di serial si Unyil. Kok justru Gedung Sate ada di Bandung ya? Hanya karena enam tusukan buah jambu air di puncak gedung terus tersebutlah Gedung Sate. It’s just simple like that!

 

Ah, bagaimanapun sejarah asal-usul nama Gedung Sate, tokh siapapun yang bertandang ke pelatarannya akan disuguhi dengan landmark unik berlatar penampakan gunung Tangkupan Perahu yang sungguh menawan. Keindahan dan keelokan panorama inilah yang menjadikan pemerintah kolonial saat itu memilih lokasi pembangunan sebuah gedung yang sempat digadang-gadang sebagai pengganti kantor gubernur jenderal yang akan dipindahkan dari Buitenzorg setelah sebelumnya beralih dari Batavia.  Gedung megah berarsitektur indah itulah yang kini dikenal sebagai Gedung Sate.

Pembangunan Gedung Sate konon mmenghabiskan dana tak kurang dari 6 ribu (atau juta?) gulden. Angka inilah yang kemudian disimbolkan dengan enam tusuk buah jambu air yang bertengger di puncak gedung. Sate sendiri sebenarnya mengacu kepada tindakan atau cara menusuk sesuatu dengan semacam batang lidi. Memang dalam waktu-waktu selanjutkan, kata sate lebih mengacu kepada sejenis kuliner daging yang ditusuk dengan lidi. Ada sate ayam, sate kambing, dan lain sebagainya.

Tepat di depan Gedung Sate terhampar sebuah lapangan luas selayaknya sebuah alun-alun kota. Pelataran luas ini kini tenar dengan sebutan lapangan Gasibu. Tempat ini menjadi area terbuka publik yang sangat eksotik untuk menikmati suasana pagi, siang, sore, petang, hingga malam di tengah jantung kota Bandung.  Gasibu dengan latar Gedung Sate di sisi selatan dan panorama Tangkuban Perahu di jauh sisi utara selalu menghadirkan nuansa yang unik dan indah pada setiap saat.

Pada kesempatan kunjungan kami ke Bandung pekan lalu, tentu landmark pertama di Kota Kembang ini yang kami sambangi adalah Gedung Sate dengan lapangan Gasibunya. Karena kedatangan kereta Argo Parahiyangan kami tumpangi sekitar jam tiga siang, maka di saat sore jelang senjalah kami menginjakkan kaki di depan Gedung Sate. Itulah saat pertama kalinya bagi kami sekeluarga berempat menyambangi jantung Kota Kembang ini. Terakhir di 2012, kami masih bertiga karena si Kecil Nadya belum lahir. Dengan demikian,kunjungan keluarga kami ke Bandung kali ini memang dedicated for Noni Nadya.

Sore itu Bandung terasa semakin sejuk dan dingin setelah sebelumnya diguyur hujan yang cukup lebat. Suasana tersebut tidak menghalangi sebagian warga Bandung maupun tamu dari daerah lain untuk ngariung sore di pelataran lapangan Gasibu. Ada yang datang bersama keluarga. Ada yang nongkrong barengan teman. Ada yang kongkow sekedar duduk-duduk.  Ada yang asyik ngobrol kaler kahidul. Ada yang jalan keliling lapangan tipis-tipis. Ada yang jogging dan berlarian kecil. Ada yang latihan karate beregu. Ada yang main bola di pojokan, dan lain-lain. Keragaman manusia dan aktivitasnya seolah-olah sore itu menjadi pemandangan yang sungguh  indah untuk menggambarkan keberagaman yang dimiliki masyarakat kita.

Gedung Sate sebagai landmark utama Kota Bandung tentu mengundang minat siapapun yang mengunjungi Bandung untuk mengabadikan momen kehadirannya di Paris van Java. Hampir di setiap kesempatan banyak orang per orang maupun rombongan yang berjajar di depan gerbang atau pagar Gedung Sate. Dengan penuh keceriaan, mereka mengabadikan foto bersama dengan latar Gedung Sate. Kamipun tidak ketinggalan untuk berfoto beberapa kali. Yahui, saat-saat kebersamaan di kota Bandung memang tidak setiap saat dapat kami nikmati dan tentu saja harus diabadikan.

 

Tidak hanya menikmati suasana, nuansa, dan segala kesibukan banyak orang di tepian Jalan Diponegoro, di beberapa sudut dan sekeliling lapangan Gasibu kita juga dapat mencicipi sajian kulineran jalanan khas Bandung. Ada penjaja simoi, shoting, cilok, bakpau, moci, cimol, dan teman-temannya. Murah meriah dan yahut. Pokoknya makin asyik menikmati suasana senja di seputaran tempat ini sambil berbincang dan ngemil. Wareg, wareg, wareg!

Mengikuti arus orang-orang yang berjongging ria, kamipun sempat berlari-lari kecil dari tepian selatan lapangan hingga sisi utara di bawah tiang bendera. Sesaat si Noni terkesima dengan enam orang mojang Bandung yang tengah memperagaka gerakan-gerakan tangkas dan indah secara bersamaan. Dari unsur-unsur gerakan yang dilakukan, gerakan mereka menunjukkan sebuah gerakan seekor katak yang terangkai dalam beberapa jurus bela diri. Unsur jurus tersebut saya kenali semenjak di bangku SMP melalui beberapa teman dan guru olah raga kami. Ya, mereka rupanya tengah berlatih jurus katak yang merupakan jurus khas dari olah raga beladiri karate.

Sore beranjak senja. Senjapun segera berganti dengan petang untuk selanjutnya menjadi malam. Kami sebenarnya masih ingin berlama-lama menikmati suasana Gedung Sate dan lapangan Gasibu. Namun gerak matahari yang menuju peraduannya seolah mengingatkan kami untuk segera meninggalkan jantung kota Bandung tersebut untuk kembali ke tempat penginapan kami di kawasan Dago Atas. Gedung Sate, lapangan Gasibu, jantung Kota Kembang akan menjadi salah satu momentm indah dalam sejarah perjalanan keluarga kami. Bagi Radya, bagi Nadya, dan bagi kami semua.

Ngisor Blimbing, 27 April 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s