Berkunjung ke Bandung


Bandung merupakan salah satu kota yang pernah menjadi tempat persinggahan perjalanan hidup saya. Setidaknya 2,5 tahun menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Kembang tersebut telah menerbitkan banyak kisah dan kenangan. Tidak berlebihan jika kemudian pada momentum tertentu, saya berkeinginan untuk berbagi kisah dan kenangan tersebut dengan keluarga, terutama anak-anak.

Meskipun Bandung hanya berjarak 3 jam perjalanan kereta api dari Jakarta, namun keterbatasan pilihan akses angkutan umum yang nyaman bin cepat (tepat waktu) membatasi bahkan menunda setiap rencana kepergian kami ke Bandung. Nah, secara kebetulan libur hari Pemilu minggu lalu berderetan dengan tanggal merah Hari Raya Paskah. Kamipun secara kompak kemudian meliburkan diri untuk secara khusus tetirah alias berkunjung ke kota yang juga berjuluk Paris van Java tersebut.

Dengan ancang-ancang dan perencanaan jauh hari, kami sekeluarga berhasil mendapatkan tiket kereta Argo Parahiyangan tepat di hari pencoblosan. Kereta api sengaja menjadi pilihan kami dikarenakan dua hal. Pertama ketepatan waktu tempuhnya. Yang kedua berhubungan dengan suguhan pemandangan sepanjang kanan-kiri jalur rel yang sungguh eksotik. Dan berikutnya tentu karena anak-anak kami paling suka bepergian dengan kendaraan kereta api. Jadilah selepas menunaikan kewajiban kami untuk memberikan suara di bilik suara, kamipun langsung on going to Gambir Station.

Sempat khawatir sulit untuk order taksi online di hari pencoblosan, sedari pagi kami sengaja melakukan survei terhadap ketersedian berbagai alternatif moda angkutan untuk mencapai Stasiun Gambir. Sekiranya sulit mendapatkan taksi online, kami memeriksa ketersediaan feeder busway Transjakarta jurusan BSD-Grogol maupun Poris-Pasar Baru. Bagaimanapun dengan keberangkatan pukul 10.30 sebagaimana tertera dalam tiket kami, kami harus benar-benar matang dalam memperhitungkan “ketidakpastian” keadaan di hari pemilu raya dimana sebagian perhatian kita pastinya tertuju ke TPS.

Niat hati kami ingin berangkat ke Stasiun Gambir seawal mungkin. Tanpa ingin meningglkan hak dan kewajiban sebagai warga negara, kami memilih untuk datang ke TPS seawal mungkin. Ketika jam 07.00 WIB tepat kami sudah stand bay di area TPS. Sayangnya, tim panitia di TPS tersebut kurang persiapan secara matang sehingga untuk mempersiapkan segala hal sebelum melayani warga untuk nyoblos memerlukan waktu yang lumayan lama. Hingga pukul 08.00 lewat persiapan baru kelar dan prosesi pencoblosan baru dapat dimulai. Untungnya karena datang lebih awal, kami mendapatkan antrian ke dua dan tiga. Nyoblospun terlaksana dan kami segera ngacir menenteng tas dan koper untuk langsung ke stasiun.

Terus? Ternyata drama masih berlanjut. Sebagaimana kekhawatiran kami, mendapatkan taksi online di saat detik-detik awal pencoblosan tidaklah mudah. Di samping sepi pengemudi, beberapa taksi online yang kami order miscommunication. Tentu keringat panas-dingin segera menghinggapi tubuh kami. Dengan perasaan dag-dig-dug tidak karuan,  setelah lebih dari setengah jam putus-nyambung-putus nyambung dengan beberapa orderan kamipun berhasil mendapatkan sebuah mobil taksi online. Fyuhhh, legalah sudah.

Untungnya yang namanya hari pemilu merupakan hari libur nasional. Kantor tutup, sekolah prei, pabrik jeda, hingga jalanan di ibukota yang biasanya super macet, hari itu benar-benar lengang bin sepi. Kendaraan yang kami tumpangipun melenggang dengan cepat di jalanan told an jalan utama Jakarta tanpa hambatan yang berarti. Tepat 40 menit jelang jam keberangkatan kami sudah mencetak dan langsung boarding tiket. Suasana stasiuan bagaikan hari jelang lebaran dan keriuahannya mengalahkan suasana di TPS manapun. Ketika kami langsung menuju ke peron di lantai atas, KA Argo Parahiyangan yang akan mengantar kami ke Bandungpun sudah siap sedia.

Bagi si Ponang, sulung kami, perjalanan kali ini merupakan kali keduanya ia turut pergi ke Bandung. Adapun bagi si Kecil “Noni”, kali ini merupakan pengalaman pertama kalinya ke Kota Kembang. Jadilah pada setiap kesempatan di tengah perjalanan, si Noni banyak bertanya tentang ini dan itu berkaitan dengan Bandung. Daerah mana saja yang akan dilalui, pemandangan seperti apa yang akan kami nikmati, Bandung seperti apa, di Bandung akan pergi ke mana saja, kapan Gunung Tangkuban Perahu kelihatan, seperti apa kisah Sangkuriang Dayang Sumbi dan thethek bengek banyak hal lainnya meluncur deras dari mulut si mungil.

Cuaca memang tidak sepenuhnya cerah. Meski udara panas, namun matahari enggan menampakkan diri. Sepanjang berjalanan kami lebih sering berteman suasana mendung, bahka hujan deras. Meskipun kondisi cuaca yang kurang mendukung untuk sepenuhnya menikmati hamparan pemandangan alam di kanan-kiri jalur kereta, kami sungguh menikmati suasana yang ada. Kami bersama-sama saling tunjuk seru tatkala melihat hamparan sawah terasiring pada lereng-lereng bukit dan lembah-lembah yang dalam. Kami juga saling berteriak girang tatkala kereta memasuki sebuah terowongan gelap yang cukup panjang. Kamipun juga memandang dengan takjub hamparan pepohonan, semak belukar nan menghijau yang menyegarkan mata. Kamipun berdecak kagum tatkala melintasi berbagai jembatan di atas jurang dan ngarai sungai yang dalam. Pun demikian ketika melihat jalan tol, rangkaian pegunungan, deretan gerabah di daerah Plered, hamparan biru air Bedungan Jatiluhur, Padalarang, Cimahi, hingga batas Kota Bandung.

Tiga jam lebih dalam perjalanan, kamipun menginjakkan kaki di Stasiun Bandung. Sebuah stasiun tua warisan jaman colonial yang masih beroperasi hingga hari ini. Dibandingkan dengan keberadaannya beberapa tahu terakhir, stasiun ini nampak semakin padat dengan kereta dan penumpang. Hal tersebut tentu saja menghadirkan suasana kesemrawutan yang sedikit mengurangi kenyamawan semua pihak. Untuk keluar dari gerbong, melintasi peron yang basah oleh tetesan air hujan yang merembes, bau pelumas rem kereta hingga aroma pesing menyambut kedatangan kami.

Setelah berderet antri dengan sabar untuk keluar stasiun, kamipun melenggang di jalur pejalan kaki sisi pelataran parkir. Nampak banyak penumpang yang turun bersamaan yang segera menghadirkan kemacetan luar biasa di jalur jalanan depan stasiun. Angkot, mobil jembutan, taksi online, gojek, tukang ojek pangkalan, benar-benar membuat arus lalu lintas berjalan merambat. Setelah menunggu dan sempat gonta-ganti orderan, kamipun mendapatkan kendaraan yang segera membawa kami ke tempat penginapan di kawasan Dago Atas. Berkunjung ke Bandung, petualanganpun segera dimulai.

Ngisor Blimbing, 22 April 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s