Dimensi Kebarokahan dalam Hidup


Meskipun tidak selalu, dalam setiap ungkapan doa pengharapan kita mendambakan kebarokahan. Kebarokahan atau keberkahan seolah menjadi pelengkap atau bahkan penyempurna sesuatu yang diungkapkan melalui doa tersebut. Ketika mengenangkan umur, kita berharap umur panjang yang barokah. Apabila kita tengah ataupun telah selesai menuntut ilmu di bangku pendidikan, kita sudah pasti mengharapkan ilmu yang bermanfaat dan barokah. Saat memohon rejeki halal, kitapun melengkapinya dengan rejeki yang halal dan barokah. Sejatinya apakah makna di balik kata barokah atau berkah tersebut?

Dalam sebuah uraian tausiah pada acara haflah attasyakkur lil ikhtitam di Pondok Pesantren Nurul Falah, Tegalrandu, Magelang pekan lalu, Gus Yusuf mengungkapkan, “ Para santri didik untuk menjadi manusia utama yang memiliki kecerdasan dan ilmu yang barokah. Ilmu yang barokah adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk lebih taat dalam bertakarub kepada Allah. Dengan ilmu yang dimiliki, orang jadi lebih ringan untuk beribadah, lebih ringan dalam sholatnya, lebih enteng dalam berjamaah, dan lain sebagainya. Intinya ilmu yang barokah mendorong untuk lebih beriman, lebih bertakwa, lebi ikhsan, dan lebih dekat dengan Gusti Allah.”

Dari uraian pengasuh Pondok Pesantren API di atas, kita dapat mengkiaskannya dalam konteks yang lebih luas. Seorang petani yang tekun menanam dan memelihara tanamannya mengharapkan kelimpahan panenan. Tidak hanya panen yang melimpah ruah, mereka juga mengharapkan panenan yang barokah. Sudah panen banyak, badan senantiasa sehat, anak-anak semakin patuh dan berbakti kepada orang tua, keluarga semakin tentram dan damai, hal inilah beberapa tanda hadirnya keberkahan dalam rejeki yang didapatkan dari hasil panenan oleh si petani tersebut.

Lain petani, lain pula seorang pedagang. Semenjak pagi, siang, petang, hingga malam, ia tenggelam mengurusi barang dagangannya. Setiap pelanggan dilayaninya dengan penuh keramahan. Setiap hutang piutang dibereskannya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak pernah mengurangi timbangan, terlebih berbuat kecurangan. Ia berusaha dengan penuh kejujuran. Jikapun kemudian ia mendapatkan keuntungan dari usaha dagangnya, setelah mencukupkan nafkahnya kepada keluarga, tak lupa ia sedekahkan sebagian diantara rejekinya. Ia santuni anak yatim dan janda-janda. Harta benda yang diamalkan dalam rangka semakin mendekatkan diri kepada Tuhan inipun bentuk dan wujud sebuah kebarokahan.

Seorang guru tertib menjalankan tugas mengajarnya. Setiap pagi ia berusaha datang sepagi mungkin di sekolah. Ia ajar, ia bimbing setiap anak didiknya dengan penuh kasih sayang. Ia tularkan segala ilmu yang dimilikinya. Ia bekali siswa yang semula serba tidak tahu menjadi manusia yang berilmu pengetahuan. Kelak ketika siswa-siswa didiknya telah mentas dan menyelesaikan studi, mereka menyebar dengan berbagai profesi pekerjaan. Anak-anak didik itu menjadi tulang punggung pembangunan dalam rangka memajukan kesejahteraan bersama. Kemanfaatan ilmu pengetahuan yang diamalkan inipun merupakan salah satu bentuk kebarokahan.

Demikian halnya dengan pilihan kita atas pemimpin dan wakil di pemerintahan, serta negara. Tatkala kita memilih seorang pemimpin yang ahli dibidangnya, yang amanah, yang jujur sikapnya sehingga kemudian roda pemerintahan yang berjalan semakin membawa kemajuan dan kesejahteraan bersama, itupun kebarokahan.  Di bawah tampuk komando seorang pemimpin sebuah bangsa semakin ditaburi warga negara yang semakin religius, ini juga bentuk keberkahan. Pemimpin yang adil dan jauh dari tindakan kelalilam sehingga membawa anak bangsa semakin rukun, semakin erat persatuan kesatuannya, semakin damai dan tentram pergaulannya, ini tidak lain dan tidak bukan juga merupakan sebuah kebarokahan.

Keberkahan bisa jadi merupakan manifestasi dari rasa syukur atas segala karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan Tuhan kepada makhluknya. Syukur juga memiliki makna yang teramat sangat mendalam dalam konteks kehidupan beragama. Rasa syukur itu kemudian diwujudkan dalam bentuk-bentuk amal ibadah dan perbuatan kebajikan yang lain. Syukur iku nanjakake sakabehing nikmate Gusti Allah kanggo ngibadah, ngabdi, ngumawula, berbakti dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Jika ingin dikupas tuntas tentu akan sangat banyak makna keberkahan dari berbagai hal yang kita alami, kita miliki, kita jalan. Berkah memiliki seribu satu dimensi manifestasi sesuai dengan suasana dan kondisi perjalanan hidup yang ditempuh seseorang. Berkah bin barokah, itulah mustika hidup yang senantiasa kita damba. Setiap saat, setiap waktu, baik selama di dunia hingga kelak di hari akhirat, berkah Tuhan atas makhluknya akan sangat menentukan kelanjutan episode kehidupan kita di alam keabadian. Semoga kita senantiasa diliputi keberkahan-Nya.

Ngisor Blimbing, 16 April 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s