Korupsi Candu Kehidupan: Ungkapan Seorang Novel Baswedan


Korupsi kita yakini sebagai penghancur utama sendi peradaban. Krisis moralitas yang tak berkesudahan di negeri ini sangat erat keitannya dengan mentalitas koruptif. Tidak hanya di kalangan pejabat tinggi, pejabatan rendahan, pengusaha, hingga warga biasa tidak sedikit yang melakukan tindakan korupsi. Tindakan korupsi bisa berkaitan dengan suap-menyuap, sogok-menyogok, mark-up anggaran, nyunat dana yang turun, penggelapan. Intinya berpangkal dari tindakan ketidakjujuran.

Pemilu merupakan kesempatan warga negara untuk menggunakan hak guna mendapatkan pemimpin dan wakil rakyat yang bersih, jujur, dan bebas dari tindakan korupsi. Dalam beberapa kesempatan kampanye, beberapa calon ataupun partai politik tentu ada yang mengangkat dan memberikan janji-janji untuk memberantas korupsi di negeri ini. Namun demikian, secara tampak nyata bin wela-wela ketok mencolok mata, ada pula tidak sedikit partai yang mencalonkan tokoh-tokoh kotor yang bahkan pernah secara nyata dan terbukti secara hukum pernah melakukan tindakan rasuah.

KPK kini bisa jadi merupakan satu-satunya lembaga penegak hukum yang masih dipercayai rakyat untuk memberantas korupsi yang telah menggurita di negeri ini. Dengan penyidik-penyidik yang handal dan professional, KPK semakin gencar melancarkan operasi tangkap tangan, alias OTT. Tak tanggung-tanggung, di tengah hiruk pikuk kampanye Pemilu yang berlangsung, KPK tanpa ragu dan sangat berani melakukan OTT terhadap salah satu pimpinan partai politik yang ternama.

Berbicara tentang penyidik KPK, kita mungkin mengenal Novel Baswedan. Dia merupakan penyidik handal yang dimiliki KPK. Ketegasannya yang menjalankan tugas serta kewajibannya menjadikan musuh-musuh negara alias para koruptor tidak pernah tenang. Salah satu kenekadan tokoh koruptor yang tentu berkaitan dengan tersangka yang tengah disidik dan diselidik Timnya Novel Baswedan bahkan menyiramkan air keras ke mata Novel. Hal ini sudah berlangsung sekitar dua tahun silam. Sayangnya hingga saat ini belum jelas, siapakah pelaku maupun dalang di balik peristiwa tragis tersebut.

Adalah Novel Baswedan, tokoh pejuang pemberantas korupsi, pada kesempatan Kenduri Cinta edisi April ini turut merapat dan memberikan sedikit paparan tentang pemberantasan korupsi yang terus ia gelorakan. Alih-alid dendam terhadap para pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya ataupun para tersangka koruptor yang tengah diburunya, Novel justru menyampaikan, “Mentalitas koruptif bagaikan candu yang membuat pelakunya senantiasa “sakau” alias selalu ketagihan untuk korupsi lagi, lagi, dan terus lagi.”

Korupsi yang dilakukan dari jumlah yang kecil namun dilakukan secara terus-menerus dan sistematis menjadikan pelakunya semakin kecanduan untuk terus korupsi. Korupsi bagaikan candu, bagaikan narkoba, bagai ganja yang terus menyeret sosok koruptor untuk semakin tenggelam ke dunia hitam. Dunia korupsi menjadi mirip dengan dunia pelacuran. Para pelaku yang terjerumus ke dalamnya menjadi semakin tidak berdaya, menjadi semakin tidak kuasa, menjadi semakin kecanduan dan tidak memiliki asa untuk keluar dari lembah hitam yang menjerumuskannya,”imbuh Novel.

Lebih lanjut Novel juga menegaskan, “Orang yang tengah tersesat di dunia kelam korupsi patut dikasihani, bahkan dicintai. Orang-orang jujur dan berintegritas harus membantu atau menolong saudara-saudari sebangsa setanah air kita yang tengah terjerumus dalam tindakan korupsi. Cara kita mencintai dan menolong mereka adalah dengan memberantas tindakan korupsi mereka. KPK dan kita semua tidak membenci seorang koruptor. Yang dibenci, dilawan dan diberantas adalah tindakan korupsi dari seorang koruptor.”

Pernyataan Novel yang terakhir ini menyiratkan betapa dirinya semakin arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai penyelidik KPK. Mungkin hal ini merupakan salah satu hikmah penting dari peristiwa penyiraman air keras yang sempat melumpuhkan penglihatannya dua tahun silam. Mungkin juga pandangan tersebut terbentuk dari diskusi-diskusi yang lumayan panjang dalam persentuhannya dengan maiyyah, khususnya Kenduri Cinta.

Dua tahun jalan panjang perjuangan Novel untuk tetap istikomah melaksanakan tugas dan kewajibannya pasca penyiraman air keras yang semakin tidak jelas kasusnya, diperingati dalam sebuah diskusi di pelataran loby utama Gedung Kantor KPK di Rasuda Said. Acara yang dipandu Najwa Shihab tersebut semakin seru dan kontemplatif dengan hadirnya Budayawan Emha Ainun Nadjib.

Setali tiga uang dengan acara diskusi di KPK inilah, Novel dan Tim KPK turut menghadiri forum maiyyah bulanan Kenduri Cinta di pelataran Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya.

Ngisor Blimbing, 14 April 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s