Anak Old Anak Now


Jaman memang berubah. Roda waktu terus berputar dan tak mungkin putar balik ke belakang. Namun rentang waktu senantiasa terhubung antara masa lalu dan masa kini. Antara yang dulu dan yang sekarang. Antara jaman old dan tentu saja jaman now. Ada semacam mata rantai yang tidak akan terputus. Seolah hal itu sudah merupakan keniscayaan jaman.

Masa lalu bisa terentang semenjak jaman detik pertama alam semesta diciptakan dan dibentangkan. Masa jutaan tahun silam di saat dinosaurus atau mamut hadir di muka bumi. Jaman Syailendra, Sanjaya, Mpu Sindok, Kediri, Kahuripan, Jenggala, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram juga masa lalu. Pun masa lalu juga bisa terletak di seper sekian juta detik sebelum tulisan ini diketikkan.

Demikian halnya dengan masa depan. Masa depan bisa masa yang terbentang puluhan, ratusan, ribuaan, bahkan jutaan dari masa saat ini. Pun masa depan juga termasuk rentang waktu sekian seper juta detik dari waktu saat tepat huruf demi huruf ini diketikkan. Manusia sejati berada dalam relativitas perjalanan waktu. Manusia adalah makhluk yang menjalani dinamika waktu. Ia sesungguhnya senantiasa tertinggal dari dimensi waktu dimana ia berpijak. Waktu senantiasa bergerak sangat cepat.

Berbicara mengenai waktu, bahkan jaman, terkait dengan masa anak, masa remaja, bahkan masa muda-mudi tentu juga banyak terjadi pergeseran dari masa ke masa. Anak jaman now, atau yang lebih tenar dengan sebutan generasi milineal adalah generasi yang terlahir dalam gemerlap teknologi yang serba canggih dan serba mapan. Generasi milineal adalah generasi super gaul yang tidak bisa dilepaskan dari dunia online. Game online, belajar online, ojek online, toko online, dan lain sebagainya. Kreativitas dan konsumeritas generasi jaman now tentu saja tidak akan jauh dari jagad online yang mengiringi masa tumbuh kembang anak-anak kita.

Ketergantungan terhadap dunia online secara berlebihan dapat mendorong kepada kondisi “kecanduan” teknologi yang seringkali menimbulkan masalah kurang positif dalam pembentukan karakter, jatidiri, dan juga kemandirian anak-anak sekarang. Bayangkan saja! Semenjak bangun tidur anak sekarang sudah disiapkan segala jenis keperluaannya. Mau mandi, sudah disiapkan air hangat. Mau pakai baju sekolah, baju satu stel sudah siap. Nggak perlu harus menyetrikanya. Mau sarapan, sudah ready di meja makan. Segala kebutuhan prasekolah di rumah sudah disiapkan oleh mamah, ataupun bibi asisten rumah tangga.  Mau berangkat sekolahpun, ya tinggal nebeng ayahnya yang akan berangkat ke kantor, atau naik mobil jemputan atau biasa juga dengan ojek langganan. Singkat cerita generasi jaman now, apa-apa sudah terfasilitasi dengan nyaris sempurna. Ia tinggal fokus untuk sekolah dan belajar.

Beda sekarang memang beda dulu. Jaman sekarang memang tak sama dengan jaman dulu. Terlebih anak-anak di kalangan pedesaan yang notabene anak-anak petani sederhana tentu memiliki warna-warni cerita yang bagaikan langit dan bumi. Sedari bangun tidur, mana ada orang tua yang menyiapkan segala thethek bengek keperluan sekolah sang anak. Ingin sarapan sebelum sekolah, ya harus mau bangun sebelum subuh. Menata kayu dalam tungku dan menyalakannya. Menjerang air, membuat setromos untuk seluruh keluarga. Menanak nasi dan sayur kebanyakan menjadi pekerjaan anak-anak setiap pagi.

Mau mandi pagi? Ya nimba air, isi bak mandi keluarga. Bagi yang tidak memiliki sumur ataupun kamar mandi, ya mandi di sungai atau mbelik. Tidak ada yang menyuruh, segalanya berjalan sebagai sebuah rutinitas. Demikian halnya dengan baju sekolah, perlengkapan sekolah, seperti tas, buku, sepatu, semua harus serba diberesi sendiri tanpa pernah sedikitpun orang tua campur tangan.

Bagaimana dengan bapak-ibunya di kala pagi? Merekapun bukannya bermalas ria. Semenjak fajar merekah si ibu biasa sudah pagi-pagi menuju pasar membawa hasil panenan sayur atau palawija. Sementara bapak selepas subuh sudah langsung turun ke sawah atau ke ladang. Hidup sedemikian penuh kerja keras dan perjuangan. Tentu saja tidak semua anak dan semua keluarga menjalani masa sekolah sebagaimana saya kisahkan di atas. Namun rata-rata anak-anak jaman old yang kini telah menjadi generasi old banyak mengalami kisah yang serupa.

Dilihat dari sisi enak nggak enaknya, tentu anak jaman now jauh lebih beruntung. Namun dibalik semua perbedaan itu, Tuhan juga menggariskan kemandirian dan keteguhan jiwa yang sungguh tak sama. Generasi old yang ditempa dengan segala keadaan kerasnya jaman, kebanyakan menjadi generasi tangguh yang tak kenal mengeluh. Kemandiriannya, kreativitasnya, kedewasaannya, pengalamannya bahkan segala hal yang dibutuhkan sebagai bekal di masa dewasanya dimilikinya. Segala tantangan dan kesulitan hidup dijalani dengan sangat wajar bahkan dinikmati sebagai suatu perjalanan yang senantiasa penuh hikmah. Dari hari ke hari sosok pribadi mereka semakin kaya dengan kekayaan jiwa dan batin.

Lihat kenyataan dengan generasi jaman now yang segala-galanya relatif terfasilitasi! Anak-anak jaman now lebih terbentuk menjadi anak-anak yang serba manja. Sedikit-sedikit menggantungkan diri kepada orang lain. Terbiasa mandi, berbaju, sarapan pagi yang serba siap sedia menjadikannya gelagapan tatkala ibu ataupun asisten rumah tangga sedang tidak ada di rumah. Hal demikian juga sangat terasa tatkala si anak harus jauh dari keluarga saat melanjutkan studi, misalkan harus kos di kota lain. Bisa sich mengandalkan warung dan jasa laundry, namun tentu untuk itu semua membutuhkan biaya yang tidak murah.

Kebiasaan kemana-kemana diantar atau dijemput bisa jadi menimbulkan tidak adanya nyali atau keberanian anak untuk pergi dan pulang ke sekolah sendiri. Banyak sekali anak-anak now yang kebingungan tatkala harus naik angkutan umum, bahkan untuk pulang dan pergi ke sekolah. Secara garis besar dengan segala fasilitas penunjang yang lebih canggih dan modern, belum tentu sebanding dengan perkembangan kecerdasan dan kemandirian anak-anak ketika sebagaimana dibutuhkan sebagai bekal mereka dalam menghadapi masa depan yang semakin ketat dengan persaingan.

Jadi masih mau memanjakan buah hati kita? Alangkah bijak jika anak-anak sekarang tetap diajarkan dan dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhannya sendiri. Kecanggihan teknologi dan kecerdasan anak manusia sama sekali jangan melengahkan orang tua untuk memanjakan buah hati. Kemandirian, kedisiplinan, ketegaran, ketuguhan mental anak-anak jaman now sulit dibentuk dalam kondisi serba pemanjaan di rumah kita. Monggo.

Ngisor Blimbing, 7 April 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Keluarga dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Anak Old Anak Now

  1. Em Syuhada berkata:

    Kizano. Kidz Zaman Now…

    Suka

  2. zunif berkata:

    Bener banget kak, jaman sekarang sudah berubah nggak seperti dulu lagi, kita hidup seakan di 2 dunia, satu dunia nyata dan satu di dunia maya 😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s