Jangan Lompong, Sayur Organik Sepanjang Masa


Tatkala salah seorang mengunggah “buntil” di halaman sosial medianya, saya menjadi ingat  dengan lompong, saudara karib dari sayur berbahan godhong lumbu alias daun talas. Selain sebagai tanaman umbi-umbian yang hasil utama umbinya merupakan sumber karbohidrat, talas memiliki beberapa varian sayuran dari bagian-bagian tubuhnya. Ada daun talas yang dibuat sayur buntil.  Ada batang daun yang disayur lompong. Ada pula pangkal umbi muda, seumumnya talas bogor  yang dikonsumsi sebagai sayur.

Terkhusus daun talas dan lompong, dua bagian tanaman talas ini di masa lalu dianggap sebagai bahan yang tidak berkelas sama sekali. Suatu keluarga yang mengkonsumsi sayur dari daun talas ataupun lompong bisa disebut sebagai keluarga yang kurang mampu. Terlebih khusus lagi perihal jangan lompong. Bahkan sering ada ungkapan untuk anak yang kurang pintar dan hanya bisa plompangplompong atau plonga-plonga alias sering bengong “dituduh” karena kebanyakan mengkonsumi sayur lompong. Tentu dikarenakan keterpaksaan dalam keseharian yang kurang mampu.

Sayur buntil, meskipun sama-sama terbuat dari bagian tanaman talas, nampaknya nasibya lebih beruntung dibandingkan dengan sayur lompong. Konon di masa lalupun banyak kalangan bangsawan dan ningrat keluarga keraton yang telah menggemari sayur buntil. Bahkan hingga saat ini, sayur buntil masih laku keras dijual di pasar-pasar tradisional, hingga warung ataupun restoran yang menyajikan menu sayur klasik.

Nasib yang kurang mujur justru menimpa sayur lompong. Hampir bisa dikatakan sayur jenis ini tidak ada sama sekali yang menjualnya. Carilah di pasar-pasar tradisional, bahkan yang di pelosok kampung dan gunung sekalipun. Terlebih di warung makan istimewa atau restoran. Nihil! Sayur lompong dianggap tidak berkelas untuk laku dijual ke khalayak ramai. Mungkin juga sayur ini masih diidentikkan dengan orang susah, orang tak mampu, alias orang melarat. Alhasil sayur lompong memang hanya bisa dijumpai sebagai menu sayur pelengkap nasi bagi kalangan keluarga tradisional di lingkungan pedesaan.

Membicarakan sayur lompong, saya menjadi teringat obrolan dengan suwargi Padhe Hadi di Dusun Njarakan. Seperti biasa di masa itu kami seringkali hanya dapat bertatap muka dan saling berbincang ya hanya di masa momentum silaturahmi Idul Fitri. Mengamati perkembangan  manusia masa modern yang justru dibelenggu berbagai jenis penyakit tak menular yang semakin menjadi-jadi, seperti jantung, stroke, asam urat, kolesteraol, dan lain sebagainya, Pakdhe waktu menarik beberapa kesimpulan. Penyakit-penyakit tersebut bersumber dari tidak seimbangnya pola hidup manusia saat ini. Tidak seimbang dalam hal pola makan. Tidak seimbang dalam hal kecukupan gerak fisik tubuh, semisal olah raga. Termasuk juga pola istirahat tubuh yang tidak mencukupi sehari-harinya.

Berkaitan dengan ketidakseimbangan pola makan, di samping disinyalir manusia model sekarang yang mengkonsumsi apapun jenis makanan dengan tidak bijaksana, faktor masuknya racun-racun anorganik ke dalam tubuh kita akibat pencemaran ataupun pola konsumsi makanan kita yang kurang sehat memeberikan andil yang sangat besar.

“Hampir semua jenis bahan pangan, nasi, sayur, juga lauk pauk, telah terpapari obat, “ Pakdhe berucap serius saat itu. Obat yang dimaksudkan tentu saja senyawa atau bahan kimia yang terkandung di dalam bebagai jenis obat perangsang pertumbuhan tanaman ataupun obat pembasmi hama. Kita semua tentu sangat tahu dengan pasti pengertian dari pestisida, herbisida, fungisida, dan lain sebagainya.

Pakdhe melanjutkan, “Satu-satunya bahan pangan sebagai sayuran yang tidak mengenal obat hanyalah tanaman umbi talas.” Hampir dipastikan tidak ada petani yang memberikan pupuk kimia terhadap tanaman talas yang biasanya ditanam sebagai tumpeng sari dari tanaman utama. Dengan demikian sayuran yang bebas dari bahan kimia buatan pabrik ya tidak lain dan tidak bukan sayur buntil dan jangan lompong itu tadi.

Lompong alias dahan daun keladi tanaman talas tidak semuanya layak dikonsumsi sebagai sayur. Hanya jenis tanaman talas tertentu saja yang cocok untuk disayur. Dibutuhkan cara atau metode khusus dalam mengelola dan mempersiapkan dahan daun keladi sebelum dimasak sebagai sayur. Jika cara ini tidak dilakukan dengan tepat, kemungkinan dihasilkan sayuran lompong yang tidak mengundang kelezatan namun justru menimbulkan gatal di lidah maupun bagian bibir orang yang mengkonsumsinya.

Dahan daun talas yang panjang dan besar dipotong-potong tipis. Bumbu semi opor bumbu goreng sangat cocok untuk jenis sayur ini. Ditambah dengan taburan ebi, alias udang kering, akan semakin menambah kelezatan. Potongan dahan talas diungkep dengan bumbu hingga layu. Setelah layu volume sayur mentah yang menggunung setinggi wajan besar akan langsung mimpes alias layu. Setelah layu dan dirasa bumbu telah meresap, tiba saatnya diguyurkan air santan kelapa. Santan yang semula putih kental lama kelamaan akan berubah warna menjadi kekuningan. Sambil menunggu mendidih, larutan santan harus senantiasa diaduk. Setelah dirasa cukup matang, sayur lompongpun siap disantap hangat ataupun menunggu dingin.

Belum pernah merasakan sayur lompong yang saya bicarakan ini? Wah sekali seumur hidup setidaknya harus mencoba menu sayur “keramat” yang satu ini. Jika tidak dijamin Anda akan penasaran sepanjang hayat di kandung badan. Monggo kembali mengapresiasi kekayaan kelezatan menu masakan tradisional warisan leluhur kita. Jangan lompong tidak akan mnejadikan Anda ndomblong.

Ngisor Blimbing, 5 April 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s