Bermain Keliling Dunia


Sebagian orang menganggap bahwa dunia tidak selebar daun kelor. Anggapan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa dunia maha luas. Di sisi lain, dengan kemajuan teknologi komunikasi saat ini, setiap saat setiap waktu kita dapat mengetahui segala macam kejadian di belahan dunia melalui media komunikasi. Ada tivi, dan yang lebih canggih tentunya ya internet. Nah kalau sudah merasakan komunikasi antar manusia dari berbagai penjuru dunia yang berlangsung sangat cepat, kita merasa betapa dunia semakin sempit. Ruang dan waktu seolah terlipat-lipat dan dapat kita genggam di tangan melalui smartphone yang semakin canggih.

Dengan semakin derasnya informasi dari penjuru dunia yang dapat kita akses setiap hari langsung maupun tidak langsung bisa jadi secara naluriah membentuk suatu keinginan dari kebanyakan orang untuk bisa mengenal dunia secara langsung. Ya, berkeliling dunia! Siapa yang tidak ingin mengunjungi berbagai negara. Jalan-jalan ke luar negeri untuk tamasya, melanjutkan studi, atau mungkin mencari kerja. Bukan berarti kita tidak cinta tanah air atau luntur jiwa nasionalisme terhadap negeri tercinta, namun sekali-kali ke luar negeri akan sangat membuka wawasan dan pengalaman kita.

Salah satu pondasi mendasar yang menjadi titik pijak dan menjadi awal pengenalan kita terhadap dunia, terhadap negara lain, terhadap bangsa lain, salah satunya adalah pelajaran geografi. Geografi atau ilmu bumi secara formal baru dikenalkan di bangku sekolah menengah pertama. Namun sebagai pengetahuan mendasar, geografi sesungguhnya sudah diperkenalkan semenjak sekolah dasar sebagai bagian dari pelajaran IPS, alias ilmu pengetahuan sosial.

Geografi sebagai ilmu bumi tidak bisa dilepaskan dengan pengetahuan tentang pulau-pulau, lautan,gunung, lembah, hutan, bahan tambang, nama-nama daerah, nama kota, dan lain sebagainya. Untuk mengenal seluk beluk ilmu perbumian tersebut, salah satu media atau alat bantu yang sangat penting adalah peta. Melalui peta kita mengetahui nama-nama negara dengan ibukota negaranya, batas-batas wilayahnya, juga gambaran bentang alamnya. Varian dari peta adalah atlas dan globe atau bola dunia.

Belajar pada dekade dua puluh hingga tiga puluh tahun yang lalu, tentu sangat berbeda dengan metode pembelajaran di saat ini. Jika di jaman dulu, belajar lebih banyak dilakukan secara manual dan dengan peralatan yang serba sederhana, maka di tengah kemajuan dan kecanggihan teknologi saat ini menjadikannya jauh lebih mudah. Di internet saja kita mengenal google sebagai situs penyedia informasi yang sungguh lengkap. Berbagai perangkat digital dan online juga sangat memudahkan anak-anak jaman now untuk menikmati pengalaman “berkeliling dunia”.

Di masa sekolah saya dulu, kelas yang dilengkapi dengan peta hanyalah kelas lima dan kelas enam. Di dinding sisi belakang kelas lima saya dulu terdapat sebuah peta tentang negara kita, Indonesia. Adapun di kelas kenam, sebuah peta dunia tergantung dengan gagahnya. Dari peta itu kami banyak belajar untuk membuka mata terhadap dunia luar negeri. Dari peta tersebut juga kami diantarkan untuk mengetahui nama-nama negara, ibukotanya, wilayahnya dan lain sebagainya.

Di samping mempelajari banyak daerah, banyak negara melalui peta yang benar-benar peta dan tergantung di dinding kelas, salah seorang guru kami di masa bangku SMP malah lebih sering menggunakan telapak tangan dan jari-jemarinya untuk penggambaran suatu daerah atau negara. Dengan daya khayal yang harus tinggi kami membayangkan tengah berhadapan dengan sebuah peta. Peta dengan tangan-tangan ini kami kenal sebagai “peta buta”.

Ketika di Hari Jum’at lalu ibunya anak-anak menenteng sebuah bawaan saat pulang kerja, si Noni anak perempuan kami langsung menyambutnya dengan riang gembira. Ketika bawan tersebut dibuka, ternyata masih terdapat sebuah dus kotak  dengan dominasi warna biru. Ada tulisan mencolok yang langsung tertangkat mata “ Map of the World, National Flag”. Tentu anak perempuan kami langsung tidak sabar untuk membuka mainan baru yang didapatkannya tersebut.

Dan apa yang didapatkan setelah mainan baru tersebut dibuka. Sebuah papan yang tidak jauh berbeda dengan papan pazzel. Ada gambar warna-warni dengan dominasi warna biru laut pada papan tersebut. Warna-warna yang dominan rupanya merupakan penggambaran benua dan pulau-pulau yang terbagi menjadi banyak negara. Itulah sebuah papan peta dunia.

Di samping papan peta sebagai alat permainan utama, paket permainan unik ini sekaligus dilengkapi dengan banyak bendera dari berbagai negara-negara di dunia yang dipasang pada sebuah batang sebagai pegangan atau bisa juga dianggap sebagai tiang bendera. Lalu bagaimana permainan ini dimainkan.

Di atas papan peta dunia, pada berbagai wilayah negara yang ada terdapat lubang-lubang. Tugas dari setiap anak yang turut bermain adalah membagi rata sejumlah bendera yang ada dan untuk selanjutnya menempatkan atau memasang bendera sesuai dengan negara yang memiliki bendera dimaksud. Misalkan bendera negara Jepang harus ditancapkan pada suatu titik lubang di wilayah negara Jepang.

Ada beberapa hikmah atau pengetahuan yang sangat berguna bagi anak-anak kita yang memainkan permainan ini. Pertama, anak didorong untuk mengenali bendera sebuah negara. Kedua, si anak akan mengenal banyak negara berdasarkan warna dan corak bendera masing-masing negara, letaknya dimana, negara-negar di sekitarnya dan lain sebagainya.

Mengenal dunia, mengenal negara, mengenal bendera, mengenal letak suatu negara, mengenal benua, anak benua, pulau-pulau, teluk, selat, laut juga hingga samudera adalah manfaat yang ingin ditanamkan melalui permainan papan peta dunia ini. Papan ini sangat berguna untuk memperluas cakrawala pengetahuan anak-anak, terutama yang berhubungan dengan ilmu bumi alias geografi. Dari bermain keliling dunia melalui papan peta dunia, mungkin kelak di kemudian hari anak-anak kita dapat benar-benar dapat berkeliling dunia.

Ngisor Blimbing, 31 Maret 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Bermain Keliling Dunia

  1. wariharp berkata:

    Amiin. Senang sekali jika permainan edukasi di senangi anak-anak. Ingat zaman saya masih sekolah dulu, senang sekali saat membuka atlas. Lalu berandai-andai ada di negara itu. Sampai hapal nama ibukota, titik-titik kota di dalamnya, dan sebagainya. Saat ini tinggal ketik, muncullah informasi itu.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      betul mas, dulu kita juga dikenalkan peta buta (nggak ada gambarnya, hanya mengkhayalkan telapat tangan guru yang seolah-olah pulau atau tempat tertentu)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s