Hidup Tanpa Hutang. Mungkinkah?


Sejak masih usia sekolah dasar saya senantiasa tergiang ungkapan Dai Sejuta Ummat KH Zainuddin MZ. “Hutang membuat hidup orang tidak tenang. Di siang hari hutang membuat seseorang yang berhutang takut ketemu orang. Adapun ketika malam tiba, hutang membuat orang tidak bisa tidur nyenyak, “ demikian pesannya dalam beberapa kesempatan ceramahnya.

Memang benar adanya bahwa manusia tidak akan pernah dapat mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Secara kodrat, manusia memang makhluk sosial. Ia tidak akan lepas dari orang lain sebagai bagian dari anggota masyarakat yang saling berinteraksi. Saling membutuhkan, saling bergantung, dan saling bantu-membantu menjadi suatu konsekuensi interaksi sosial tersebut. Hal ini juga menyangkut soal utang-piutang.

Adalah sebuah bentuk tata keseimbangan kehidupan dimana ada orang yang berkelebihan dan ada pihak lain yang berkekurangan. Dengan berbagai latar belakang, alasan, kondisi, kebutuhan, kemendasakan, dan lain hal orang yang berkekurangan berhutang kepada pihak lain yang memiliki kelebihan. Mungkin kepada orang per orangan, ataupun melalui suatu lembaga keuangan resmi seperti bank. Hutang tidak hanya dilakukan pada tingkat orang per orang, bahkan negarapun saling berhutang-piutang. Orang miskin berutang kepada orang kaya. Negara miskin berhutang kepada negara kaya. Hal demikian sudah menjadi pengetahuan bersama.

Tanpa sebuah kesengajaan, semalam saya sempat singgah di salah satu treet FB Kagama Grup yang membahas soal hutang-piutang. Intinya salah seorang anggota mengup-date status bagaimana pandangan atau pendapat anggota yang lain tentang berhutang dengan peringatan “hati-hati dengan hutang”.

“Berhutang pada bank itu bukan hal yang menyenangkan karena ada kewajiban untuk membayar bunga dan pokok hutang. Tak terhitung cerita orang yang jatuh susah karena hutangnya pada bank tak sanggup dilunasi. Namun tidak sedikit pula para debitur yang sukses karena mendapat hutang (kredit) dari bank untuk membiayai usahanya. Hutang yang bagus adalah hutang (kredit) yang dipergunakan sebagai modal kerja (modal usaha) untuk membiayai ekspansi usaha, meningkatkan volume produksi/penjualan, membangun pabrik baru, menambah mesin produksi atau melakukan diversifikasi usaha,” demikian pancingan obrolan yang cukup hangat di malam itu. Pada intinya hutang syah-syah saja asal digunakan untuk sebuah kemanfaatan. Tentu akan lebih baik jika uang dari hutang digunakan untuk sesuatu yang produktif.

Saya ndilalah kok ya kemudian turut tergerak untuk turut berkomentar. Ada dorongan untuk sekedar turut berbagi pengalaman kehidupan yang saya alami sendiri. Jika dalam beberapa treet komentar ada yang berpendapat, bahkan berprinsip, kalau tidak dibelain berhutang dirinya tidak akan memiliki sesuatu. Tidak hutang sama dengan tidak akan punya. Misalkan untuk kebutuhan rumah atau tempat tingga. Dengan perbandingan penghasilan yang jauh dari harga sebuah rumah, tidaklah mungkin seseorang yang bergaji pas-pasan dapat membeli sebuah rumah. Maka solusinya ya ngredit, alias berhutang.

Saya sendiri kebetulan orang yang memposisikan diri untuk tidak percaya dengan prinsip “kalau tidak dibelain berhutang tidak akan punya apa-apa” itu tadi. Aneh bin ajaib, tetapi alhamdulillah hingga saat ini saya dan juga keluarga belum pernah sama sekali terlibat hutang (dalam arti kredit ataupun jumlah besar) kepada seseorang maupun lembaga perbankan. Mungkin hal ini karena pilihan kami untuk menerapkan hidup yang sederhana. Tidak perlu bermewah ria, tetapi yang terpenting adalah kehidupan yang bahagia.

Secara umum kebanyakan orang perlu berhutang KPR untuk memiliki sebuah rumah. Bagaimanapun rumah merupakan salah kebutuhan primer yang harus dipenuhi, terlebih jika seseorang sudah berkeluarga. Istri dan anak sebagai sebuah keluarga yang utuh sudah pasti membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal dan wadah keluarga dalam berinteraksi sehari-hari.

Berkenaan dengan rumah, puji Tuhan kami mendapatkan sebuah rumah dengan membeli, bukan mengkredit. Ketika sudah menjalani kerja sekira 5-6 tahun, alhamdulillahnya kami berkesempatan ditawari sebuah rumah berukuran luas 114 meter persegi di pinggiran ibukota. Rumah tersebut berlokasi di samping mall @alamsutera, tepat di pinggiran Jalan Tol Jakarta – Merak. Banyak pihak yang menyatakan rumah seluas itu di lokasi tersebut dengan harga di atas, tentu sangat murah. Ajaibnya pada saat ditawari tersebut, kami memiliki sejumlah tabungan yang mencukupi untuk membeli rumah tersebut. Singkat cerita jadilah kami memiliki sebuah rumah yang hingga sepuluh tahunan ini kami tinggali.

Dari daya atau kemampuan kami mendapatkan rumah tanpa harus mengambil kredit inilah yang menjadi kunci ekonomi keluarga di waktu-waktu selanjutnya. Karena kami tida memiliki kewajiban mengangsur kredit setiap bulannya, alhamdulillah kami justru dapat menyisihkan sebagian dari gaji kami untuk ditabung. Lanjut berlanjut dengan kesederhanaan kehidupan kami, nilai tabungan yang terkumpul melampaui BEP dari kebutuhan rumah tangga kami. Dengan keadaan yang demikian kami serasa menerima income passive di setiap kesempatan menerima gaji bulanan kami.

Ternyata memang benar Lur, hidup tanpa memiliki tanggungan hutan itu sungguh nikmat. Hari-hari dapat kami jalani dengan tanpa beban. Kamipun terbiasa berpikir tentang sebuah kebutuhan dibandingkan hanya sekedar memikirkan keinginan, terlebih hawa nafsu kami untuk memiliki segala hal. Mungkin hal yang kami alami merupakan salah satu makna dari sebuah keberkahan hidup. Hidup yang penuh berkah. Hidup berkah berkat hidup tanpa hutang. Bukan aneh bin ajaib dan bukan sesuatu yang impossible jika mampu dan dimampukan oleh Tuhan untu menjalani hidup tanpa hutang.

Ngisor Blimbing, 29 Maret 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s