Membayang Kain Kebayang


Tengah hari itu kekhusyukan saya dalam membaca sebuah buku sedikit terusik. Dari balik jendela terdengar riuh rendah obrolan tiga bocah di teras luar. Merekalah Nadya, Rara, dan Syifa. Trio bocah kelas Nol Kecil dari RA Permata Hati itu memang karib tak terpisahkan. Ketiganya selalu lengket di sekolah. Selepas pulang sekolahpun mereka seringkali bermain bersama. Meskipun rumah masing-masing tidak dekat, bahkan sudah beda kampung, namun ketiganya sering saling berganti kunjung-mengunjungi.

Siang itu mereka memang baru membawa warta pengumuman dari sekolah. Menjelang bulan April, mereka sudah menerima pengumuman akan diadakannya peringatan Hari Kartini di sekolah mereka. Seumumnya Hari Kartini yang sudah-sudah, siswa diwajibkan mengenakan pakaian adat. Negera kita yang beragam suku memang memiliki beragam pakaian adat. Kesempatan Hari Kartini menjadi salah satu momentum untuk lebih menanamkan jiwa nasionalisme kepada anak-anak sejak dini. Salah satunya ya melalui pengenalan terhadap pakaian adat tersebut.

Besok sama Bunda kita disuruh memakai baju kebayang ya?” celoteh Syifa membuka cerita. Tentu saja ungkapan “baju kebayang” dari Syifa menjadikan Nadya dan Rara tertawa cekikikan.

Nadya bahkan menyahut untuk menambah kegaduhan, “ Ha? Mana ada baju kabayan!” Masih sambil cekikian ia langsung berdiri. Dengan pose badan setengah membungkuk ia menyilangkan tangan kanan di depan dada, sedangkan tangan kirinya digendong di punggung belakangnya. Sambil megal-megol, ia mengucapkan mantra, ”Geal-geol, megal-megol, guthak-guthek!” Rupanya ia tengah memperagakan tingkah laku lucu film Kang Kabayan yang pernah ditontonya melalui channel Youtube. Sebuah adekan saat Kabayan memanggil jin teman karibnya.

Tentu saja saya langsung paham dengan celotehan bocah-bocah tersebut. Sebagaimana baju yang dikenakan Kartini dalam gambar-gambar dirinya, ia mengenakan baju kebaya. Baju khas bagi seorang perempuan Jawa. Baju kebaya, bukan baju kebayang ataupun baju kabayan. Tentu patut dimaklumi, seorang bocah masih belum paham dan sepotong-potong mendengarkan keterangan dari bunda gurunya. Jadilah saya justru membayangkan tentang baju kebayang dan baju kabayan. Lucu juga jika dipikir-pikir.

Hari Kartini memang masih tiga minggu lebih. Namun melihat betapa sekolah tempat ketiga bocah tersebut bersekolah sudah merencanakan peringatan Kartinian dan juga antusiasme para bocah dengan bergembira menyambutnya merupakan sebuah hal yang membanggakan. Hari Kartini biasanya disemarakkan dengan pawai pakaian adat dan juga berbagai lomba yang biasanya terkait dengan kerumahtanggaan. Lomba kerapian busana, ada pula fashion show pakaian adat. Tidak ketinggalan lomba deklamasi dan menggambar sosok Ibu Kita Kartini. Tak jarang pula lomba masak-memasak. Intinya pada hari tersebut kita semua diperingatkan tentang makna kesetaraan antara pria dan wanita. Tentu saja nilai kesetaraan tersebut akan sangat bagus dan lebih bermakna jika telah tertanam semenjak usia anak-anak di taman kanak-kanak.

Dengan penuh semangat Nadya sangat percaya diri bahwa ia telah memiliki sebuah baju kebaya berwarna pink. Dengan perpaduan kebaya warna pink dan jarik lurik berukuran mungil yang pernah dikenakannya juga, ia sangat gembira akan adanya Hari Kartini di sekolahannya. Demikian halnya dengan si Rara. Ia juga pernah dibelikan baju kebaya oleh ibunya. Iapun kelihatan sudah tidak sabar untuk segera mengenakannya dan menyambut Hari Kartini dengan riang.

Lain Nayda dan Rara, lain bagi si Syifa. Sejenak riuh rendah kelucuan dan keluguan dengan istilah baju kabayang, Syifa sedikit mengeluh. Ia jelas-jelas tidak memiliki baju kebaya. Bagaimana nantinya ia harus ikut Kartinian jika ia tidak mengenakan baju kain kebaya. Dengan penuh keberanian ia menanyakan kepada temannya yang lain, apakah ada yang memiliki baju kebaya lebih dari satu. Ia akan sangat senang jika ada diantaranya temannya yang mau meminjaminya baju kebaya. Tentu saja bagi Rara dan Nadya, mereka hanya bisa terbengong mendengar keluhan sahabatnya. Di satu sisi mereka hanya memiliki satu baju kebaya, di sisi lain mereka merasa kasihan dengan keadaan Syifa. Dalam hati kecil mereka tentu ingin membantu Syifa.

Sebagaimana keluarga sederhana di kanan-kiri tempat tinggal kami, kamipun hanyalah sebuah keluarga sederhana. Namun dibandingkan dengan keluarga Syifa, kami masih lebih beruntung. Ketika keluhan Syifa tersebut sempat saya ceritakan kepada istri di sore harinya, ada niatan dari kami untuk sekedar mencarikan sepotong baju kebaya dan kain jarik mungil untuk si Syifa. Entah di Tanah Abang, WTC, atau pasar lain mudah-mudah dalam waktu beberapa hari ke depan kami bisa mendapatkannya. Alangkah akan riangnya hati Syifa kecil jika nantinya ia dapat turut serta berkartian ria bersama teman-temannya yang lain. Tentu hal itu akan menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang masa depannya kelak di kemudian hari. Semoga.

Ngisor Blimbing, 26 Maret 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Keluarga dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s