Refreshing Memahami Rumus Pythagoras


Berhitung merupakan kecakapan yang penting untuk menunjang berbagai aktivitas manusia. Dalam penumbuhkembangan kemampuan kognitif seorang bocah, berhitung bahkan menjadi bagian dari pilar ca-lis-tung. Baca, tulis, dan berhitung merupakan kemampuan dasar yang menjadi dasar pijakan untuk penguasaan ilmu pengetahuan pada fase-fase pembelajaran selanjutnya. Tiga kemampuan dasar inilah yang diperkenalkan pertama kali kepada seorang bocah semenjak di bangku TK, bahkan kini di tingkat PAUD atau taman bermain.

Berhitung terformulasikan menjadi ilmu hitung. Dulu lebih populer sebagai ilmu aljabar. Secara umum kalangan awam kini lebih mengenalnya sebagai matematika. Bagi sebagian siswa, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan tidak semua guru bidang studi matematika mampu menerangkan konsep-konsep dengan sederhana, menggunakan berbagai alat peraga yang memadai, dan senantiasa dihubungkan dengan konteks penggunaan atau penerapan ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Si Ponang yang kini tengah duduk di bangku kelas V SD juga seringkali merasa kesulitan untuk memahami konsep-konsep matematika. Pola ajar yang diperolehnya di kelas seringkali lebih menekankan siswa untuk hafal daripada memahami sebuah konsep. Meskipun nilai hasil ulangan maupun tes tidak pernah kurang dari 90, namun banyak hal berkaitan dengan pemahaman yang mendasarkan harus kami kawal dalam proses pembelajaran di rumah.

Memahami keterbatasan jam pelajaran dan juga rasio pendampingan satu orang guru yang tidak berimbang dengan jumlah siswa di dalam suatu kelas, mau tidak mau sebagai orang tua kitapun harus ikut cawe-cawe alias campur tangan agar anak-anak memiliki pemahaman konsep yang baik dan benar dalam setiap pelajaran daripada sekedar mampu menghafal. Memang kita sebaiknya senantiasa membersamai anak-anak ketika belajar di rumah. Alangkah akan senang dan menggembirakan bagi seorang anak jika ia merasa didampingi dalam kegiatan belajarnya.

Sebagaimana semalam, kami banyak berdiskusi tentang konsep pangkat dan akar suatu bilangan bulat. Konsep itupun kami aplikasikan dalam rumus Pythagoras yang sangat terkenal itu. Sebagaimana masih saya ingat dan pahami dengan baik semenjak bangku sekolah dasar, rumus yang ditemukan ilmuwan matematika dari Italia ini sangat berguna dalam menghitung panjang suatu sisi dalam sebuah segitiga siku-siku. Pada sebuah segitiga siku-siku berlaku bahwa kuadrat panjang sisi miring sama dengan penjumlahan kuadrat dari sisi-sisi yang lain.

Untuk memberikan gambaran yang nyata dan pernah dilihat langsung oleh si Ponang, saya mencontohkan sebuah tangga. Kebetulan kami memiliki sebuah tangga kayu yang biasa kami gunakan untuk keperluan untuk naik-turun atap maupun kebutuhan yang lain. Tidak hanya kami gunakan sendiri, tangga kayu itupun seringkali dipinjam oleh tetangga kanan-kiri rumah kami untuk keperluan tertentu. Membenahi atap, memangkas ranting pohon, bahkan mengambil layangan yang nyangkut di pohon, tangga kami sering digunakan.

Tangga dengan panjang tertentu yang kita sandarkan pada sebuah bidang dinding, tentu akan membentuk sebuah bangun segitiga siku-siku. Panjang tangga merupakan sisi miring dari segitiga tersebut. Dengan mengetahui jarak antara ujung bawah tangga dengan ujung bawah dinding, kita dapat menghitung dengan mudah tinggi dari dinding yang tengah kita panjat.  Caranya yang dengan menerapkan rumus Pythagoras itu tadi.

Ketika kami mengeksplorasi benda-benda lain yang berkenaan dengan konsep segitiga siku-siku dan rumusan Pythagoras, si Ponang nampak semangat dan antusias membayangkan untuk kemudian memahami konsep-konsep dasar yang berlaku. Tidak terbatas sekedar paham tentang konsep segitiga siku-siku, dalam proses perhitungan yang kami lakukan si Ponang juga belajar paham beberapa konsep lain yang berkaitan. Pemangkatan suatu bilangan, penjumlahan, perkalian, pembagian, dan tentunya pengakaran dipelajari sekaligus. Ada pula konsep tentang sudut.

Belajar tentang ilmu hitung adalah belajar tentang banyak aktivitas keseharian kita. Menghitung pisang, buku, kelerang, kue, piring, adalah implementasi dari matematika. Mengetahui bentuk papan tulis, gambar, daun pintu, daun jendela, rumah tingkat, apartemen, mobil tangki, dan lainnya juga merupakan penerapan matematika. Demikian halnya dengan mengukur volume gelas minum kita, toples tempat kue kita, ember wadah air, lemari baju kita, semua tidak lepas dari ilmu matematika.

Dengan cerita ngalor-ngidul sambil memberikan banyak contoh penerapanan matematika menjadikan pembelajaran yang kami lakukan bersama sungguh mengasyikkan. Ketika kami tanyakan kepada anak kami apakah guru-gurunya di sekolah senantiasa menjelaskan konsep matematika dengan panjang-lebar, jelas, gamblang, dan diberikan banyak contoh aplikasi di sekitar kita, ia hanya menggeleng sambil menjawab, “Ya nggak pernahlah Pak!”

Menapaki jaman now dengan dinamika perubahan yang demikian cepat, kita sebagai orang tua nampaknya tidak bisa lepas dan mempercayakan pendidikan anak-anak kita kepada sistem yang ada. Jika bercermin kepada nilai akademik anak-anak sekarang yang sangat tinggi (nilai 80-90 adalah hal yang biasa saat ini), namun tanpa disertai dengan pemahaman yang mendalam terhadap suatu konsep ilmu pengetahuan tentu kita sungguh harus berprihatin. Dalam keadan yang demikian, pilihan kita mungkin tidak banyak. Membiarkan saja apapun yang terjadi dengan anak kita tanpa sesuatu tindakan, memasukkannya ke lembaga bimbingan belajar atau les-lesan, atau mendampingi dan membersamainya dalam kegiatan belajar?

Ah, Pythagoras! Mungkin pada saat dia njenuk belajar dan menemukan rumus terkenalnya, ia tidak pernah menemui dilematika anak sekolah sebagaimana kini dialami siswa-siswi dan anak-anak kita. Semoga bisa menjadi bahan perenungan bersama.

Ngisor Blimbing, 25 Maret 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s