Emak Jaman Now pada Suatu Kereta pada Suatu Ketika


Kereta yang saya tumpangi sejenak memasuki Stasiun Prujakan, salah satu stasiun kereta api di Kota Cirebon. Rasanya belum begitu lama saya terlelap. Tak satu kisah mimpi singgah dalam tidur yang setengah sadar setengah tak sadar tersebut. Dengan demikian sejatinya kesadaran jiwa dan raga sayapun juga dalam keadaan setengah sadar setengah tak sadar. Berhubung penumpang kereta cukup senggang, sayapun dapat tidur telentang pada bangku barisan tiga penumpang yang kebetulan hanya saya duduki seorang diri.

Ketika kereta kembali melaju, sekonyong-konyong ada sesuatu yang mengejutkan. Ada getaran angina berdesir di atas kepala. Seketika saya bangun dan terduduk. Bukan khayalan, bukan ilusi. Bukan hantu ataupun lelembut atau makhluk halus yang telah mengejutkan saya. Rupanya seorang bocah yang belum genap berumur dua tahun tengah berdiri di lorong kereta persis di atas kepala saya. Ia adalah seorang bocah yang tengah naik kereta menuju Jakarta sebagaimana saya. Ia bersama dengan ibunya duduk di bangku kursi sebrang temat duduk saya.

Bocah itu segera menghampiri tempat duduk saya. Dengan setengah rambatan dan sedikit susah payah, iapun naik ke bangku yang saya duduki. Dengan tenang ia segera duduk selonjoran di hadapan saya yang segera menyesuaikan diri untuk memberinya ruang duduk. Saya tersenyum. Saya pandangi matanya dengan lekat. Sedapat mungkin saya memasang gestur tubuh ingin bersahabat dengannya. Ia sama sekali tidak takut, bahkan membalas uluran senyum ikhlas yang saya berikan.

Ketika si bocah memegang-megang kaos kaki belang yang terbungkus di dalam sepatu sandar biru bercelah yang dikenakannya, saya segera turut memegangi sepatu birunya tersebut. Dengan pelan dan senagaja mendekatkan suara ke samping telinganya, saya bisikkan kata-kata untuk membuka obrolan. Sayapung mengarahkan si bocah dengan obrolan tentang kaos kakinya, tentang sepatu birunya, tentang dirinya yang belum keunjung ngantuk ataupun tidur. Intinya saya berusaha berdialog dan berbicara dengannya.

Sebagai bocah yang belum genap dua tahun, mungkin ia memang memiliki sedikit kelambatan berbicara. Ia hanya membalas senyum. Sorot matanya yang tajam dan bersih memancarkan daya kesucian jiwa seorang bocah yang masih murni. Bocah yang masih belum mengenal kesalahan dan dosa. Benih murni seorang penerus keluarga yang tentu oleh kedua orang tuanya digadang-gadang untuk menjadi sosok manusia yang berguna serta penuh kemanfaatan bagi sesama.

Sesaat ketika kebetulan saya mengeluarkan hp, si bocah turut duduk dengan tenang dan memegangi sepatu birunya. Saya segera tanggap. Sayapun kemudian membidikkan mata kamera ke arahnya dalam beberapa angle. Saat tangan si bocah sejurus kemudian berusaha turut merengkuh hp yang saya pegang, saya segera membuka file foto tentang dirinya yang sesaat sebelumnya telah saya ambil. Melihat penampakan gambar yang ada di layar hp, si bocah spontan nyengir. Rupanya ia paham bahwa gambar tersebut adalah gambar dirinya sendiri. Telunjuknya segera menunjuk wajah, baju, dan sepatu biru yang ada di gambar. Ia seolah ingin berkisah bahwa memang dirinyalah yang ada di gambar tersebut. Dalam situasi demikian, nampaklah sangat jelas senyum nyengirnya menggambarkan keceriaan hatinya.

Sementara untuk beberapa lama kemudian kami ngobrol, kami bercanda, kami saling berinterakasi bersama nampak di seberang tempat duduk kami, ibunya masih terus lekat kedua tangannya ke hp yang digenggamnya. Tak nampak sesekali ia menengok sekedar memastikan anaknya baik-baik saja. Ia terus konsentrasi penuh ke hap-nya. Semenjak anaknya berpindah dan berdekatan dengan saya, ia seolah semakin khusuk dan tenggelam dalam suatu keasyikan yang saya sendiri tidak dapat menduganya. Sejam, dua jam, bahkan hampir lebih dari tiga jam hal tersebut berlangsung.

Dalam beberapa kesempatan, tentu si bocah tidak selamanya betah dan jenak duduk di samping saya. Sebagai bocah yang cukup enerjik dan turah tenaga, iapun naik turun tempat duduk. Beberapa kali ia berdiri, berjalan, mengintip penumpang lain yang rata-rata tengah tertidur pulas di depan ataupun belakang barisan bangku kami. Eloknya lagi si ibu dari si bocah hanya sesekali melirik ataupun menengok keberadaan anaknya. Ia masih tetap khusuk dengan hp-nya yang entah tengah melakukan hal yang memang penting ataukah sekedar melakukan kesenangan-kesenangan untuk diri sendiri. Beberapa momen dan kesempatan sengaja saya abadikan dalam foto.

Seorang anak batita ataupun balita seyogyanya tentu harus senantiasa dalam pengawasan orang tuanya. Hal tersebut tentu semestinya tidak boleh sama sekali terabaikan jika kita dalam situasi bepergian dengan kendaraan umum massal selayaknya kereta api yang tengah kami naiki. Dalam setiap waktu, dalam setiap kesempatan, bahkan sepanjang waktu seorang anak butuh kelengketan dan kebersamaan bersama dengan orang tuanya. Bukan tanpa sebab dan tentunya bukan tanpa alasan, seorang anak kecil butuh bimbingan orang tua dalam pengembangan pertumbuhan syaraf-syaraf kognitif sederhananya.

Dalam sebuah perjalanan, tetap sepatutnya kondisi kedekatan, kelengketan, dan kebersamaan antara anak dan orang tua senantiasa berlangsung. Siatuasi dan kondisi di dalam kereta, terkait penumpang lain di gerbong yang sama, laju kereta yang kadang cepat terkadang lambat, namun tetap menghasilan guncangan dan goyangan yang menggaggu lelap  nyenyak penumpang, tentang lampu dan kunang-kunang yang terlihat di luar layar jendela kita, semuanya bisa menjadi bahan obrolan maupun perekat perbincangan yang akrab antar anak dan orang tuanya.

Oalah jamannya memang sudah jaman now. Emak-emak jaman now ternyata ada yang seolah lebih mengutamakan urusan hp-annya dibandingkan ngopeni buah hatinya. Seorang teman bahkan memberikan sindirannya, “Hp-ne ilang tuku meneh, anak-e ilang gawe meneh!” Wuaduh, nampaknya kasus kecil yang tengah saya paparkan di atas harus menjadi perhatian, tidak saja bagi orang tua si bocah, namun juga bagi segenap pasangan muda-mudi jaman now yang harus selalu up-date ilmu-ilmu parenting yang tepat dalam rangka menghantarkan buah hatinya menuju masa depan yang lebih gemilang.

Ngisor Blimbing, 22 Maret 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s