Tangis Lelayu, Tangis Kelayung Layung


“Ana tangis kelayung-layung, tangise wong kang wedi mati. Gedongana, kuncenana, yen wus mati mangsa wurunga.”

Ada tangis haru biru menyayat-yayat  kalbu. Tangis yang menyayat kalbu itu merupakan tangis dari seseorang yang takut akan kematian namun di saat itu ia justru tengah benar-benar menghadapi dan mengalami kematian itu. Sekuat apapun tembok, gedung, bahkan benteng yang dilengkapi kunci-kunci pintu yang kuat nan kokoh, jika memang tiba saatnya malaikat maut menjemput tidak akan dapat terelakkan lagi.

“Ditumpake kreta Jawa, rodane roda menungsa. Ditutupi ambyang-ambyang, disirami banyune kembang.

Dan tatkala maut telah menjemput, terpisahlah ruh dari raga. Raga tanpa ruh, tanpa jiwa itulah si mayat almarhum atau almarhummah. Dan si mayat itupun selanjutnya dibawa dengan kereta. Kereta yang membawa tersebut bukanlah kereta kencana sebagaimana kendaraan kebesaran para raja. Kereta tersebut juga bukan kereta ringan, kereta listrik, ataupun kereta cepat. Kereta itu adalah kereta dengan roda manusia. Kereta yang berjalanan di atas pundak orang-orang tersayang yang memikul, menyangga, untuk membawanya ke alam baka. Orang-orang terkasih yang rela menjadi roda untuk mengantar ke tanah pusara.

Tidaklah berhias permata ataupun emas picis rajabrana. Kereta yang bukan kereta kencana itu hanya berhias reroncen kembang sederhana. Rangkaian mawar, melati, kanthil, kenikir, berenda hijau anyaman  daun pandan wangi. Kembang-kembang bersumbu benang putih nan suci itu bergoyang-goyang oleh kereta yang berguncang. Warna-warni memberi kesan kontras dengan latar kain ambyang-ambyang hijau penuh kesegaran namun juga penuh kesedihan.  Kain ambyang-ambyang berhias rangkaian kembang itupun menjadi tabir rahasia si mayat yang sebelumnya telah dimandikan dengan wewangian air kembang.

“Duh Gusti Allah, kula nyuwun pangapura. Ning sayange wis ra ana guna.”

Adapun si mayat seolah diam seribu Bahasa di dalam kereta jawa yang tengah melaju. Dalam keadaan diam, ia seolah mengungkapkan permohonan ampun kepada Yang Maha Kuasa. Baik yang telah cukup memiliki bekal, terlebih yang berkekurangan bekal, semuanya memanjatkan pengampunan. Dan sebaik-baiknya bekal naik kereta jawa tiada lain tiada bukan adalah amal baik dan amal kebajikan. Bagi yang berkecukupan bekal, ia seolah ceria menyambutkan masa kebahagiaan kekal yang selalu dinanti-nanti. Namun sebaliknya, bagi yang berkekurangan bekal, ia bagaimana memasuki alam gelap yang akan penuh siksaan. Di saat inilah betapa ia merasa sangat menyesal dan ingin mengulang pertobatan. Bagaimanapun juga hal itu tiada lagi guna. Semua menjadi sia-sia sepanjang masa.

Kulon Balairung, 14 Maret 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s