Transportasi Multimoda Terintegrasi


Jakarta sebagai ibukota negara, ibukota pemerintahan, dan ibukota ekonomi ibarat segumpal gula yang menarik ribuan semut-semut kecil dari berbagai daerah. Jakarta masih menjadi ladang harapan penghidupan bagi banyak warga daerah lain. Tak dipungkiri arus urbanisasi di ibukota menjadikan kepadatan penduduk terus meningkat. Keterbatasan lahan menjadikan pengembangan perumahan-perumahan baru bergeser semakin kea rah pinggiran. Jadilah daerah seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sebagai daerah penyangga dan tempat bermukin ribuan warga yang sehari-harinya nglaju kerja di Jakarta.

Keberadaan permukiman di pinggiran kota di satu sisi dan tempat bekerja di tengah kota pada sisi yang lain memerlukan dukungan sarana dan prasarana transportasi pendukung yang memadai. Kemacetan menjadi dampak yang harus dinikmati warga sehari-hari karena tidak berimbangnya antara jumlah dan sarana transportasi dengan banyaknya warga yang bermobilitas.

Kereta api merupakan salah satu moda transportasi umum yang bersifat massal. Sarana yang satu ini menjadi andalan bagi sebagian warga commuter yang kebanyakan tinggal di kantong-kantong permukiman yang dikembangkan tidak jauh dari jalur ataupun akses stasiun kereta api. Kereta api menjadi sarana transportasi yang handal karena ketepatan waktu dengan jadwal perjalanannya yang ketat. Alhasil, bagi sebagian besar warga commuter, kereta api dengan commuter line-nya menjadi tulang punggung dan satu-satunya moda transportasi andalan untuk aktivitas sehari-hari. Ya pergi pulang kantor. Ya pergi bersama keluarga. Pendek kata dalam bermobilitas, kalangan ini menjadi sangat tergantung dengan kereta api.

Lalu bagaimana jika pada suatu ketika tiba-tiba jalur kereta api mengalami gangguan? Bisa jadi ada kereta yang anjlok atau kecelakaan. Bisa jadi ada gangguan sinyal akibat listrik konslet. Bisa pula karena hujan badai yang menumbangkan pohon dan merusak jaringan listrik pendukung KRL. Atau mungkin adanya longsoran yang memutus jalur rel. Bagaimana dengan rutinitas warga yang sudah sangat menggantungkan diri dalam bermobilitas dengan commuter line?

Hari ini kembali terjadi sebuah tragedy kereta api. Sebuah commuter line yang biasa melayani relasi Jakarta-Bogor mengalami insiden sesaat sebelum memasuki Stasiun Besar Bogor. Beberapa gerbong terdepan anjlok, bahkan terguling dari jalur rel yang semestinya. Tidak hanya sekedar anjlok dan terguling, bahkan gerbong-gerbong tersebut sempat menabrak tiang listrik di pinggir jalur sehingga memutus sistem catu daya bagi KRL yang beroperasi. Beberapa penumpang menjadi korban dan harus dilarikan ke rumah sakit, termasuk sang masinis pengemudi kereta.

Adanya kejadian yang tidak diharapkan ini telah menjadikan gangguan layanan kereta api yang tentunya berdampak kepada ratusan ribu pelanggannya. Untuk pergi dari dan atau ke Bogor maupun Jakarta, kereta api hanya dapat melayano penumpang hingga Stasiun Cilebut, Bojong Gede, bahkan konon ada yang hanya hingga Stasiun Depok Baru. Selanjutnya penumpang harus mencari alternative kendaraan lanjutan yang lain. Entah estafet bergonta-ganti angkot. Naik ojek, naik taksi, atau cara-cara yang lain.

Bagi warga di seputaran Jabodetabek yang berada di dekat jalur kereta api, sarana transportasi ini benar-benar telah menjadi satu-satunya andalan untuk bepergian. Tidak saja hanya di sepanjang jalur kereta menuju Depok atau Bogor, hal yang sama juga berlaku bagi warga di sekitar Bintaro, Serpong, Cisauk, Maja, hingga Rangkasbitung di jalur barat. Demikian halnya dengan warga di Bekasi, Lemah Abang, hingga Cikarang di relasi timur. Kejadian gangguan jalur,  insiden atau kecelakaan kereta api senantiasa mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini disebabkan ketergantungan satu-satunya kepada moda transportasi kereta api.

Masalah ketergantungan satu-satunya kepada kereta api sebenarnya sangat terkait dengan perencanaan dan pengembangan moda transportasi yang dilakukan pemerintah. Hingga saat ini integrase antar moda transortasi belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Banyak tempat-tempat ataupun stasiun-stasiun yang belum diintegrasikan dengan sarana angkutan kota yang lain. Kita mungkin tidak hanya sekali-dua kali mendengar cerita ketika suatu jalur kereta api mengalami gangguan betapa para penumpangnya harus bergonta-ganti dan berestafet untuk pergi ataupun pulang kerja.

Pernah ada seorang teman yang pulang dari kantor di bilangan Jakarta Pusat jam 04.00 sore baru tiba di rumahnya di wilayah Bogor lewat tengah malam ketika suatu saat terjadi gangguan jalur kereta. Ia harus berkali-kali ganti kendaraan angkutan. Tempat tinggalnya yang berada di sekitar sebuah stasiun di wilayah Bogor menjadikannya sangat mengandalkan kereta api dan iapun tidak pernah menggunakan moda transportasi yang lain. Kereta api menjadi satu-satunya pilihan karena kedekatan akses ke stasiun, paling murah tarifnya, dan paling tepat waktu. Ketika kereta api mengalami gangguan, ia sama sekali tidak memiliki pilihan sarana transportasi lain yang dapat menggantikan kehandalan kereta api.

Kisah seperti di atas tentu tidak hanya sekali-dua kali terjadi. Alangkah baiknya jika antar moda transportasi, semisal kereta api, bus, hingga angkot saling terintegrasi dan satu-sama lain saling melengkapi serta dapat saling memback-upa. Jika suatu ketika suatu moda transportasi mengalami gangguan, dengan sangat cepat warga dapat beralih dengan menggunakan moda transportasi yang lain. Dengan sarana transportasi yang saling terintegrasi antar moda, kejadian-kejadian di atas sedikit banyak akan terantisipasi dan warga tetap dapat beraktivitas dengan nyaman. Tidak hanya faktor kenyamanan bagi penumpang, secara makro, integrasi moda transportasi juga akan menghindarkan kerugian akibat terdampaknya kegiatan ekonomi dan bisnis ketika suatu moda transportasi andalan mengalami gangguan. Semoga hal semacam ini menjadi pembelajaran bersama bagi  pihak-pihak terkait.

Ngisor Blimbing, 10 Maret 2019

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s