Sugeng Kondur Pakdhe Aris


Sosok lelaki itu memang telah memasuki usia paruh senja. Rambut di atas kepalanya sudah memutih semua. Gurat keriput di raut muka nampak dengan nyata. Beberapa deret gigi telah tanggal dan tidak utuh lagi. Perawakan tubuhnya tidak lagi tegap sebagaimana ketika ia masih muda. Demikian kekuatan tubuhnya sudah pasti tidak lagi seperkasa di masa-masa sebelumnya.

Sebagaimana para lelaki seusianya di kampungnya, ia adalah seorang petani sejati. Sedari para kakek-nenek buyut dan juga para simbah-simbahnya menekuni petani secara turun-temurun. Bagaimanapun bentang alam dan tanah subur di sepanjang batas desa telah menyediakan lahan sebagai sawah ladang sumber penghidupan. Bertani dan bercocok tanam adalah keahlian turun-temurun yang menjadi sebuah ladang kemuliaan pengabdian.

Sosok lelaki tersebut bukan bapak saya. Lelaki tersebut tepatnya adalah bapak dari salah seorang teman SMP. Lelaki yang dalam kesederhaan pikir dan pola hidupnya namun memiliki jangkauan pandangan ke depan bahwa pendidikan bagi anak-anaknya merupakan suatu hal yang sangat penting. Meskipun dirinya sendiri hanya mengenyam bangku sekolah rakyat, alias SR, namun baginya anak-anak harus mengenyam pendidikan yang lebih baik, bahkan lebih tinggi. Tidak sebagaimana kebanyakan para petani lain di desanya yang menyekolahkan pada sembarang sekolahan, ia telah berpandangan anaknya harus sekolah di sekolahan yang favorit. Jadilah salah seorang anaknya menjadi teman sekelas saya di bangku SMP.

Desa tempat tinggal lelaki tersebut sebenarnya tidaklah dekat dari sekolah SMP kami, mungkin tak kurang dari 8-10 km. Di samping letak yang cukup jauh, tidak ada akses angkutan umum yang melintas. Dengan semangat baja yang ditanamkan ayahnya, teman SMP saya tersebut menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah dengan berjalan kaki. Tidak tanggung-tanggung, tiga tahun bersekolah dengan sabar dijalani dengan jalan kaki, setiap hari, setiap pagi, setiap siang, dalam panas maupun hujan.

Diantara teman-teman sekolah di bangku SMP tersebut, sosok lelaki bersahaja ini mungkin menjadi deretan orang tua teman sekolah yang relatif paling kenal dan menghafali saya. Setidaknya selepas kami lulus dari bangku SMP, saya termasuk teman sekolah anaknya yang menyambanginya di Hari Lebaran. Saya sendiri menganggap teman saya, bapak-ibunya, dan saudara-saudara sebagai saudara sendiri. Bahkan ketika teman saya akan melangsungkan pernikahan, dengan sepenuh hati lelaki bapak dari teman saya tersebut mengutarakan keinginan agar saya turut menemani di acara akad nikah. Tidak tanggung-tanggung dalam acara di Magetan kala itupun, saya menyengajakan diri cuti selama sepekan.

Sore itu mendung masih menggelayut setelah sejak pagi hujan tiada henti. Saat menunggu untuk menjemput istri yang pulang kerja di depan sebuah minimarket, saya secara kebetulan membuka halaman facebook untuk sekedar mengisi waktu. Dalam baris update status beberapa friends, saya tertegun dengan sebuah status yang mengabarkan kabar duka. Halaman facebook tersebut milik adik dari teman SMP yang saya ceritakan di atas. Dalam statusnya ia mengabarkan bahwa bapaknya telah dipanggil keharibaan-Nya di hari sebelumnya. Tidak hanya sedertan status kalimat duka, adik dari teman saya tersebut juga mengunggah beberapa foto yang merekam foto sang bapak dan beberapa sudut suasana di rumah duka. Spontan tentu ada rasa keterkejutan yang saya rasakan. Ada rasa duka yang langsung menggelayut di jiwa.

Sejurus kemudian sayapun menuliskan kalimat turut belasungkawa di kolom komentar. Selepas itu sayapun mencoba mengontak teman SMP yang merupakan kakak dari si empunya halaman facebook yang saya kunjungi. Saya menyadari tentu teman saya tengah dalam suasana sibuk dengan banyak saudara ataupun rekan yang tengah datang melayat. Sayapun memilih untuk menghubungi teman saya melalui pesan WA. Di samping menyampaikan rasa duka dan bela sungkawa, saya juga sedikit menanyakan kebenaran kabar dan gerangan sakit apa yang diderita almarhum.

Selepas malam beranjak larut, barulah gambaran kisah yang lebih utuh saya dapatkan. Rupanya almarhum meninggal dunia ketika berkunjung ke salah seorang putrinya di perantauan. Dengan rutinitasnya sebagai petani, ia tergolong sangat jarang mengunjungi anak-anaknya yang kesemuanya di perantauan. Rupanya justru ia dipanggil oleh-Nya tatkala berkumpul bersama anak dan para cucunya.

Ya, lelaki yang telah tiada tersebut memang bukan bapak kandung saya. Ia adalah bapak kandung dari teman yang telah saya anggap sebagai salah seorang saudara. Kedekatan kami yang diawali dari bangku sekolah SMP hampir 30 silam masih terus terjalin hingga saat ini. Setidaknya diantara teman sekolah SMP, dialah satu-satunya teman seperantauan yang paling dekat. Di kala saya “nyemplung” untuk pertama kalinya di ibukota, dialah teman sekolah yang pertama kali saya cari. Lewat teman saya itu pulalah kami mendapatkan tempat tinggal yang kini kami tempati.

Beberapa lebaran memang telah terlewatkan untuk berkunjung dan sungkem kepada bapak dari teman SMP saya tersebut. Seingat saya, terakhir 3-4 tahun yang lalu. Bagaimanapun sempitnya waktu untuk berbagi kunjungan kepada berbagai saudara dan sanak kerabat di masa sepekan lebaran, saya biasanya menyempat untuk ujung kepada bapak dari teman saya yang satu ini. Beberapa hari silam sungguh sempat terlintas pikiran dan ingatan kepada sosoknya. Entah firasat entah pertanda apa, namun ada semacam tekad bahwa di lebaran yang akan datang saya ingin mengunjunginya. Ternyata niat itu tidak akan pernah lagi terlaksana.

Perjumpaan langsung memang sudah tidak mungkin lagi. Namun saya pastikan bahwa sosok bapak hebat tersebut akan senantiasa hidup di hati dan pikiran kami. Demikian halnya tali persaudaraan yang telah terjalin sekian lama akan kami teruskan dengan keluarga yang ada, dengan anak-anaknya, bahkan menjadi wasiat kepada anak-anak hingga cucu-cucu kami di kelak kemudian hari. “Pakdhe Aris, sugeng kondur ing kasedan jati. Mugi Gusti Ingkang Dados Sangkan Paraning Dumadi maringaken papan minulya sakmurwat sedaya amal kesaenan penjenengan nalikanipun gesang di alam padang. Semanten ugi dhumateng sedaya sanak kluarga ingkang tinilar tansah pinayungan ing kesabaran.” Amien ya rabbal’alamin.

Ngisor Blimbing, 9 Maret 2019

Sumber foto : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=367697187413329&set=pcb.367697220746659&type=3&theater

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s