Nyepi Selami Diri


Hari ini merupakan Hari Raya Nyepi. Hari raya yang sangat sakral bagi ummat penganut ajaran Hindu. Bagi ummat tersebut, Nyepi merupakan hari untuk berkontemplasi dan berefleksi. Di hari Nyepi ada beberapa aktivitas yang menjadi pantangan alias tidak boleh dilakukan. Amati geni, amati karya, amati lelungan. Tidak menyalakan api, tidak melakukan kerja, dan tidak bepergian. Dengan tidak melakukan beberapa aktivitas keseharian tersebut, ummat Hindu berkonsentrasi untuk merenung dan berevaluasi diri.

Nyepi tentu dapat dipahami dari kata dasarnya, sepi. Sepi bisa bermakna suasana sunyi dan tenang. Sepi lebih dalam lagi dapat berarti kosong atau hampa. Kosong dari nafsu. Hampa dari niat dan perbuatan jahat. Kosong dari pamrih, alias ikhlas dan melakukan suatu perbuatan semata-mata dalam rangka pengabdian, persembahan, atau peribadahan kepada Tuhan Yang  Maha Esa. Tidak salah jika dalam falsafah masyarakat Jawa dikenal ungkapan rame ing gawe, sepi ing pamrih. Giat dalam bekerja atau berkarya, namun tidak mengharapkan imbalan apapun dari sesama manusia. Manusia yang telah mencapai tataran rame ing gawe, sepi ing pamrih, hanya mengutamakan balasan keridhaan atau pahala amal sholih dari Tuhan.

Nyepi berarti sejenak menepikan diri dari hiruk-pikuk kesibukan duniawi. Sebagai pribadi yang utuh, seorang manusia memiliki kebutuhan duniawi sekaligus ukhrawi. Dimensi duniawi hanyalah dimensi kehidupan yang serba sementara. Adapun sesuatu yang berdimensi ukhrawi bersifat abadi dan transeden,menyangkut sebuah hubungan yang sangat pribadi antara seseorang sebagai hamba (abdullah) dengan Tuhan sembahannya (rabb), antara seorang makhluk dengan khaliknya.

Dalam pemahaman yang lebih luas, konsep amati geni, amati karya, dan amati lelungan tersebut sedikit banyak memiliki keserupaan dengan konsep puasa. Tidak hanya dalam ajaran Islam, beberapa agama yang lain juga memiliki ajaran dan konsep berpuasa. Puasa secara prinsip merupakan suatu tindakan untuk membatasi diri. Sesuatu yang boleh dan biasa dilakukan, dalam rentang waktu tertentu tidak dilakukan atau ditunda untuk dilakukan. Makan, minum, merokok, berhubungan suami istri merupakan suatu aktivitas fisik yang tidak boleh dilakukan saat berpuasa.

Lebih daripada itu, segala perbuatan tercela yang membatalkan puasa juga dipantang. Berlaku tidak jujur, bohong, ghibah, mencela orang, memfitnah, mencuri, korupsi, dan lain sebagainya. Bukan berarti suatu perbuatan tercela hanya dilarang pada saat seseorang berpuasa, tentu segala perbuatan tercela apapun dilarang bagi seorang yang mengaku beriman dan bertaqwa. Bagi orang tidak berpuasa saja suatu perbuatan tercela dilarang, terlebih bagi seorang yang tengah menjalankan ibadah puasa. Dengan demikian, nyepi sebagaimana puasa merupakan sebuah proses untuk menyelami dan menilai diri sendiri dalam rangka melakukan perbaikan kualitas rohani seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa mengekploitasi alam dalam rangka mencapai tujuan memenuhi semua kebutuhan atau hajat hidupnya. Dunia dan alam semesta akan senantiasa dapat memberikan daya dukung asalkan senantiasa  berada dalam tata kosmos keseimbangannya. Untuk menjaga kelestarian keberlangsungan tata kosmos keseimbangan tersebut, antara manusia dan alam harus senantiasa berada dalam tata hubungan yang harmonis dengan selalu menaati aturan-aturan dan hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.

Kita semua tentu turut prihatin dengan kerusakan alam yang kini semakin tak terkendali. Hutan-hutan yang gundul dibabat habis manusia. Gunung dan bukit yang rata bahkan menjadi kubangan raksasa karena aktivitas pertambangan yang serakah. Sungai dan lautan yang dicemari limbah pabrik. Udara yang semakin kotor oleh emisi gas beracun dari aktivitas industri dan transportasi. Sampah plastik dan botol yang dibuang sembarangan di sekitar pemukiman kita. Betapa sebagian aktivitas manusia justru telah merusak tata keseimbangan dan kelestarian alam. Untuk itu setidaknya sekali-kali manusia harus beristirahat dari aktivitas yang secara langsung ataupun tidak langsung merusak alam tersebut.

Nyepi, puasa, sejatinya mengajarkan diri manusia untuk berjeda, untuk berhenti sejenak, untuk mengambil jarak dengan lingkungan, untuk mem-pause diri. Dengan menjalani serangkaian perenungan diri dalam nyepi dan puasa, diharapkan manusia dapat memikirkan kembali secara jernih mengenai hakekat asal-usul, keberadaan, dan tujuan hidupnya. Manusia selayaknya menyelami kembali makna sangkan paraning dumadi. Dengan menyelami kembali menyelami diri dalam sunyi dan sepi, manusia akan kembali menyadari bahwa sejatinya ia berasal dari Tuhan, berada dalam episode kehidupan yang seharusnya senantiasa berpegang kepada ketentuan dan aturan Tuhan, dan kelak setelah paripurna menjalankan bakti hidupnya iapun akan kembali kepada Tuhan. Melalui kesadaran dan pola pikir yang senantiasa bersama Tuhan ini, kita yakin bahwa dunia akan senantiasa damai, aman, dan tentram. Alam semesta raya akan selalu berada dalam tata kosmos keseimbangan. Demikianlah hakekat kehidupan yang senantiasa didambakan oleh setiap makhluk-Nya dari jaman awal mula hingga kelak di akhir zaman.

Monggo nyepi. Nepi di tepi. Senantiasa melakukan refleksi, evaluasi, kontemplasi, hingga koreksi agar jernih nan suci pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam terang-benderang petunjuk Tuhan. Bukankah setiap hal yang berada dalam cahaya-Nya akan senantiasa membawa kebaikan dan kebahagian bagi manusia serta alam. Tidak hanya khusus di Hari Nyepi, kita semua sebagai manusia patut sesering mungkin untuk nepi dan nyepi ke tepi. Monggo.

Selamat Hari Raya Nyepi bagi sedulur ummat Hindu yang merayakannya. Semoga Tuhan senantiasa bersama kita dalam damai dan ketentraman.

Ngisor Blimbing, 7 Maret 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Nyepi Selami Diri

  1. mysukmana berkata:

    Terpenting adalah intropeksi diri..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s