Sensasi Mushaf Al Akbar, Mushaf Al Qur’an Ukir Terbesar dari Palembang


Al Qur’anul kariim adalah kitab suci ummat Islam. Al Qur’an merupakan pedoman hidup kaum muslim. Kalimat-kalimat, ayat-ayat, surat-surat, juz-juz dihimpun sebagai sebuah mushaf atau suatu kitab pertama kali di masa para kulafaur rasyidin. Bentuk Al Qur’an sebagai buku terjilid sebagaimana lazimnya saat inilah yang sebenarnya diistilahkan sebagai mushaf. Seumumnya kitab atau buku, ukuran Al Qur’an juga berukuran selayaknya kitab atau buku. Namun bukan suatu yang aneh bin ajaib, memang langka tetapi sungguh nyata jika ada mushaf Al Qur’an raksasa.

Adalah mushaf Qur’an Al Akbar kini dicatat sebagai bentuk Al Qur’an berukir pada papan kayu dengan motif khas dari Palembang. Ukuran masing-masing lembar papan untuk setiap halamannya adalah 177 x 140 x 2,5 cm. Mushaf Al Qur’an yang sungguh unik ini kini berada di Pondok Pesantren Modern IGM Al Insaniyah, kawasan Gandus, Kota Palembang, Sumatera Selatan.  Tempat yang berjarak sekitar 9 km dari pusat kota ini kini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang mengundang banyak pengunjung. Tidak saja pengunjung dari sekitar Palembang, namun berbagai provinsi lain bahkan juga dari luar negeri.

Ide awal dibuatnya mushaf Qur’an Al Akbar yang dikenal sebagai Al Qur’an raksasa ini berawal dari mimpi yang dialami Ustadz H. Syofwatillah Mohzaib. Setelah selesai menunaikan amanah untuk melakukan pembaruan hiasan ornament kaligrafi Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I, sang Ustadz merasa menyaksikan kitab Al Qur’an yang berukuran sangat besar. Ketika terbangun dari mimpi, terasa ada niat yang sangat kuat untuk mewujudkan Al Qur’an raksasa sebagaimana yang dilihat dalam mimpi pada papan kayu tembesu yang diukir dengan gaya ukiran khas Palembang.

Sang Ustadz yang di samping pimpinan Pesantren Al Insaniyah, ia juga seorang wakil rakyat yang mengemban amanat di DPR RI. Kedudukan sebagai anggota dewan tentu menjadikan ia memiliki relasi yang cukup luas, khususnya beberapa tokoh penting asal Kota Palembang. Di antara beberapa tokoh nasional yang disambatinya adalah Marzuki Darusman yang pada saat itu duduk sebagai Ketua DPR RI dan Taufik Kiemas yang menjabat Ketua MPR. Gayungpun bersambut, tokoh-tokoh itu dengan sepenuh hati berkenan mendukung rencana pembuatan mushaf Al Qur’an pada papan kayu berukir khas Palembang.

Secara prinsip ada dua hal yang mendasari pembuatan mushaf Al Qur’an khas dan unik tersebut. Prinsip pertama adalah sebagai salah satu bentuk syiar dan dakwah Islam. Al Qur’an raksasa diharapkan dapat memupuk kecintaan ummat Islam yang lebih dalam lagi terhadap kitab sucinya. Dengan kecintaan yang lebih dalam tentu harapannya, ummat Islam akan lebih mengimani Qur’an, untuk selanjutnya mau mempelajari, membaca, memahami, mengamalkan, bahkan membela Al Qur’an.

Hal kedua berkenaan dengan tekad untuk mengangkat harkat nilai kearifan lokal masyarakat Palembang itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui bersama, salah satu warisan adat dan tradisi budaya Palembang yang adi luhung adalah seni ukir kayunya. Seni ukir kayu Palembang memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri. Hampir mirip dengan seni ukir Jepara, seni ukir khas Palembang juga didominasi motif tetumbuhan yang diukir sangat detail, kecil,  rumit dan kompleks. Seni ukir dengan ciri demikian mencerminkan sebuah proses kreativitas yang sungguh teliti dan telaten.

Dengan penggabungan senyawa Qur’an sebagai kitab suci ummat Islam dan seni ukir sebagai bagian dari seni tradisi masyarakat setempat, terwujud suatu akulturasi agama dan budaya yang menjelma sebagai suatu kebanggaan masyarakat Palembang pada khususnya, maupun ummat Islam pada umumnya.

Bukan perkara mudah untuk mewujudkan mimpi besar menyusun Al Qur’an raksasa pada papan kayu tembesu. Kayu tembesu merupakan kayu pilihan. Di samping langka keberadaannya, kayu tembesu memiliki tekstur yang sangat indah dan khas, juga tidak lekang dimakan rayap. Selayaknya kayu besi, kayu tembesu sangat awet hingga ratusan tahun. Hal ini tentu menjadikan harga kayu tembesu yang cukup mahal dihitung per meter kubiknya. Tentu saja panitia harus melakukan berbagai strategi dan siasat untuk mengatasi hal tersebut. Tidak kurang dari 40 m3 kayu dibutuhkan. Total dana yang dibutuhkan tidak kurang dari Rp. 2 M. Tidak mengherankan jika dari sisi waktu pengerjaan sempat terjadi keterlambatan hingga tujuh tahun.

Keuletan, ketekunan, kegigihan, dan kerja keras yang sungguh luar biasa dari segenap panitia dan atas kemurahan hati para dermawan dan donator yang turut mengulurkan tangan, mushaf Qur’an Al Akbar akhirnya terwujud dan terselesaikan dengan baik.  Dengan penuh rasa syukur dan bangga mushaf tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 30 Januari 2012.

Sebagai mushaf Qur’an ukir papan terbesar, keberadaan mushaf Al Akbar di lingkungan Pondok Modern Al Insaniyah saat ini terasa kurang representatif dan menunjukkan kelas keakbarannya di tengah kondisi lingkungan pondok yang masih dalam proses pembangunan. Ruang pajang terasa sempit dan lembab. Temperatur dan kelembaban yang tinggi mungkin akan sangat mempengaruhi mutu dan keawetan kayu tembesu. Kondisi pelaksanaan pembangunan yang masih berlangsung juga menjadikan beberapa ruang akses dan koridor menuju tempat pajang bocor cukup deras di saat hujan. Di samping itu, area parkir kendaraan pengunjung masih berupa tanah urugan yang menggenang dan becek oleh air hujan.

Selain kondisi di lingkungan pondok yang masih belum representatif, akses jalan utama dari pusat Kota Palembang menuju lokasi pondok di kawasan Gandus saat ini juga kurang layak. Jalanan yang sempit dan seringkali macet di jam-jam sibuk, menjadi terasa semakin parah dengan kondisi jalanan yang rusak. Banyak bagian jalan yang berlobang, bahkan seukuran kolam. Jarak 9 km yang semestinya dapat ditempuh dalam waktu 20-30 menit harus ditempuh hingga 1 atau 1,5 jam.

Semoga daya tarik dan keagungan mushaf Qur’an Al Akbar Palembang bisa menjadi perhatian pihak-pihak terkait untuk berbenah dengan segera, sehingga daya tarik Qur’an raksasa ini mampu menarik banyak kunjungan ummat Islam agar ummat semakin mencintai kitab sucinya, semakin giat untuk mendalaminya, dan tentu kemudian mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tepi Merapi, 24 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s