Menyelami Museum SMB II Palembang


Mengunjungi Palembang, tentu tidak lengkap jika sama sekali tidak menengok jejak sejarahnya. Kemasyuran Kerajaan Sriwijaya di abad ke-8 dan Kasultanan Palembang Darussalam di abad ke-18 tentu tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kota Palembang. Untuk kembali menyelami jejak-jejak peradaban masa lalu Palembang tersebut, kita dapat mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II).

Museum SMB II bisa dikatakan sebagai museum yang cukup lengkap dengan koleksi benda-benda bersejarah yang berhubungan dengann Kerajaan Sriwijaya dan Kasultanan Palembang. Museum ini terletak diantara Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Letaknya sungguh strategis di tepian Sungai Musi daerah Sembilan Belas Ilir. Museum yang senantiasa ramai dengan pengunjung ini merupakan salah satu sarana pelestarian budaya sekaligus untuk kegiatan pendidikan dan pariwisata. Museum buka setiap hari antara pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Untuk harga tiket sungguh terjangkau untuk kalangan pelajar maupun masyarakat umum.

Ditilik dari bentuk dan arsitektur bangunannya, Museum SMB II benar-benar merupakan bangunan asli yang tergolong sebagai bangunan cagar budaya. Dengan gaya bangunan yang menggabungkan unsur Eropa dan lokasl Palembang, gedung museum ini tentu merupakan gedung yang sangat megah di masanya. Di samping dibangun dengan kerangka besi baja yang dipadu dengan batu bata, di sekeliling dinding juga dilengkapi dengan jendela-jendela berukuran besar lengkap dengan kaca-kaca yang memberikan kesan megah nan indah.

Telah berdiri semenjak sekitar tahun 1824, berbagai tujuan penggunaan telah tercatat sangat panjang. Ketika pertama kali dibangun, gedung ini ditujukan sebagai tempat kediamanan Residen Palembang. Di atas tanah keberadaan gedung jauh sebelumnya berdiri Benteng Kuto Lamo yang merupakan kompleks istana Kasultanan Palembang Darussalam yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin Wijayo Kramo (SMB I) pada tahun 1737.

Di masa Sultan Mahmud Badaruddin II, terjadi perlawanan yang sangat sengit melawan penjajah kolonial Belanda maupun Inggris. Pada tahun 1811, pasukan Palembang dapat memukul posisi Belanda dengan membakar dan membumi-hanguskan bangunan loji yang ada di Sungai Alur. Ketika kedudukan telah berbalik dimana Belanda memenangkan peperangan, Sultan beserta keluarganya ditangkap dan kemudian diasingkan ke Ternate pada tahun 1821. Seiring dengan penghapusan Kasultanan Palembang Darussalam, Belanda juga meruntuhkan bangunan Kuto Lamo untuk menghapuskan jejak kharismatik dan pengaruh bekas kerajaan musuhnya tersebut.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung yang kini menjadi Museum SMB II ini digundakan sebagai markas tentara. Ketika negara Indonesia diproklamasikan, gedung ini difungsikan untuk markas Kodam II Sriwijaya sebelum akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Kota Palembang. Gedung dipeergunakan sebagai museum mulai pada tahun 1984 hingga saat ini.

Bangunan Museum SMB II terdiri atas dua lantai. Di lantai pertama banyak dipajang koleksi peninggalan berkenaan dengan kain tenun atau songket khas Palembang. Berbagai koleksi kain dengan beragam motiv dapat disaksikan. Antara lain satu dan lantai dua di bagian dalam dihubungkan dengan sebuah anak tangga yang terbuat dari kayu ulin. Untuk tetap menjaga kebersihan dan mempertahankan keawetan struktur bahan kayu, pengunjung diminta untuk melepas alas kaki saat akan naik ke lantai dua.

Di ruang pajang pada lantai dua, banyak koleksi artefak yang merupakan peninggalan Sriwijaya. Berbagai bahan keramik, gerabah, maupun peralatan logam terjaga dengan baik. Koleksi yang tergolong unik dan menarik adalah keberadaan koin uang masa kerajaan yang terbuat dari bahan perunggu maupun timah. Uang logam tipis dengan lubang di sisi tengah tersebut merupakan alat pembayaran yang syah di masanya.

Di beberapa ruang terpajang pula lukisan-lukisan yang menggambarkan pertikaian yang seru antara pasukan Palembang melawan kapal-kapal berbendera merah-putih-biru. Suasana Sungai Musi yang masih tampak lebar dengan bentang dataran dan rawa-rawa di tepiannya menjadi saksi kedahsyatan peperangan yang terjadi. Betapa sangat terlihat perlengkapan pasukan Belanda yang sudah modern, lengkap dengan bedil dan meriamnya membumi-hanguskan pertahanan pasukan Palembang.

Di satu ruang yang lain, terpajang dengan indah nan anggun sebuah pelaminan pengantin khas Palembang. Dengan dominasi kain beludru berwarna merah marun menampilkan kemegahan sekaligus gambaran kemajuan seni kain dan hiasan motif-motif yang atraktif.

Di samping koleksi benda-benda bersejarah di dalam bangunan museum, beberapa artefak patung atau arca batu juga bertebaran di beberapa sudut halaman dan taman di area sekitar bangunan utama. Ada beberapa arca khas Hindu maupun Budha yang masih memperlihatkan keasliannya. Sebagai pusat peradaban kerajaan Budha terbesar di masa lalu, tentu banyak terdapat bangunan-bangunan suci peribadatan yang dilengkapi dengan patung-patung pemujaan. Beberapa diantara yang masih tersisa dikoleksi dan dirawat dengan baik di museum ini.

Secara keseluruhan, berkunjung ke Museum SMB II memberikan kesan yang mendalam betapa kejayaan Sriwijaya dan Kasultanan Palembang telah melampau masa dan jamannya. Dengan melihat dari dekat berbagai koleksi peninggalan sejarah kedua kerajaan tersebut kita dapat belajar sejarah sekaligus memupuk rasa cinta dan kebanggaan kepada tanah air secara lebih mendalam. Berkunjung ke museum sangat baik jika kita turut mengajak anak-anak kita sebagai generasi penerus yang tidak boleh buta terhadap sejarah bangsanya sendiri.

Kulon Balairung, 28 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s