Keunikan Angkutan Kotanya Palembang


Mobilitas adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi warga sebuah kota. Untuk bekerja, untuk sekolah, untuk ke pasar, untuk ke rumah sakit, dan juga tentu untuk pergi ke luar kota, warga membutuhkan sarana dan prasarana transportasi. Cepat, aman, dan murah merupakan harapan masyarakat akan keberadaan sarana transportasi umum. Demikian halnya dengan Palembang, sebagai kota terbesar ke dua di Pulau Sumatera, setelah Medan.

Dari sisi luasan wilayah dan tingkat kepadatan penduduknya, Palembang memang tergolong kota besar. Berbagai sarana transportasi umum telah hadir dan turut melayani mobilitas warga kota. Sebagai kota yang berada di tepian sungai besar, sarana transportasi di Palembang salah satunya ditopang oleh sarana transportasi air. Ada perahu ketek, boat, hingga perahu penumpang berukuran besar. Perahu-perahu tersebut sebagian besar melayani warga yang hilir-mudik dari hulu, hilir, ataupun seberang menuju Pasar Enam Belas Ilir. Kita dapat menyaksikan keramaian warga yang datang dan pergi ke pasar tradisional terbesar di Palembang tersebut melalui terminal air yang tepat berada di bawah Jembatan Ampera.

Di sisi jalur transportasi darat, Palembang sangat menggantungkan kepada sarana angkutan jalan raya. Berbeda dengan jalur transportasi sungai yang hanya dapat menjangkau wilayah di tepian air, jalur jalan raya dapat mengakses hampir semua titik di sudut kota. Layanan angkutan kota massal yang kini beroperasi melayani warga terdiri atas angkot dan bus kota. Di beberapa sudut ada pula bentor, alias becak motor yang banyak membantu kaum ibu untuk keperluan belanja ke pasar. Yang terkini dan termodern, ada LRT alias kereta ringan yang melayani jalur bandara hingga Jakabaring.

Mengunjungi dan menyelami suatu kota tentu akan lebih terasa menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga kota yang bersangkutan jika kita beraktivitas selayaknya warga lokal. Salah satu aktivitas warga lokal dalam kesehariannya ya perihal bertransportasi sehari-hari tadi. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang menghadirkan layanan transportasi berbasis online yang memudahkan dan memanjakan, bahkan dengan harga yang murah, seperti layanan ojek online maupun taksi online, kita bisa saja mengunjungi suatu kota dan menggunakan layanan tersebut. Namun demikian, akan sangat lebih terasa afdzol dan nyata jika kita justru menggunakan layanan transportasi offline sebagaimana warga lokal pada umumnya.

Selain sengaja ingin mencoba dan merasakan layanan LRT termodern yang ada di tanah air, dalam beberapa kesempatan kamipun sempat merasakan layanan angkot Palembang. Dari simpang empat di sebelah tempat kami menginap, kami naik sebuah angkot menuju Pasar Enam Belas Ilir di kawasan Jembatan Ampera. Kawasan Jembatan Ampera merupakan kawasan protokol atau pusatnya aktivitas ekonomi dan bisnis warga Palembang. Hal menjadikan kawasan ini menjadi titik tujuan berbagai jurusan angkutan kota yang menjangkau semua sudut kota Palembang hingga ke daerah pinggiran.

Angkot Palembang dilayani dengan mobil minibus selayaknya mikrolet. Sedikit yang berbeda dari angkot di Palembang dibandingkan dengan angkot di Jakarta atau kota-kota lain di Pulau Jawa, adalah penataan kursi penumpangnya. Jika angkot di Jawa pada umumnya penumpang duduk di kursi bangku yang memanjang di sisi kanan dan kiri ruang kabin sehingga ada dua kelompok penumpang yang duduk saling berhadapan, angkot di Palembang sungguh berbeda. Kursi atau bangku penumpang menghadap ke arah depan semua. Di kabin belakang terdapat tiga baris kursi. Secara keseluruhan barisan kursi belakang tersebut dapat menampung 8 penumpang dewasa.

Di samping pola penataan kursi penumpang yang menghadap ke arah depan semuanya, hal unik yang lain berkenaan dengan keberadaan pintu khusus untuk penumpang di kabin belakang. Jika angkota yang umum kita jumpai di Jakarta hanya memiliki satu pintu untuk akses masuk-keluar penumpang, angkot di Palembang memiliki dua pintu di belakang. Satu pintu sejajar dengan baris kursi sisi depan, dan satu pintu sejajar dengan baris kursi sisi belakang.

Lalu pengalaman apa saja yang kita dapatkan jika kita membaur dengan warga lokal dan turut berangkot ria? Ada banyak pengalaman yang akan kita dapatkan. Dengan menggunakan angkutan umum kita jadi lebih mengenal seluk-beluk kota dan jalur angkutannya dengan lebih baik. Sepanjang perjalanan, kita bisa banyak berbincang dan ngobrol berbagai hal tentang perkembangan kota dengan penumpang yang lain maupun pengemudi angkot. Mungkin dari segi kenyamanan dan kecepatan kita mencapai tempat tujuan terasa kurang, namun berbagai informasi informal yang kita dapatkan sepanjang perjalanan jauh akan lebih memperkaya pengalaman kita. Di samping itu, dengan bertegur sapa, saling berbincang dengan penumpang lain juga telah menyambungkan tali silaturahmi sebagai sesama anak bangsa yang harus senantiasa menjujung semangat persaudaraan. Dalam beberapa kesempatan, kami bahkan bertemu dengan ibu-ibu paruh baya yang langsung mempersilakan kami untuk sekali-kali mampir ke tempat tinggalnya. Jikapun di Palembang kami tidak memiliki sanak saudara, ibu tersebut berkenan menganggap kami sebagai saudaranya. Nahkan, istimewa bukan?

Naik perahu ketek sudah. Naik LRT sudah. Naik angkot sudah. Naik taksi online sudah. Ada satu yang masih terasa kurang dan belum kesampaian untuk kami naiki dalam kunjungan kami ke Palembang. Naik bus kota Trans Musi! Ya, Trans Musi merupakan moda angkutan terpadu yang diharapkan akan terus berkembang dalam rangka meningkatkan kenyamanan pelayanan transportasi umum di Palembang. Di samping dianggarkan oleh Pemerintah Daerah setempat, bus-bus Trans Musi sebagian berasal dari bantuan teknis Kementerian Perhubungan. Bus dengan bodi luar berwarna biru tua dengan lukisan jembatan Ampera yang indah tentu menjadikan keliling kota Palembang akan terasa nyaman dan menyenangkan.

Kalaulah dulu kita berwisata keluarga keliling kota dengan naik delman istimewa dan duduk di muka bersama pak kusir yang sedang bekerja, jaman kini tentu kita naik bus atau angkot di samping pak sopir. Wisata keluarga ke Palembang, naik angkot? Siapa takut? Oke, mudah-mudahan pada kesempatan lain kami dapat merasakannya.

Kulon Balairung, 26 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s