Monpera: Monumen Perjuangan Rakyat Palembang


Sebagai bekas negeri jajahan Hindia Belanda, setiap wilayah di tanah air sudah pasti memiliki jejak sejarah perjuangan dalam melawan kaum penjajah. Demikian halnya dengan Kota Palembang di Sumatera Selatan. Semenjak di masa kasultanan, masa pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, hingga masa revolusi fisik, gelora perjuangan rakyat Palembang senantiasa berkobar. Ribuan jiwa-jiwa rakyat pejuang berguguran demi menebus kemerdekaan bangsa. Mereka menjadi kusuma bangsa abadi yang senantiasa terkenang hingga di masa kini.

Adalah Kasultanan Palembang Darussalam menjadi salah satu kerajaan yang sangat gigih berjuang untuk mengusir Kompeni Belanda. Di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin Wijayo Kramo ataupun Sultan Mahmud Badaruddin II penerusnya, Belanda senantiasa dibuat kewalahan untuk dapat mendaratkan pasukannya di tepian Sungai Musi. Kawasan Jembatan Ampera dan Benteng Koto Besak saat itu menjadi saksi setiap pertempuran yang terjadi di pertengahan abad ke 18 tersebut.

Di masa Perang Kemerdekaan, wilayah Palembang menjadi bagian dari wilayah perjuangan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Dengan hanya berbekal bambu runcing dan senjata rampasan seadanya, rakyat, laskar, dan tentara bersatu padu untuk mengenyahkan Belanda yang ingin kembali menjajah. Harta benda, bahkan jiwa dan raga rela dikorbankan demi pekik merdeka.

Salah satu peristiwa paling heroic terjadi pada kurun tahun 1946-1947. Ketika Belanda melancarkan agresi untuk kembali menduduki wilayah Palembang, rakyat serentak angkat senjata. Pertempuran hebat terjadi di tepian Sungai Musi selama kurun waktu lima hari lima malam. Dengan perlengkapan persenjataan yang tidak berimbang, banyak jatuh korban jiwa di pihak pejuang Palembang.

Kegigihan dan semangat patriotism dari segenap rakyat Palembang dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan harus senantiasa dikenang, dihayati, dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Salah satu bentuk dan upaya untuk melestarikan dan mewariskan nilai kejuangan rakyat Palembang, digagaslah pembangunan Monumen Perjuangan Rakyat Palembang. Adalah Legium Veteran Republik Indonesia wilayah Sumatera Selatan mengusulkan dibangunnya suatu monument penanda perjuangan rakyat Palembang dan Sumatera Bagian Selatan pada umumnya, khususnya berkenaan dengan pertempuran lima hari lima malam di tepian Sungai Musi.

Monumen Perjuangan Rakyat atau Monpera Palembang berlokasi di area Ilir 19, terletak antara Jembatan Ampera, Museum SMB II, dan Masjid Agung Palembang. Dengan bentuk dasar berupa kelopak mahkota bunga melati dengan lima sisi tersebut menjadi sungguh unik dan khas. Sisi lima menggambarkan lima sila Pancasila sebagai dasar negara kita, sekaligus kesatuan laskar pejuang dari lima karesidenan di wilayah Sumatera Bagian Selatan yang turut gigih berjuang dalam pertempuran lima hari lima malam Palembang. Hal ini sekaligus ditegaskan dengan keberadaan lambang negara Garuda Pancasila berukuran besar di sisi utara luar bangunan monumen yang sekaligus menghadap ke area pelataran utama. Sungguh ada kesan yang sangat menggetarkan ketika kita memandang sengan seksama dan penuh rasa hikmat tatkala menatap Garuda Pancasila di Monpera ini.

Secara utuh bangunan Monpera memiliki tinggi 17 meter. Di dalam bangunan monument terdapat museum dengan ruang pamer yang menempati delapan tingkatan ruang. Pada kedelapan ruang tersebut terdapat 45 sisi bidang. Masing-masing angka ukuran bangunan monument tersebut melambangkan Hari Proklamasi, 17 Agustus 1945.

Di setiap ruang pengunjung dapat melihat berbagai lukisan dan potret yang mengambarkan sejarah panjang perjuangan rakyat Palembang dalam melawan penjajah. Terdapat pula tokoh-tokoh pimpinan laskar pejuang, tentara, maupun tokoh sipil lainnya. Di beberapa ruang juga dipajang alat perjuangan, mulai dari mesin tik tua, hingga senapan, granat, dan persenjataan tempur lainnya. Antar masing-masing ruang dihubungkan dengan sebuah anak tangga yang cukup curam sehingga pengunjung harus benar-benar ekstra hati-hati ketika naik ataupun turun. Pada ruang paling atas, terdapat beberapa lubang udara di atap monument. Lubang itu seolah berfungsi sebagai lubang intai ke luar, di samping juga berfungsi sebagai lubang ventilasi udara.

Bentuk ruang dengan sisi segi lima dan keberadaan lubang intai di atap monument mengesankan pengunjung tengah berada di sebuah ruang rahasia. Ketika kami sempat menapaki anak tangga untuk mengintai melalui lubang di atap tersebut, kami dapat dengan leluasa mendongakkan kepada keluar. Dalam ruang yang temaram cahaya dan dengan sirkulasi udara yang sangat terbatas, lubang intai tersebut benar-benar menjadi sebuah oase di padang yang gersang. Seketika angina segar menerpa muka kita. Kesejukanpun datang. Kami sedikit merinding dan seolah merasa berada di puncak atap markas Pentagon di Negeri Paman Sam.

Di samping menikmati sisi dalam bangunan Monpera yang difungsikan sebagai museum, pengunjung secara lebih leluasa dapat mengeksplorasi pelataran sisi depan monument yang sungguh luas. Tepat di tengah pelataran terdapat replica bentuk gading gajah. Keberadaan gading gajah tersebut merupakan simbolisasi bahwasanya gajah mati meninggalkan gading, sedangkan manusia mati meninggalkan nama baik. Demikian kira-kira semangat juang dan jiwa nasionalisme laskar pejuang Palembang yang kini terkenang dengan keharuman jasa kepahlawanannya.

Monumen Perjuangan Rakyat Palembang merupakan salah satu sarana yang sangat baik untuk mengenal sisi sejarah perjuangan rakyat setempat. Dengan mengajak anak-anak kita untuk mengunjungi Monpera, di samping menikmati keseruan sebuah petualangan kitapun sekaligus mengenalkan anak-anak kepada sejarah perjuangan pendahulu kita. Menyambangi Palembang, jangan lupa singgah pula di Monpera Palembang.

Tepi Merapi, 24 Februari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s