Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I: Masjid Agung-nya Palembang


Arya Damar adalah nama Adipati Palembang yang diserahi mengasuh Raden Patah oleh Prabu Brawijaya V Majapahit. Melalui jalur inilah salah satu akar asal-usul trah atau wangsa Kasultanan Palembang Darussalam. Sebagai sebuah kerajaan Islam yang kemudian memiliki hubungan yang sangat erat dengan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa, ada beberapa corak warisan budaya yang serupa. Salah satu diantaranya adalah bangunan Masjid Agung Palembang yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini.

Masjid Agung Palembang memiliki nama resmi Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I. Menilik dari namanya, kita tentu dapat langsung mengetahui tokoh di balik pembangunannya. Dialah Sultan Mahmud Badaruddin I Wijayo Kramo yang memerintah Kasultanan Palembang Darussalam di pertengahan abad 18. Masjid Agung dibangun kembali oleh Sultan karena pernah dilanda kebakaran tatkala terjadi peperangan dengan pasukan Kompeni Belanda pada beberapa tahun sebelumnya.

Bangunan masjid yang ada saat ini tentu sudah mengalami beberapa renovasi dan perbaikan tanpa meninggalkan ciri bangunan aslinya. Secara arsitektural, bangunan masjid memiliki ciri perpaduan tiga unsur budaya yang dominan. Jawa Nusantara, China, dan juga Eropa. Ciri bangunan Jawa Nusantara ditandai pada corak bangunan utama dengan atap tumpang tiga yang melambangkan tiga entitas, yaitu islam, iman, dan ikhsan. Bentuk atap tersebut serupa dengan bangunan Masjid Agung Demak. Unsur ciri yang lain berasal dari pengaruh budaya Tiongkok. Ciri tersebut nampak pada sisi-sisi profil ujung atap yang bersirip naga sebagaimana bangunan klenteng pada umumnya. Satu lagi pengaruh asing terdapat pada gerbang pintu sisi timur dengan pilar tinggi bergaya Eropa.

Dalam kunjungan dolan kami ke Kota Wong Kito beberapa waktu silam, kami berkesempatan sholat ashar pada suatu sore yang mendung berurai gerimis tipis. Sesaat kumandang adzan menggema, ratusan ummat Islam yang tengah sibuk dengan berbagai aktivitas di seputaran kawasan Jembatan Ampera segera bergegas memasuki area masjid. Dengan tertib dan rapi jamaah segera mengambil air wudlu. Tak seberapa lama kemudian sholat jamaahpun ditegakkan.

Sejenak mengamati sisi hiasan interior di dalam masjid, sangat terasa nuansa serta kharismatika Masjid Agung Demak. Tiang, dinding, pilar, daun pintu-jendela beserta kusen-kusen berukir indah bermotif bunga dan sulur-siulur khas Palembang yang sangat mirip gaya ukir Jepara. Dengan dominasi warna hijau muda dan hijau tua berbatas garis coklat dan emas menghasilkan ornamen hiasa yang nampak hidup dan asri. Suasana sejuk, tentram, dan damai terpancar ke segenap sudut ruang utama. Dengan alas lantai berupa kain karpet halus beludru berwarna hijau semakin menghadirkan suasana tenang dan khusuk.

Tepat di sisi barat area masjid terbentang sebuah pelataran berupa lapangan rumput yang menghijau. Di tepian dan sudut dari pelataran tersebut tertata dengan apik dan cantik beberapa deretan tanaman kembang yang menghadirkan taman-taman nan indah. Dari gerbang luar pelataran menuju ke sisi bangunan utama terhubung sebuah jalur pejalanan kaki yang lurus seolah ingin meluruskan jalan menuju kepada kebaikan. Jalan menuju masjid, dan tentu saja jalan menuju kepada Tuhan.

Sebagaimana bangunan masjid pada umumnya, Masjid Agung Palembang juga berfungsi utama untuk sembahyang sholat lima waktu. Di samping itu ada pula beragam kegiatan dakwah dan sosial keagamaan yang lainnya. Selain ramai pada jam-jam sholat lima waktu, puncak keramaian mingguan tentu berlangsung pada setiap pelaksanaan sholat Jum’at. Syiar dan kegiatan masjid semakin semarak pada sepanjang bulan Ramadhan. Mulai dari pelaksanaan sholat tarawih, tadarusan, takjil bersama, hingga malam takbiran dan sholat Ied.

Masjid Agung Palembang dengan sejarah dakwahnya yang panjang menjadi destinasi wisata religi yang sangat menarik di tepian Sungai Musi. Masjid ini bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan anak-anak kita untuk mengamalkan ajaran agama di saming sekaligus belajar sejarahnya untuk lebih mencintai tanah air kita. Lagi-lagi, monggo!

Kulon Balairung, 22 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I: Masjid Agung-nya Palembang

  1. layangseta berkata:

    Aku suka masjid dengan arsitektur lama. Mereka memiliki kesan yang lebih membumi. Beda dengan sekarang yang seperti mengintimidasi pengunjungnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s