Jembatan Ampera: The Golden Gate-nya Kota Palembang


Sungai Musi adalah urat nadi kehidupan Kota Palembang, bahkan Sumatera Selatan. Semenjak keemasan Kerajaan Sriwijaya hingga kejayaan Kasultanan Palembang Darussalam, pusat pemerintahan senantiasa berada di tepian sungai terbesar di Pulau Sumatera tersebut. Alur sungai membentangkan alam sisi hilir dan sisi hulu. Sungai pulalah yang memisahkan sisi tepian dengan sisi seberang. Sungai hadir sebagai pemisah sekaligus penyatu. Sungai menghadirkan hulu sekaligus hilir. Sungai pula menjadi pemutus sekaligus penghubung.

Aliran air mengapungkan sampan dan perahu. Dengan alat tersebut, warga senantiasa hilir mudik dari tepian ke seberang, dari hilir ke hulu, demikian sebaliknya. Sungai mengajarkan manusia untuk mengenal, mengakrabi, bahkan menjalani tradisi, budaya, hingga peradaban apung. Sungai sekaligus menjadi penghubung ke lautan lepas. Demikian pula apa yang diperankan oleh Musi bagi Sriwijaya hingga kemudian Palembang. Menjadi  titik pijak benih-benih tradisi, budaya, hingga peradaban kemaritiman yang kita warisi hingga hari ini.

Sampan dan perahu memang masih menjadi sarana penghubung di sepanjang Sungai Musi hingga hari ini. Pun demikian, dinamika mobilitas manusia dan barang yang sedemikian cepat seiring jaman telah menghadirkan pilihan sarana hubung lain di atas bentang Sungai Musi. Jembatan Ampera, jembatan paling bersejarah di Kota Palembang tersebut selesai  dibangun pada masa akhir Pemerintahan Presiden Pertama Bung Karno.

Jembatan tersebut pada tahap perencanaan dan pembangunannya disebut sebagai Jembatan Musi, mengacu nama sungai di bawahnya. Realisasi pembangunan jembatan tersebut tidak lepas dari dukungan penuh Presiden Soekarno, bahkan atas perkenanannya sebagian besar dana pembangunan jembatan didapatkan dari dana pampasan perang yang diberikan Jepang. Tak tanggung-tanggung, desain, teknologi, dan tenag ahli dari Negeri Sakura dikerahkan untuk mewujudkan Jembatan Musi.

Tatkala pembangunan selesai dan Presiden Soekarno meresmikannya pada tahun 1965, jembatan tersebut kemudian dikenal dengan nama Jembatan Soekarno. Ketika terjadi pergantian pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru setahun berselang, rasa anti Soekarno pada angkatan pembaru telah mendorong nama jembatan tersebut diganti menjadi Jembatan Ampera, amanat penderitaan rakyat.

Ampera, amanat penderitaan rakyat. Jargon legendaris yang sangat mendarah daging bagi generasi peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Di tengah gelegak jiwa nasionalisme yang menggelora untuk menunjukkan diri sebagai bangsa yang tidak bisa disembarangkan dan ingin berdiri sejajar dengan bangsa besar yang lain, Ampera sangat ampuh membakar semangat juang semua barisan anak bangsa. Nama tersebut sekaligus sebagai penanda babak baru kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semangat dan harapan yang baru.

Jembatan Ampera pada masanya merupakan jembatan terbesar dan terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan tersebut seolah mengukuhkan bahwa negara kita jauh lebih maju, lebih hebat, dan lebih canggih dibandingkan negara sekitar. Salah satu kecanggihan teknologi pada jembatan tersebut adalah keberadaan badan jembatan yang dapat diangkat pada kedua belah tiang menara. Pada saat badan jembatan diangkat, kapal besar dengan lebar 60 meter dan tinggi hingga 44 meter dapat melintasi sisi bawahnya.

Jembatan Ampera kini menjadi landmark utama Kota Palembang. Kawasan Jembatan Ampera merupakan pusat sekaligus jantung kotanya Palembang. Benteng Koto Besak yang dulunya bekas reruntuhan istana kerajaan hanya sepelemparan batu dari Ampera. Bekas Kantor Residen Belanda yang kini difungsikan sebagai Museum Sultan Mahmud Badarruddin II berada di sebelah benteng. Masjid Agung Palembang demikian halnya. Termasuk Pasar Enam Belas Ilir. Dengan demikian, berkunjung ke Palembang tanpa bersambang ke Jembatan Ampera belumlah dikatakan berkunjung ke Kota Empek-empek ini.

Demi mengunjungi Palembang bersama keluarga untuk pertama kalinya, tentu fokus dolan kami tidak jauh dari titik Jembatan Ampera. Berjalan menyusuri trotoar lebar di sisi tepian bentang jembatan dalam terang matahari ataupun temaram sinar bulan dan warna-warni kerlap-kerlip lampu hias nan cantic merupakan sebuah sensasi tersendiri. Dari atas jembatan, kita bisa melihat dengan dekat kegagahan dan keperkasaan bentang jembatan yang luar biasa disangga oleh dua tiang pancang utama berbahan besi baja yang berwarna merah membara. Sungguh bara merah membawa warna Jembatan Ampera benar-benar menggelorakan semangat juang membawa nan kunjung padam.

Dinamika kendaran lalu lalang di atas badan jembatan memberikan gambaran dinamika roda ekonomi masyarakat setempat yang terus bergerak maju menggapai kesejahteraan yang lebih baik. Bus, truk, sedan,trailer, angkot, motor, bahkan becak dan sepeda mendapatkan hak yang sama untuk bersama-sama melintasi Jembatan Ampera. Tidak hanya kendaraan, pejalan kakipun diberikan trotoar khusus yang lebar gilar-gilar untuk memberikan akses warga menikmati secara langsung kegagahan jembatan yang selalu menjadi kebanggaan tersebut.

Tidak hanya dinamika lalu lintas kendaraan di atas badan jembatan, hilir-mudik beragam moda kendaraan air juga terjadi di kolong jembatan dan tepian kanan-kiri sekitarnya. Perahu ketek, motor tempel, jetski, bahkan kapal tongkang bergerak setiap saat. Bahkan tepat di bawah jembatan, sisi Pasar Enam Belas Ilir selalu terjadi kesibukan kapal sandar dan kapal lepas dari dermaga yang berfungsi sebagai pelabuhan atau terminal air. Sungguh pemandangan tersebut mengukuhkan Palembang sebagai salah satu kota air yang sangat sibuk dan ramai.

Bentang Jembatan Ampera dengan bara warna merahnya paling indah dipandang dari sisi depan Benteng Koto Besak. Di depan benteng, sepanjang tepian sungai kini terdapat sebuah lapangan datar yang luas terbentang. Dari pelataran lapangan tersebut, kita dapat secara leluasa mengabadikan kunjungan kita ke Kota Wong Kito di bawah latar pemandangan bentang jembatan yang gagah nan indah. Sore hari adalah saat yang paling favorit untuk mengabadikan moment lembayung senja di tepian Jembatan Ampera. Di saat itu kita dengan santai dapat menikmati semilir angina sungai dengan hiasan ratusan kapal motor yang hilir-mudik tiada henti. Sungguh sebuah pemandangan yang akan senantiasa terkenang. Monggo.

Kulon Balairung, 21 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s