Legenda Putri Fatimah dan Pagoda Teras Sembilan Pulau Kemaro


Sungai Musi di musim hujan. Detik-detik jelang Tahun Baru Imlek, tentu mafhum bertepatan dengan puncak musim hujan. Hujan deras adalah perlambang hoki. Hujan deras menjadi pertanda pembawaan rejeki di sepanjang tahun yang akan berjalan. Siang sehari jelang Imlek itu langit sedikit mendung. Hujan sisa pagi masih menyisakan embun-embun di helai daun. Meski hujan terhenti tercurah, namun masih banyak warga yang berharap hujan akan bersambung di hari itu. Hari jelang Tahun Baru Imlek.

Tidak hanya sekedar simbolik sebagai pembawa rejeki, hujan juga membawa aliran air yang lebih besar bagi batang Sungai Musi. Air berlimpah dari hulu turun ke hilir. Aliran air deras nan keruh itupun membangkitkan gelombang yang kian bergerak. Kapal-kapal motor tempel kecil terombang-ambing dalam hantaman riak yang semakin menggelegak ketika satu-dua kapal cepat ataupun kapal berbadan lebih besar melintas. Alur-alur riak ganas yang ditimbulkan di tengah sungai mengharuskan kapal kecil yang kami tumpangi terus menyusur jalur pinggiran sungai.

Terminal terapung, warung-warung terapung bergoyang seirama riak gelombang. Surau-surau di kampung sepanjang tepian alur menjadi pagar batang sungai yang tak bisa lagi melebar. Kapal mengangkut penumpang. Kapal mengangkut pedagang. Kapal tongkang, kapal tengker, hingga kapal dengan bobot berates ton hilir-mudik atau bersandar. Di sudut yang lain, ada pula kapal motor tertambat di aliran dengan beberapa pekerja yang sibuk. Sebuah selang menyedot sesuatu dari dasar sungai dan mengalirkannya ke sebuah kotak di atas kapal. Mereka tengah sibuk mencari pasir untu dijual.

Setengah jam berlalu. Setengah jam terombang-ambing dalam riak gelombang. Setengah jam menyusur tepian Musi dari bawah Jempatan Ampera ke sisi hilir. Muncul sebuah anak pulau di sisi tepian kiri sungai. Dari setitik nila, pulau itu membesar menampakkan gundukan tanahnya. Pulau dengan dominasi warna hijau itu menyangga mahkota dengan dominasi warna merah menyala di puncaknya. Mahkota itu berlapis-lapis, berteras-teras dengan sembilan teras tingkatan. Bangunan itu rupanya sebuah pagoda, alias sebuah puncak menara klenteng. Masyarakat awam mengenalnya sebagai Pagoda Pulau Kemaro.

Dikisahkan Tan Bun An, seorang pangeran rupawan dari Negeri Tiongkok di masanya. Ia berjodoh dengan seoang puteri Palembang bernama Fatimah. Setelah melangsungkan pernikahan di Negeri Tirai Bambun mereka kembali ke Palembang dengan kapal. Oleh keluarganya, pasangan muda tersebut dibekali dengan beberapa guci antik. Sepanjang perjalanan kedua pengantin tersebut merasa bertanya-tanya gerangan apakah isi di dalam guci.

Sesaat berada di Sungai Musi, Tan Bun An tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Ia yang sedari awal berharap guci-guci bawaannya itu berisi harta benda dan perhiasan segera membuka salah satu guci. Alangkah kecewanya sesaat setelah membuka, ia hanya menemukan sawi asin di dalamnya. Dengan rasa kecewa yang membuncah, ia segera melempar satu per satu gucinya ke luar dari kapalnya. Guci-guci itupun jatuh tenggelam ke dalam sungai. Ketika tiba saat guci terakhir, ia kurang hati-hati sehingga gucinya terjatuh di lantai geladak. Guci itupun pecah berderai.

Alangkah terkejutnya Tan Bun An. Ketika guci terakhir pecah, justru bersamaan dengannya berhamburan perhiasan dan uang emas. Matanya segera terbelalak. Kerongkoangannya serasa menggelegak. Dengan naluri pikirnya ia segera menjeburkan diri ke badan sungai. Maksud hati ia ingin menyelam dan mengambil kembali guci-gucinya yang lain. Ia tidak menyangka jika ternyata guci pemberian orang tuanya berisi perhiasan dan uang emas. Ia telah salah sangka dan mengira guci-gucinya hanya berisi sawi asin. Ia sadar, di balik sawi asin itu justru tersimpan harta karun yang sesungguhnya.

Kejadian itu terlampau cepat. Seisi kapal menjadi panik. Ditunggu sesaat dua saat Tan Bun An tak lagi muncul. Salah seorang pengawal turut mencebur bermaksud menolong tuannya. Iapun sirna ditelan air sungai. Dengan rasa putus asa Puteri Fatimah nekad turut terjun ke sungai. Maksud hati ia hendak menolong suaminya. Lama ditunggu tak ada tanda-tanda kemunculan ketiganya. Tangis air mata para awak kapalpun pecah berderai. Mereka telah kehilangan tuannya, kedua-duanya. Tanpa mayat, tanpa kabar hingga kini.

Kisah romantik suami istri Tan Bun An dan Puteri Fatimah tersebut menjadi legenda yang melatarbelakangi Pulau Kemaro. Sebuah delta di pinggiran Sungai Musi yang kini menjadi situs perziarahan penting bagi ummat Kong Hu Chu dan Budha. Di pulau tersebut kini berdiri sebuah area klenteng tempat ibadat umat Tri Dharma. Di bawah pengelolaan Yayasan Toa Pekong, Keramat Pulau Kemaro menyimpan misteri kematian Tan Bun An, Puteri Fatimah dan seorang pengawalnya.

Di samping legenda Tan Bun An, Komplek Klenteng Toa Pekong Pulau Kemaro memiliki daya tarik daya tarik hadirnya sebuah pagoda berteras alias bertingkat sembilan. Konon jumlah teras bertingkat yang ada tersebut melambangkan pencapaian perjalanan setiap umat manusia yang menjalankan dharma sesuai ajaran Budha.

Hari-hari menjelang Tahun Baru Imlek dan puncak perayaan Cap Go Meh merupakan saat-saat yang paling tepat untuk mengunjungi Pulau Kemaro. Sudut-sudut pulau dihias dengan ribuan lampion merah menyala. Demikian halnya dengan cat-cat diperbarui kembali.

Pelau Kemaro dengan Klenteng Toa Pekongnya merupakan salah satu destinasi daya tarik wisata paling diminati di Palembang. Menikmati kapal apung sepanjang satu jam perjalanan pulang-pergi merupakan sensasi tersendiri jika kita berkunjung bersama keluarga. Gong Xi, Gong Xi Ni.

Kulon Balairung, 20 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s