LRT Palembang Yang Belum Menambang Uang


Berkenaan dengan kesempatan liburan keluarga kami di Kota Wongkito Palembang, tentu saja tidak lengkap jika tidak mencoba LRT Palembang. LRT alias Light Rail Train, merupakan teknologi kereta api ringan yang terbilang masih modern saat ini. Di era milenial saat ini, bahkan ketika ibukota Jakarta masih dalam tahap pembangunan, Palembang telah menjadi kota pertama yang memiliki dan mengoperasikan LRT di tanah air. LRT Palembang turut menjadi penanda kemegahan infrastruktur transportasi yang mendukung perhelatan Asian Games XVIII pada pertengahan tahun 2018 lalu.

Seketika tiba di Palembang melalui Stasiun Kertapati dalam remang temaram senja yang gerimis, kami menumpang sebuah taksi online menuju penginepan. Saat melintas Jembatan Ampera, perbincangan dengan sang pengemudi berbelok membahas LRT yang jalurnya tepat bersebelahan dengan jalanan yang kami lalui. Ketika sempat kami tanyakan bagaimana kondisi operasionalisasi LRT Palembang saat ini, dia justru memaparkan sebuah keprihatinan.

Bagi pengemudi taksi online yang kami tumpangi, semenjak selesainya perhelatan Asian Games, animo masyarakat Palembang untuk memanfaatkan LRT dalam menunjang mobilitas dan aktivitas keseharian masih rendah. Sehari-hari LRT yang hampir berlalu lalang antara setiap 20-30 menit senantiasa sepi penumpang. Bahkan di saat-saat sibuk, seperti jam berangkat ataupun pulang kerja, hal yang sama terjadi. Hanya di hari Minggu atau hari libur yang lain, nampak ada peningkatan jumlah penumpang. Rupanya bagi sebagian warga Palembang, waktu libur salah satunya dimanfaatkan untuk “berwisata” menikmati LRT kebanggaan tidak hanya warga setempat, namun juga bangsa kita ini.

Tujuan jangka pendek dibangunnya LRT Palembang memang untuk mendukung mobilitas atlet dari berbagai negara dalam perhelatan Asian Games XVIII. Namun, untuk selanjutnya tentu saja kerea ringan berteknologi canggih tersebut diharapkan dapat menjadi sarana transportasi andalan dalam turut memperlancar lalu lintas di kota pek-mpek.

Senin pagi menjelang Hari Raya Imlek. Sedari dini hari Palembang diguyur hujan. Mungkin curahan hujan yang cukup deras tersebut sebagai tanda hoki akan melimpahnya rejeki di tahun babi kali ini. Kala hujan sedikit reda dan menyisakan lembut rintik gerimis, kami bergegas menuju Stasiun LRT Dinas Perhubungan yang tinggal beberapa langkah dari tempat kami menginap.

 

Ketika kami menginjakkan kaki di tepian trotoar yang sedikit diperlebar sebagai tempat drop calon penumpang, kami tidak menjumpai satu orangpun calon penumpang yang lain. Sejurus kemudian kami menaiki sebuah tangga eskalator otomatis yang menyambut dingin kedatangan kami. Awalnya tangga itu diam tak bergerak. Begitu sensornya mencium kedatangan kami, iapun segera bergerak ke arah atas seolah mempersilakan kami untuk segera menaikinya. Sampai ujung atas tangga escalator, kamipun segera menysuri sebuah jalur lorong beralas lembar logam bercat warna biru tua. Jalur tersebut merupakan akses keluar-masuk area stasiun LRT. Lagi-lagi suasana sepi, dan kami belum mendapati kawan seiring seperjalanan yang lain.

Tak seberapa lama kemudian, langkah kaki kami membawa ke pintu masuk area dalam stasiun LRT. Seorang petugas perempuan menyambut kedatangan kami dengan senyum penuh persahabatan. Dengan ramah ia menanyakan tujuan kami. Ia juga menanyakan apakah kami sudah memiliki kartu tiket khusus. Istri yang kemudian memberikan tanggapan. Kebetulan kami membawa kartu e-money dari beberapa bank swasta. Kartu e-money bagi kami sebagai warga pinggiran ibukota Jakarta sudah menjadi pegangan sehari-hari untuk mengakses kereta commuter line, busway, hingga pintu tol. Istri kami segera menyerahkan empat buah kartu e-money kepada petugas.

Suasana ruang tunggu Stasiun Dishub yang lengang calon penumpang maupun aktivitas lain

Petugas kemudian mengarahkan kami ke ruang pelayanan tiket. Di ruang tersebut, petugas melakukan cek saldo terhadap kartu e-money kami. Sejenak kemudian, ia memberikan penjelasan bahwa saldo uang kami masih mencukupi dan dapat menggunakan kartu-kartu kami untuk naik LRT Palembang. Kamipun masih dengan diantar petugas dan seorang satpam diantar menuju ke pintu masuk area ruang tunggu. Tepat di gerbang tap, dua orang petugas perempuan yang lain dan seorang satpam kembali menyambut kami. Masing-masing kartu kami di-tap-kan dan kamipun dipersilakan memasuki ruang tunggu dan menunggu kedatangan LRT.

Lagi-lagi suasana di ruang tunggu teramat lengang dan sepi. Kami serasa sedang tidak berada di sebuah stasiun. Suasananya jadi mirip dengan stasiun-stasiun pinggiran Kota Wina, semisal Renwig. Benar-benar hanya kami berempat calon penumpang di ruang tunggu. Kebetulan LRT yang akan kami tumpangi masih sekitar 20 menit baru akan tiba. Kami tidak diperkenan untuk langsung naik ke peron di atas ruang tunggu. Tentu saja, sambil menunggu kami berkeliling dan mecermati keadaan ruang tunggu yang masih serba kinclong. Namanya juga stasiun yang masih baru, terlebih dalam kondisi jarang dirambah orang, semua nampak bersih dan rapi.

Lima menit menjelang kedatangan kereta, seorang satpam mengantar kami untuk naik ke peron. Sebuah escalator menjadi penghubung antara ruang tunggu dan peron. Akses yang lain berupa lift yang lebih diprioritaskan untuk saudara kita yang disabilitas. Lagi-lagi di atas juga sepi. Hingga LRT datang dan kami dipersilakan masuk, tetap tidak ada penumpang lain yang naik bersama kami dari Stasiun Dishub tersebut. Kereta LRT Palembang sepanjang tiga gerbong itupun segera membawa kami ke Stasiun Jakabaring.

Ketika kami duduk, keretapun bergerak meninggalkan stasiun. Sejenak mengamati sekitar kami, ternyata hanya beberapa romongan kecil yang turut menumpang. Gerbong kereta terlihat sangat lengang. Deretan kursi beralas biru itupun nampang kosong. Di samping rombongan kecil keluarga kami dan beberapa penumpang perorangan yang lain, terlihat beberapa ibu-ibu dengan masing-masing seorang anak yang berseragam polisi cilik. Tentu mereka anak-anak Taman Kanak-kanak yang sengaja menjajal nikmatnya LRT Palembang, atau memang sedang menuju suatu lokasi acara di dekat jalur LRT.

Hujan gerimis masih meneteskan butiran air. Kereta LRT berjalan pelan membelah kota. Selepas melintasi Stasiun Pasar Cinde, keretapun tiba di Stasiun Ampera. Sejenak kemudian ketika kereta bergerak, terbentanglah di sisi sebelah kanan Jembatan Ampera yang legendaris. Dengan terpaan gerimis dan sedikit angin yang melaju menghadirkan pemandangan tersendiri di atas Sungai Musi yang disibukkan dengan berbagai perahu besar-kecil yang berlalu lalang. Itulah pagi di Palembang dengan LRT Palembang.

Tentu naik sarana transportasi yang masih menjadi buah bibir karena kecanggihannya dan masih satu-satunya di tanah air menorehkan kesan tersendiri. Namun di satu sisi muncul pula pertanyaan, kenapa stasiunnya sepi, kenapa penumpangnya hanya sedikit, adakah benar kabar bahwa animo masyarakat untuk menjadikan LRT Palembang sebagai sarana transportasi sehari-hari masih rendah. Apakah kiranya berita yang mengabarkan biaya operasional LRT Rp. 9 M, sedangkan pemasukannya hanya Rp. 1 M per bulan?

Dari beberapa kalangan masyarakat setempat yang sempat berbincang, mereka berpendapat bahwa LRT belum menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Kepadatan dan kemacetan Palembang hanya terjadi di jalur-jalur utama tengah kota. Alasan yang lain terkait aksesbilitas  hanya hanya menjangkau jalur tertentu, perpaduan dengan moda transportasi lain yang dirasa belum sinkron, jadwal LRT yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan perjalanan, harga tiket, sistem pembayaran, juga naik turunnya ke stasiun yang dirasakan masih merepotkan.

Yah, tentu saja sayang seribu sayang jika keberadaan LRT Palembang hanya sebatas dipandang sebagai “kereta wisata” sebagaimana yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. LRT sebagai infrastruktur yang sedemikian mahal dibangun semestinya dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai investasi untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan bisnis. Tentu hal ini juga membutuhkan proses edukasi dan kesadaran masyarakat untuk melakukan penyesuaian diri demi kemajuan bersama. Jikapun sebagai infrastruktur transportasi baru saat ini LRT Palembang belum mampu menambang uang, harapannya ke depan akan jauh lebih baik dan produktif.

Ngisor Blimbing, 13 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , . Tandai permalink.

11 Balasan ke LRT Palembang Yang Belum Menambang Uang

  1. mysukmana berkata:

    Palembang ada beginian..sukak sekali negara kita makin maju..jangan lupa lanjutkan 01..eh…hahaha

    Suka

  2. Uchi berkata:

    Aku suka naik kereta… Andai di Medan dibikin begini mungkin aku penumpang setia hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s