Antar Moda Lintas Moda Tangerang – Palembang


Selat Sunda, terbentang antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Selat yang tidak terlampau dalam dan lebar tersebut menjadi pemisah sekaligus penghubung antara dua pulau utama di wilayah barat Indonesia. Pelabuhan Merak  di ujung barat Banten dan Pelabuhan Bakauheni di ujung selatan Lampung menjadi titik penghubung yang menciptakan jalur penyeberangan dengan kapal ferry atau kapal roro. Dalam kondisi cuaca yang kondusif, jarak tersebut dapat ditempuh dalam durasi pelayaran rerata selama dua jam perjalanan.

Kapal ferry

Kotabumi di Lampung Utara, kurang lebih 3,5 tahun silam pernah kami kunjungi bersama rombongan beberapa rekan kerja. Kunjungan tersebut dalam rangka kondangan rekan kerja yang menikah kala itu. Perjalanan lintas tol Jakarta-Merak, ketibaan di area Pelabuhan Merak, antri kendaraan di dermaga keberangkatan, deretan kendaraan yang bergerak pelan memasuki dek bawah kapal, menaiki tangga ke dek atas, menjelajah antar ruang dan bagian dek atas kapal, duduk bersantai di restoran atau ruang karaoke yang sejuk, menikmati semilir angin laut yang kering dan menimbulkan keringat khas, juga pemandangan berlatar biru laut dan langit di siang cerah, ataupun suasana malam temaram dalam perlintasan malam hari meninggalkan sebuah pengalaman yang sangat mendalam.

Dari perjalanan bersama rombongan tersebut, sempat terbersit rencana dan keinginan untuk pada suatu saat dapat mengulang dan menikmati kembali perjalanan lintas Selat Sunda dengan kapal ferry tersebut. Tidak lagi melintas bersama rombongan rekan kerja, tetapi berperjalanan melintas bersama keluarga. Alangkah akan senangnya anak-anak menikmati pelayaran dengan kapal ferry yang berukuran cukup besar. Sebuah kapal yang lengkap dengan dek parkir kendaraan, restoran, ruang tidur, ruang karaoke, mushola, bahkan anjungan kapal yang luas.

Sekedar menikmati pelayaran dengan kapal ferry melintasi Selat Sunda kiranya kurang lengkap. Tidak sekedar berkapal ferry, kamipun sengaja merencanakan untuk melintas Tangerang hingga Palembang dengan memadukan berbagai moda angkutan transportasi. Waktu hingga wakt berjalan, sepertinya kesempatan tersebut belum juga tiba. Di samping itu, usia anak bungsu kami yang masih balita menjadikan pertimbangan tersendiri untuk melakukan sebuah perjalanan antar kota, antar provinsi, bahkan antar pulau dengan cara berantai alias ngeteng dengan bergonta-ganti kendaraan umum.

Di saat anak bungsu kami berulang tahun di akhir tahun lalu, kami merasakan tibalah saatnya untuk mengeksekusi rencana mbolang lintas Tangerang hingga Palembang. Tentu saja perencanaan jauh hari kami lakukan dengan sebaik-baiknya. Rute mana yang akan kami tempuh. Moda angkutan transortasi aa yang akan kami gunakan. Jadwal berbagai angkutan tersebut. Harga tiket yang harus kami persiapkan. Tempat singgah atau transit untuk beristirahat atau menginap. Semua hal tersebut kami rencanakan dengan secermat mungkin. Liburan Tahun Baru Imlek, kami rasa sebagai saat yang tepat untuk menjalankan rencana kami.

Pukul 06.00 pagi di hari Sabtu, kami menumpang grabcar menuju Stasiun Rawa Buntu. Sesaat menunggu di peron, kamipun kemudian naik kereta KRL Commuterline menuju Stasiun Maja. Dari Maja kami lanjutkan perjalanan hingga Stasiun Rangkas Bitung. Sekitar jam 09.05 kami sudah berganti dengan kereta KRD Lokal Merak. Setelah kurang lebih dua jam ber-KRD, kamipun tiba di Stasiun sekaligus dermaga Pelabuhan Merak. Tibalah saatnya kami menaiki kapal ferry.

Setengah dua belas siang kami mulai menaiki Kapal Ferry Kiranan II yang akan menyeberangkan kami ke Bakauheni. Dengan berbekal tiket kapal seharga Rp. 15.0000,- untuk penumpang dewasa dan Rp. 8.000,- untuk penumpang anak-anak, kamipun dapat menikmati segala fasilitas yang ada di atas kapal selama perjalanan melintasi Selat Sunda. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, kapalpun perlahan bergerak meninggalkan dermaga menuju tengah laut lepas.

 

Selama dalam perjalanan, kamipun sempat mengamati petugas sandar-labuh kapal yang mengangkat jangkar hingga menggulung tali tambat. Kamipun berkesempatan sholat di mushola kapal yang bersih, sejuk oleh dinginnya hembusan AC. Kamipun sempat menikmati sajian minum dan makan ringan di area restoran kapal terbuka yang terletak di dek paling atas. Tak lupa kami juga sempat berkeliling melihat-lihat hampir setiap ruang yang ada, bahkan hingga dek terbawah yang dikhususkan tempat parkir kendaraan bus dan truk. Semilir angin dan kicau camar di kejauhan mengantarkan pelayaran kami di siang hari yang cerah tersebut dengan penuh kesan kegembiraan.

Pukul 14.30 kapal kamipun sudah sandar di dermaga Bakauheni. Tak seberapa lama kemudian kamipun melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Karang dengan kendaraan travel yang banyak mangkal di terminal keluar. Di ibukota Provinsi Lampung ini kami menginap untuk semalam saja.

Di pagi hari berikutnya, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan KA Rajabasa menuju Palembang. Kereta api andalan Divre PT KAI III ini berangkat dari Stasiun Tanjung Karang tepat pukul 08.30.  Kereta inilah yang membawa kami sekeluarga menembus sawah, ladang, hingga belantara hutan sepanjang Lampung hingga Sumatera Selatan. Jajaran tanaman karet, kelapa sawit, jati, hingga rimba semak belukar hampir menjadi pemandangan utama selama perjalanan.

Selama perjalanan itu pula kami saling berbincang tentang berbagai hal. Tentang berbagai tanaman atau pohon yang kami lihat. Tentang kota-kota kecil dan stasiun yang kami lintasi. Tentang pohon karet, teknik menyadap getahnya, crepe, latex, hingga produk ban. Tentang tanaman rotan yang merambat liar, kursi rotan dan berbagai perabot lain. Tentang kelapa sawit hingga minyak goreng. Tentang batubara, kereta Babaranjang. Tentang apa saja.

Akhirnya, setelah perjalanan selama kurang lebih 9 jam, kamipun merapat di Stasiun Kertapati Kota Palembang. Hari sedikit gerimis dan menjelang Maghrib. Kamipun segera menumpang sebuah taksi online menuju ke tempat penginapan. Inilah perjalanan ngeteng bin mbolang ala keluarga kami yang paling berkesan dari sisi gonta-gantinya moda angkutan transportasi yang kami gunakan. Tentu saja harga yang kami bayarkan adalah harga rakyat. Tangerang – Palembang bin ngeteng dengan angkot, grabcar, kereta api, kapal ferry, minibus travel, bisa menjadi salah satu cara untuk berperjalanan bersama keluarga. Sebuah perjalanan keluarga dengan rasa pengalaman yang berkesan mendalam bagi kami dan anak-anak. Semoga.

Ngisor Blimbing, 7 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Antar Moda Lintas Moda Tangerang – Palembang

  1. Yusri Mathla'ul Anwar berkata:

    Pengen banget bisa nikmatin perjalanan yang sama, mas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s