Tawuran Membawa Korban


Memang benar kata Wak Haji Rhoma Irama, “darah muda darah yang berapi-api.” Anak muda, remaja muda, orang muda, seringkali memiliki keinginan dan semangat yang menggebu-gebu. Siapakah yang lantang mengikrarkan tekad Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 kalau bukan anak muda. Siapakah deretan barisan Utama pendukug Proklamasi 17 Agustus 1945 jika bukan anak muda. Siapakah yang gegap gempita mengangkat bambu runcing menggelorakan perlawanan hidup mati 10 November 1945 di Surabaya? Siapakah yang turun ke jalan menuntut Tri Tura? Siapa yang menjadi tulang punggung bangkitnya reformasi di negeri tercinta? Anak muda!

Ilustrasi twauran (sumber Tempo)

Semangat, tenaga, dan idealisme yang sedang menggebu tersebut tentu akan sangat bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bahkan negara dan ummat manusia jika terarah ke hal-hal yang berguna. Deretan fakta sejarah di atas sebagai bukti betapa peran dan semangat anak muda tidak bias dipandang sebelah mata, bahkan oleh setiap bangsa manapun. Tak kalah Bung Karno juga lantang mengatakan, “Beri saya sepuluh pemuda! Akan saya guncang dunia!

Anak muda dengan masa mudanya adalah anak manusia yang tengah merintis jalan untuk mencari identitas jati dirinya. Di samping potensi keluarbiasaannya, di masa pencarian ini juga menjadi masa yang sangat kritis untuk perjalanan hidup selanjutnya. Arus pergaulan dan lingkungan yang tidak bersahabat dengan kebutuhan tumbuh kembangya nalar, batin, jiwa, dan raganya akan menyeret para generasi muda terseret kepada hal-hal yang kurang berguna, membahayakan, bahkan merusak dan merugikan kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih luas.

Salah pergaulan, mabuk-mabukan, narkoba, dan hal-hal non susila lain sangat rentang memapar dan mempengaruhi generasi muda kita. Fenomena tawuran antar dua kelompok anak muda dewasa ini sudah semakin membahayakan dan meresahkan. Bagi kelompok anak muda yang demen dengan tawuran, musuh sengaja dicari. Alih-alih membawa buku dan perlengkapan sekolah, mereka juga seringkali membekali diri dengan rantai, gir sepeda, bahkan senajata tajam semisal pisau, celurit, hingga pedang.

Kejadian heboh tawuran antar dua kelompok siswa yang membawa korban jiwa di wilayah Magelang hari kemarin sungguh mengundang rasa keprihatinan yang sangat mendalam. Terlepas dari persoalan yang dipermasalahkan, namun tawuran hingga membawa korban nyawa adalalah senyata-nyatanya tindakan kriminal yang tidak bererikemanusiaan. Senakal-nakalnya anak nakal pada dua decade yang lalu, mungkin kalaupun sampai terjadi perselisihan ya sebatas duel adu satu lawan satu. Itupun mereka masih memegang kode etik bahwa setelah duel, baik yang menang maupun kalah sama-sama secara terbuka dan kesatria saling memaafkan.

Kejadian yang sungguh menyedihkan ini sebaiknya menjadi bahan introspeksi bersama. Ya keluarga, sekolah, masyarakat, dan tentu pemerintah. Membina dan mendidik anak tidak semata-mata menjadi beban sekolah. Sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan kita, ada tiga pilar utama pendidikan. Pendidikan keluarga, Pendidikan sekolah, dan Pendidikan masyarakat. Ketiga subyek entitas ini harus bersatu, berpadu, bersama seiring sejalan untuk membentengi generasi muda kita. Tanpa adanya sinergi diantara tiga entitas utama tersebut, yang akan terbentuk adalah generasi muda yang manja, emosional, mudah marah, mudah tersulut, intinya para anak muda yang bersumbu pendek.

Semoga tawuran antar anak muda maupun antar golongan kelompok masyarakat yang lain tidak perlu terjadi lagi di masa depan. Sebeda-bedanya pendapat, kita harus senantiasa menjunjung tinggi asas musyawarah. Ada masalah ya bermusyawarah. Ada perkara ya dirembug bersama. Kebersamaan harus menjadi perekat utama jika kita ingin kuat sebagai bangsa. Semoga saling berintrospeksi diri. Monggo.

Kulon Balairung, 1 Februari 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s