Dhammikarama Burmese Budhist Temple: Kemilau Kuil Emas di Penang


EMPAT HARI TIGA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE PENANG (5)

Salah satu bonus destinasi wisata khas yang terdekat dengan The Gurney Hotel and Residence tempat kami menginap adalah Dhammikarama Burmese Budhist Temple. Vihara atau kuil dengan dominasi kemilau warna kuning emas ini terletak di Lorong Burma, salah satu titik menarik di Kawasan Taman Tikus yang berseberangan dengan Gurney. Dari penginapan, kami tinggal jalan tidak lebih dari 300 meter dengan menyusur sisi trotoar Jalan Kelawai yang teduh.

Ketika memasuki gerbang utama, penglihatan kami langsung disuguhi dengan serba-warna kuning emas dengan dua gajah putih di sisi kanan-kiri gerbang. Sekilas dengan melihat corak ukiran detail kuil, dominasi warna kuning emas, patuh gajah putih di beberapa sudut, kita langsung berpikir tentang bangkok di Negeri Thailand, dengan seribu satu pagodanya. Weiit, tunggu dulu masbro! Jika Anda berpikir kami tengah berada di Thailand.

Dhammikarama Budhist Burmese Temple, dari nama kuil dan juga keberadaannya di Lorong Burma, sesungguhnya merupakan petunjuk keberadaan kuil serba kemilau kuning emas nan eksotik ini. Ya, kuil ini memang kuil yang dibangun ummat Budha dari Burma yang telah mendiami wilayah ini semenjak abad 18. Negeri Burma atau Myanmar sebagaimana kita ketahui bersama memang menerupakan negeri yang bertetanggan langsung dengan Thailand. Kedua negeri ini memang secara mayoritas berpenduduk yang memeluk agama Budha.

Dhammikarama Budhist Burmese Temple konon merupakan kuil budha tertua di Pulau Penang. Kuil ini sebenarnya sekaligus berfungsi sebagai vihara alias klentheng bagi penganut Kong Hu Chu. Oleh karena itu selain puncak ritual Waisyak di bulan Mei, tempat ini juga penuh gebyar di hari perayaan Imlek atau Tahun Baru China.

Memasuki gerbang halaman utama, pengunjung dapat langsung mengakses sebuah lorong panjang berpagar pilar kokoh berukir indah di sisi kanan-kirinya. Di beberapa sisi dinding nampak terpampang berbagai panorama lukisan yang menggambarkan kisah dan perjalanan hidup Sidharta Gautama. Lorong ini langsung menghubungkan bagian dalam area kuil yang berfungsi semacam mandala bagi ummat yang ingin mendalami dan menyelami ajaran Budha. Di sisi lorong, kita akan mendapati taman asri yang sungguh menyejukkan suasana. Di ujung belakang taman inilah terjajar kesatuan bangunan yang merupakan sebuah vihara.

Jikalau dari gerbang utama kita memilih untuk tidak lurus menelusuri lorong berpilar, kita dapat langsung belok ke sisi halaman depan. Ada bangunan berstupa runcing ribuan. Kita dapat memasuki ruang utama pemujaan. Di tengah ruang yang luas, berdiri dengan gagah sebuah patung Budha berjubah emas yang tegak pada sebuah lingkaran padma teratai berwarna merah jambu. Dengan mengelilingi patung tersebut, tepat di sisi belakang akan kita ketemukan puluhan patung Budha dengan berbagai sikap mudra. Patung-patung tersebut meskipun memiliki keserupaan satu sama lain, namun secara detail sungguh berbeda. Hal ini dikarena gaya dan aura patung yang ternyata berasal dari negara negara dengan penduduk penganut keyakinan Budha di Asia, seperti Thailand, Burma, Indonesia, Malaysia, Kamboja, bahkan China dan Jepang. Tentu saja untuk menghormati kesucian ruang utama ini, setiap pengunjung harus menanggalkan alas kaki sebelum memasukinya.

 

Jika kita melingkari bangunan utama kuil ke arah kiri, akan kita dapati sebuah pagoda mini yang sepertinya difungsikan dengan tempat penyimpanan abu jenazah para leluhur. Ke jika terus ke bagian belakang, terdapat patung kuda bersayap dengan dominasi warna hijau cerah dan kuning emas. Ada dua kuda yang masing masing mengapit sebuah bola dunia yang melambangkan penjagaan terhadap duni semesta.

Berlanjut dengan menyusuri taman hijau yang tertata rapi, terdapat sebuah kuil apung yang benar benar dibangun di atas sebuah kolam. Untuk memasuki kuil apung, ummat yang akan bersembahyang harus meniti sebuah papan jembatan yang menghubungkan sisi tepian dengan lantai dasar kuil di bagian tengah. Penjelahan area Dhammikara Burmese Budhist Temple dapat terus dilanjutkan ke bagian belakang hingga menemukan sebuah kolam dengan pundi pundi derma keberuntungan yang biasa dilempari dengan uang koin oleh pengunjung.

 

Demikian selintas gambaran mengenai Dhammikarama Burmese Budhist Temle yang termashur di Pulau Penang. Tentu saja untuk mengunjungi kuil bersejarah ini tidak dikenakan biaya sepeserpun. Namun ingat selalu untuk senantiasa menjaga ketertiban dan kesopanan tatkala kita berada di lingkungan tempat peribadatan. Anda di kuil ini juga dapat memberikan dharma kepada beberapa saudara papa yang menantikan sedekah dan keberkahan rejeki dari pengunjung.

Kulon Balairung, 8 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dhammikarama Burmese Budhist Temple: Kemilau Kuil Emas di Penang

  1. Ping balik: Reclining Budhist, Budha Tidurnya Pulau Penang | Sang Nananging Jagad

  2. Ping balik: Masjid Negeri, Masjid Bundar di Pulau Penang | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s