Dua Ribu Perak Satu Keluarga Naik Kereta Api


Naik kereta api dua ribu perak? Kereta kuda kali? Mungkin komentar ini yang akan terlontar jika seseorang memberi tahu bahwa satu keluarga dapat naik kereta api hanya dengan ongkos dua ribu perak. Bahkan untuk stasiun lokal di ibukota Jakarta yang terintegrasi sistem kereta Commuter Line, untuk sekedar masuk peron suatu stasiun tanpa naik kereta dikenakan tarif tap kartu dua ribu rupiah. Untuk tujuan stasiun terdekat, setidaknya tarif Rp. 3.000,- ataupun Rp.3.500,-. Ini kok satu keluarga naik kereta dua ribu perak. Sesuatu hal yang dirasa tak mungkin, alias tak masuk akal. Tapi inilah kenyataan yang keluarga kami alami seminggu lalu.

Jika satu keluarga dapat naik kereta api berbarengan, tentu ada kisah di balik kejadian tersebut. Lalu bagaimanakah kisahnya?

Begini lur. Pada saat keluarga kami menemuh jalur estafet Rawabuntu tujuan Merak, kami tentu saja harus transit dan berganti kereta di Stasiun Rangkasbitung. Di stasiun ini, dari KRL Communter Line kami harus berganti dengan kereta api lokal alias KRD Merak. Secara resmi kereta ini bertarif Rp.3.000,-. Tentu untuk kami berempat, empat tiket kami beli di loket. Benar, total jenderal tiket yang kami bayarkan Rp.12.0000,-.

Setelah memegang empat tiket, kamipun bergegas boarding ke gerbong KRD Merak. Ketika memasuki sebuah gerbong di deretan tengah, meskipun tidak penuh berjejal namun semua kursi penumpang nampak sudah ada penumpangnya meskipun dua atau tiga penumpang per deretnya. Kamipun berpindah ke gerbong arah depan dengan harapan mendapatkan deretan kursi yang kosong untuk kami sekeluarga. Setelah melewati beberapa gerbong, kami menemukan dua deret kursi berhadapan yang masih kosong pada gerbong terdepan alias gerbong nomor satu.

Setelah sejenak duduk, rupanya waktu keberangkatan kereta masih beberapa saat. Waktu yang sesaat itupun kami manfaatkan untuk urusan ke belakang. Kebetulan jarak kursi kami ke toilet tidak begitu jauh. Tanpa dikomando si Ponang yang rupanya sudah sekian waktu ngampet langsung paling duluan ngacir ke toilet. Sejenak ia mengunci diri di ruang toilet yang berukuran 1,5 m x 1,5 m itu.

Setelah selesai menunaikan “hajatnya”, anak sulung ini keluar sambil nyengir kegirangan. Bukan soal sudah plong dan lega dengan tertuntaskan urusan di kamar kecilnya. Ia nampek bergembira karena hal lain. Usut punya usut, sambil nyengir gembira ia meluncurkan cerita tanpa diminta siapapun. “Pak, aku nemu dhuwit. Sepuluh ewu!” serunya senang dan tertawa riang.

Dasar rejeki anak sholeh. Anak lelaki kami tersebut langsung berhitung. Bayar tiket berempat dua belas ribu. Nemu uang sepuluh ribu. “Jadi kita naik kereta ini hanya mbayar Rp.2.000.-. Lumayan kan Pak, mbayar murah untuk dua jam naik kereta berempat satu keluarga,” si Ponang menyimpulkan.

Puji Gusti. Tidak hanya terhenti menyimpulkan murah meriahnya kami berkereta hari itu, si Sulung menghubungkan nalar othak-athik gathukannya dengan peristiwa beberapa hari sebelumnya. Ketika jam sekolah usai, ia bergegas untuk segera pulang. Di sela pedagang yang ramai mengitari pelataran luas di luar pagar halaman sekolahnya, dudu bersimpuh seorang kakek-kakek tua. Ya, kakek tersebut seorang pengemis yang tengah sabar menunggu seseorag yang berkenan memberinya sekedar uang sedekah.

Melihat seorang kakek tua renta di hadapannya, si ponang langsung merogoh kantong celananya. Ia menggenggam uang jajannya yang masih utuh hari itu. Lima ribu rupiah! Uang yang digenggamnya itu langsung diberikan kepada pengemis tua itu.

Kejadian menemukan uang sepuluh ribu rupiah di toilet kereta langsung dikorelasikan dengan sedekahnya kepada kakek di halaman sekolahan tempo hari. Tuhan Maha Adil dan pemurah, sedekah lima ribu rupiah dibalas sepuluh ribu rupiah. Dibayar kontan lagi. Entahlah. Semoga saja memang benar demikian adanya. Siapa yang ikhlas membantu sesamanya yang sedang kesusahan, Tuhan sendirilah yang akan membalas kebaikan tersebut dengan balasan yang berlipat ganda banyaknya. Semoga kejadian tersebut senantiasa dikenang anak kami dan menjadi penyemangat untuk lebih sering lagi bebagi kepada sesama. Meskipun bukan berarti bahwa kami sudah kaya raya.

Ngisor Blimbing, 28 Desember 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Dua Ribu Perak Satu Keluarga Naik Kereta Api

  1. mysukmana berkata:

    Wah mantap..kalau di solo ada kereta 4000 per orang Solo Wonogiri 2 jam..
    Cocok buat pergi sama keluarga kecil

    Suka

  2. Hendri's Blog berkata:

    Asyik ya murah meriah..

    Suka

  3. Ping balik: Tetirah di Awal Tahun | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s