Tujuh Puluh Ribu Ongkos Hemat Tangerang-Tanjung Karang


Apa-apa mahal. Apa-apa so pasti perlu uang. Kebutuhan banyak, uang terbatas. Mau kemana-mana tidak punya kendaraan pribadi juga jatuhnya butuh ongkos yang lebih banyak. Dengan kondisi kantong yang serba pas-pasan, di masa liburan akhir-awal tahun kali ini apakah kita harus benar-benar bengong di rumah saja. Melihat orang lain bersama keluarga pergi berwisata bersama, keluar kota, bahkan mudik ke kampung halaman, tentu kitapun menginginkannya. Apakah ada sekiranya dolan-dolan hingga tempat yang cukup jauh namun tidak menguras habis kantong dan tabungan kita? Tentu akan lebih bermakna jika dapat pergi bersama-sama keluarga bukan? Mungkin tulisan ini bisa memberikan satu alternatif jawaban untuk pergi wisata antar pulau dengan hemat ongkos jalan.

Bagi rekan-rekan yang tinggal di Jabodetabek, khususnya di Tangerang, mungkin belum semua pernah merasakan menyeberang ke Pulau Sumatera. Utamanya tentu mengunjungi kota Bandar Lampung yang sebelumnya dikenal sebagai Tanjung Karang. Bagi pasangan muda dengan anak-anak yang belum beranjak dewasa, bepergian bersama keluarga ke Bandar Lampung mungkin dapat menjadi salah satu alternatif mengisi liburan akhir dan awal tahun ini. Dengan kecermatan penggunaan moda transportasi umum kita sekeluarga dapat menyeberang pulau dengan budget hemat lho. Nggak percaya?

Anggap saja keluarga kita start dari stasiun kereta. Dengan menumpang KRL Commuter Line, kita bisa mengakses Stasiun Rangkasbitung, bersambung ke Merak, menumpang kapal ferry ke Bakauheni, kemudian naik bus atau travel ke Tanjung Karang alias Bandar Lampung. Lalu bagaimana caranya? Mudah bos, berikut salah satu itenari perjalanan yang hemat dan membahagiakan.

Misalkan kita mulai dari naik KRL Commuter Line dari Stasiun Rawabuntu di dekat BSD. Dari stasiun ini kita menumpang kereta menuju Rangkasbitung. Sekali tap, setiap penumpang hanya dikenakan tiket seharga Rp. 6.000,-. Turun di Stasiun Rangkasbitung, perjalanan kita lanjutkan kembali dengan kereta api KRD menuju Stasiun Merak. Perjalanan dari Stasiun Rawabuntu hingga Stasiun Rangkasbitung ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam.

Jalur kereta antara Rangkasbitung-Merak belum memiliki sambungan listrik, sehingga tidak dilayani dengan KRL. Di samping itu, jalur ini juga belum memiliki jalur rel ganda. Dengan demikian, untuk naik KRD Rangkasbitung-Merak penumpang tidak dapat menggunakan kartu e-tiket. Setiba di Stasiun Rangkasbitung, setiap penumpang harus tap keluar stasiun. Di loket khusus, penumpang harus membeli tiket secara manual untuk mendapatkan tiket sambungan KRD ke Merak. Setiap penumpang hanya dikenakan tariff Rp. 3.000,- untuk durasi perjalanan dua jam(sungguh murah meriah bukan?).

Sehubungan KRD Merak hanya melayani tiga trip setiap harinya, maka kita harus benar-benar memastikan jam keberangkatan KRD dari Stasiun Rangkas. Pengalaman keluarga kami yang berangkat pagi-pagi dari rumah kami di Tangerang, salah satu trip KRD  Merak di jam pagi berangkat pukul jam 09.05 WIB. Dengan demikian, kami memilih berangkat dari Stasiun Rawabuntu dengan menumpang KRL Commuter Line di jam 07.09 WIB. Dengan kereta tersebut tibalah kami di Rangkasbitung sekitar pukul 08.36 WIB. Dengan demikian, ketika tiba di Stasiun Rangkasbitung kami masih memiliki waktu skeitar 25 menit untuk membeli tiket lanjutan.

Dengan tiket lanjutan, kamipun melanjutkan perjalanan dengan KRD menuju Stasiun Merak. KRD Merak merupakan kereta diesel kelas ekonomi dengan jajaran tempat duduk tiga dan dua deret di masing-masing barisan. Meskipun kami waktu itu bepergian pada saat liburan tanggal merah, namun suasana penumpang di dalam kereta tidak sama sekali penuh. Bahkan kami berempat duduk di kursi penumpang deret tiga yang berhadap-hadapan.

Dua jam perjalanan tibalah kami di Stasiun Merak. Stasiun Merak merupakan stasiun kereta api di ujung barang Pulau Jawa. Stasiun ini berada satu kawasan dengan Pelabuhan Penyebarangan Antar Pulau yang menghubungkan Merak di Pulau Jawa dengan Bakauheni di Pulau Sumatera. Jika kita ingin langsung menyeberang dengan kapal ferry, kita dapat langsung memilih jalur keluar stasiun yang langsung memasuki jalur arah dermaga. Dengan menapaki sebuah tangga, stasiun langsung terhubung ke pelabuhan. Tentu sebelum memasuki pelabuhan dan menuju jalur arah dermaga dimana kapal ferry merapat, penumpang harus membeli tiket terlebih dahulu. Untuk setiap penumpang dewasa dan anak-anak usia di atas 5 tahun dikenakan tiket seharga Rp. 15.000,-. Adapun untuk anak-anak balita hanya dikenakan tiket seharga Rp. 8.000,-.

Dengan tiket kapal ferry di tangan, kita tinggal mengikuti arahan petugas ke arah mana dermaga yang harus kita tuju. Langsung deh naik kapal. Kurang lebih dua jam berada di atas kapal, kita sekeluarga dapat langsung menginjakkan kaki di pulau seberang di Pelabuhan Bakauheni.

Nah untuk melanjutkan perjalanan ke Tanjung Karang dari Bakauheni ada pilihan naik kenderaan sewa, elf, hingga bus. Tarif untuk setiap penumpang berkisar antara Rp. 30.000,- sampai dengan Rp. 50.000,-. Kisaran harga tersebut dapat bervariasi tergantung pintar-pontarnya kita nego harga dengan kru angkutan. Jika perjalanan lancar, 3,5 jam hingga 5 jam kita sudah dapat menikmati suasana Kota Tanjung Karang. Gimana hayo? Ingin mencoba? Dengan ongkos jalan sekitar Rp. 75.000,- sungguh lumayan hemat bukan?

Tangerang – Tanjung Karang masih dirasa kurang jauh dan menantang? OK, bagaimana kalau sekaligus lanjut ke Palembang? Ada layanan kereta api Kertapati dengan tarif ekonomi hanya Rp. 32.000,-. Nah lho tambah tertantang bukan?

Bagi sebuah keluarga menjalani sebuah kebersamaan dalam sebuah perjalanan tentu akan memberikan kesan yang sungguh mendalam. Terlebih dengan perjalanan kereta api yang melintasi sawah, danau, sungai, dan ladang dengan panorama pemandangan alam yang masih sangat perawan tentu membuat pikiran kita fresh. Segala beban masalah seolah lepas bebas dari otak dan pikiran kita. Selama durasi perjalananpun kita dapat saling ngobrol, saling bercanda, tertawa bersama, sambil menikmati suasana yang senantiasa mengesankan dan membuat hubungan diantara sesama anggota keluarga semakin hangat. Hayo siapa berani mencoba?

Jujur, keluarga kami baru sampai Merak. Namun next time kami serius untuk merencanakan Tangerang, Merak, Bakauheni, Tanjung Karang, hingga Palembang dengan cara ini. Ada yang mau gabung? Monggo.

Ngisor Blimbing, 26 Desember 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s