Dioyak Asu Galak, Asu Tenan!


Asu tenan ki! Benar-benar asu alias anjing. Bagi Anda, kejadian apakah yang membuat Anda lari tunggang langgang bin terbirit-birit? Pernah dikejar anjing galak? Kejadian dikejar anjing galak ini benar-benar kami alami belum lama ini.

Suatu Ahad pagi. Sebagaimana Ahad pagi biasanya, saya gowes pagi memboncengkan si Genduk Noni Nadya. Pagi itu rute di seputaran wilayah Serpong Utara. Kawasan yang kami lalui pagi itu beberapa ruasnya terkena proyek pembangunan jalan tol. Kamipun sengaja menyusur jalanan baru yang baru pada tahap pasca pengecoran beton. Dengan jenis tanah lempung dan kontur tanah yang tak stabil menjadikan ruas jalan tol harus didasari dengan cor-coran beton.

Selepas melihat beberapa saat proses pengecoran menggunakan mesin cor canggih yang beroperasi serba robotik, kamipun keluar dari lintasan “calon” jalan tol dan melajukan kembali sepeda kami di jalanan kampung biasa. Ketika sampai pada suatu titik simpang tiba, kami memilih belok kanan. Selain pemandangan alam perkampungan, di sisi jalanan yang kami pilih tersebut terdapat sebuah pagoda tempat persembahyangan kaum Budha dari Negeri Gajah Putih, Thailand.

 

Menikmati kemegahan bangunan pagoda yang meskipun serba sederhana, namun memberikan nuansa yang sungguh berbeda. Tak mirip dan sama persis dengan pagoda-pagoda yang ada di Bangkok yang kami pernah lihat di tivi, namun suasana di depan gerbang pagoda itupun membawa kami seolah berada di tepian sungai Chao Phraya. Suasana dan nuansa inilah yang beberapa kali kami nikmati sebagai bagian dari rute gowes yang kami lalui.

Tepat di sisi kiri bangunan utama pagoda, terdapat sebuah banguan yang mirip dengan klentheng. Dominasi warna merah menyala dan ornament hiasan naga hijau di wuwungan atap mengindikasikan hal tersebut. Kami tentu tidak tahu persis bangunan apakah itu. Di bagian depan bangunan klentheng tersebut yang jelas terdapat beberapa patung dewa yang mungkin menjaga dan menjadi pelindung pagoda dan sekaligus klentheng tersebut.

Di saat kedatangan kami, gerbang utama yang terbuat dari pagar besi terbuka lebar. Selalu begitulah setiap kami melintasi jalanan di depan pagoda tersebut. Nampak sepi dan tidak ada satu orangpun yang terlihat, terutama di halaman luar. Dikarenakan tidak ada satu orangpun yang pernah terlihat, tentu kamipun hingga saat itu belum pernah berani memasuki halaman yang luas itu.

Sayapun kemudian terlibat obrolan dengan Noni Nadya. Dasar si bocah suka cerewet dan paling ingin tahu segala hal yang dilihatnya, tentu muncul banyak pertanyaan di benaknya yang kemudian menjadi perbicangan di antara kami. Tentang agama orang Muangthai. Bedanya dengan Islam. Siapa yang disembah. Mengapa begini mengapa begitu. Kenapa ini kenapa itu, dan lain sebagainya. Pokoknya banyak hallah yang kemudian harus kami bahas. Obrolan kami lakukan dengan berhenti namun masih tetap duduk di atas sadel sepeda.

Di tengah keasyikan obrolan kami yang belum seberapa lama, sekonyong-konyong ada tiga ekor anjing berlari menghambur dari sisi belakang bangunan pagoda. Seekor anjing berbulu putih rembyak-rembyak seperti serigala. Dua ekor anjing berwarna coklat. Mengejutkannya lagi mereka seolah marah dan menyalak keras. Berlari menerjang ke arah kami. Jagad dewa batara. Kamipun tentu saja terkejut setengah mati. Sesaat kami terpaku dan seolah tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi. Untungnya refleks pikiran saya langsung menyadarkan bahwa kami harus mengambil langkah seribu. Cabut seketika dari tempat kami berdiri.

Kejadian itu sungguh demikian cepatnya. Tiga ekor anjing galak menyalak, berlari, menerjang, menghampur dan seolah ingin menyerang kami. Dengan tergesa-gesa bin tergopoh-gopoh, sayapun langsung menggenjot pedal sepeda dan berusaha mengayuhnya secepat yang bisa saya lakukan. Si Noni Nadya yang ada di bocengan tentu spontan menjerit-jerit ketakutan. Dengan kalut dan takut ia memukuli punggung saya dan berteriak, “Cepet Pak! Cepet Pak! Cepet Pak! Ayoooo……”

Hal yang paling saya takutkan saat itu, jika sampai ketiga anjing galak itu berhasil nyathek pantat si Noni Nadya. Hal yang histeris tentu akan terjadi. Khawatirnya lagi jika kami berdua benar-benar terkena terkaman anjing-anjing itu. Ngeri dan minta ampun pokoknya. Dada kamipun berdebar dengan kencang. Adrenalin seolah langsung terpacu untuk melepaskan dari bahaya sejauh-jauhnya. Tahu apa yang terjadi kemudian?

Dengan sikap sifat kuping kamipun kemudian berusaha setengah mati menggenjot pedal sekuat-kuatnya. Agar laju sepeda dapat berlari sekencang mungkin bahkan saya menggenjot pedal sambil berdiri dan tidak duduk di atas sadel. Dengan cara seperti itu memang cukup efektif untuk memijakkan daya ayuh pada pedal dengan lebih cepat dan kuat. Tentu saja ketiga anjing galak yang mengejar kami tak mau kalah. Merekapun dengan sekuat tenaga bin kesetanan terus berlari mengejar kami.

Puji syukur kepada Gusti Allah. Tentu jalanan aspal yang tidak seberapa lebar itu di pagi saat kejadian dalam kondisi sepi orang berlalu lalang. Kebeteluan juga ruas jalan yang kami jadikan jalur penyelamatan diri juga merupakan jalanan yang cukup datar. Dengan mengerahkan tenaga sekuat mungkin, kami serasa dikejar-kejar malaikat maut kala itu. Alhamdulillahnya, anjing itu tidak sampai berhasil menjangkau kami. Kamipun sama-sama ngos-ngosan saking nafas kami hampir-hampir terputus. Tidak sampai jarak setengah kilometer ketiga anjing galak itu menghentikan kejarannya dan balik arah kembali ke pagoda.

Asu tenan ki! Saya mbatin puluhan kali. Dulu sekali di masa masih kanak-kanak saya juga sering dikejar anjing galak bila melewati dusun tetangga kami. Sebuah dusun dimana banyak warganya memelihara anjing piaraan. Entah kurang makan, entah merasakan kehadiran orang asing yang tidak dikenalnya anjing-anjing di dusun itu sering mengejar dan njegogi orang-orang desa lain yang tengah lewat. Tentu rasa berdebar dan keringatannya ketika masih anak-anak dikejar anjing sama dengan yang kami rasakan, khsususnya bagi Noni Nadya yang belum genap berumur lima tahun.

Ngomongin asu galak yang menyalak dan mengejar ingin menerkam, saya selalu berasa ingin mengumpat. Ahhhhh, dasar asu!

Ngisor Blimbing, 16 Desember 2018

Ilustrasi dipinjam dari kartunnya Dunia Wiranto.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dioyak Asu Galak, Asu Tenan!

  1. Admin berkata:

    Afwan pak, ijin tertawa sebentar hehehehe.
    Alhamdulillah selamat semua ya pak.
    Btw, saya dulu juga pernah lari tunggang langgang begitu, tapi waktu masih kecil.
    Dalam perjalanan ke tempat ngaji, bareng teman2, saya melewati rumah yang memelihara angsa. Ndilala ya kok saat itu angsanya lagi pada dikeluarin. Pas kami lewat, angsanya mau nyosor kaki kami, sontak kami lari tunggang langgang kocar-kacir 😀

    Salam dari Cepu-Jateng
    Zakia Wishbeukhti

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s