Mbah Google dan Kid Jaman Now


Anak-anak ber-gadget ria adalah suatu kelaziman di era milenial saat ini. Dua-tiga dekade lalu di masa prainternet, anak-anak masih umum bermain di tanah lapang. Belajar tentang ilmu pengetahuanpun dilakukan dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana. Buku dan guru masih menjadi referensi utama pembelajaran.

Jaman telah berubah. Era teknologi informasi telah mengantarkan kita kepada berbagai sumber informasi yang semakin mudah dan murah untuk diakses. Hari ini kecanggihan teknologi melalui internet telah memanjakan kita, termasuk anak-anak. Jika di masa kini tidak hanya informasi, beragam permainan berbasis onlinepun dapat dinikmati anak-anak kita setiap hari, bahkan nyaris setiap saat. Tidak ada lagi batasan ruang dan waktu.

Anak-anak milenial alias para kid jaman now tidak lagi bermain layangan, gobak sodor, kelereng, lompat tali karet, betengan, etak umpet, dan segala jenis permainan yang kini diistilahkan sebagai permainan tradisional. Anak-anak itu lebih akrab dengan game online. Berbagai permainan berbasis internet. Hebatnya lagi, dengan smart phone yang semakin canggih, aneka game online dapat diakses langsung di tangan anak-anak kita.

Dunia anak memang dunia permainan. Kegiatan belajar masa kinipun dikembangkan dengan konsep belajar sambil bermain. Konon dengan cara tersebut proses pembelajaran dapat berlangsung dengan suasana yang menggembirakan. Dengan hati yang gembira riang, ilmu dan pengetahuan akan mudah masuk ke otak anak-anak kita. Bagaimana dengan aneka game online tadi? Seberapa manfaatnya untuk proses pembelajaran anak-anak kita? Antara sisi hiburan dan sisi pembelajarannya lebih dominan yang mana kira?

Tentu ada banyak aplikasi game online yang dirancang sebagai saran pembelajaran bagi anak-anak kita. Namun dengan kemudahan akses online dan keterbatasan pendampingan orang tua terhadap anak-anak bisa jadi sisi hiburan dan kesenangan saja yang dicari dari game online, dan unsur pembelajaran arau pendidikan menjadi terabaikan sama sekali. Berapa banyak berita yang mengabarkan tentang anak-anak yang kecanduan game online. Kurang sosialisasi, kemampuan komunikasi yang rendah, hingga ketertinggalan pelajaran di sekolah menjadi dampak game online yang berlebihan. Dengan demikian, usia anak-anak yang sedang keponya dengan teknologi dan permainan merupakan usia yang rawan bagi tumbuhkembang kemampuan pikiran, pengetahuan, bahkan jiwanya. Hal ini harus direspon dengan suatu pola pengasuhan yang khusus bagi anak-anak jaman now.

Di sisi lain, dari segi pengetahuan dan kekayaan informasi, Mbah Google adalah gudangnya. Ilmu dan pengetahuan apapun dapat diakses dengan murah meriah. Jika pembelajaran generasi masa lalu masih berbasis kepada buku dan guru, anak-anak masa kini jauh lebih diuntungkan dengan kehadiran Mbah Google. Sebagai sebuah hasil peradaban teknologi yang bebas nilai, Mbah Googlepun hadir dengan dua sisi positif dan negatifnya. Ilmu pengetahuan yang berguna dan bermanfaat banyak bertebaran di sana. Demikian halnya dengan berbagai informasi dan muatan negatif juga berjubel. Lalu bagaimana kita bisa mendayagunakan sisi positif Mbah Google dalam kaitannya mengurangi kecanduan game online dan menunjang pola kepengasuhan anak-anak jaman now? Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi salah satu cara agar anak-anak kita dapat menjadikan Mbah Google sebagai sahabatnya dalam suatu proses pembelajaran.

Si Ponang, anak kami kini berusia 10 tahun dan duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Sedari kecil ia nampak sangat menyukai berbagai alat transportasi umum. Kereta api, pesawat terbang, bus, dan juga kapal laut. Selain memicu rasa ingin tahu perihal teknologi dan kecanggihan berbagai sarana transportasi, hal tersebut turut mendorongnya untuk suka berperjalanan, berpetualang, dan tentu berwisata. Keluarga kamipun kemudian juga menyukai kegiatan traveling.

Semenjak usia dini ketika anak sulung kami tersebut mulai bisa membaca dan menulis, kami sengaja menugasinya dengan proyek-proyek kecil sebelum ber-traveling. Ketika ibunya berhasil berburu tiket promo ke suatu tempat tujuan wisata, adalah tugas si Ponang untuk mengeksplorasi berbagai informasi yang berkaitan dengannya. Sedari informasi mengenai nama kota, nama bandara, tempat wisata favoritnya, sarana transportasi lokal, tempat penginapan, hingga tarif-tarifnya. Tentu pada saat awal, sesuai dengan perkembangan usianya, informasi yang dikumpulkannya masih terbatas dan bersifat umum. Namun lambat laun ketika ia semakin besar, informasi yang dirangkumkan lebih lengkap dan detail. Untuk keperluan proyek tersebut, tentu Mbah Google menjadi telah referensi andalan bahkan sahabat karibnya.

Apakah anak saya tersebut merasa terbebani dengan hal itu? Kebetulan karena apa yang kami “umpankan” melalui  Mbah Google tersebut berkesesuaian dengan rasa ingin tahunya, justru “tugas” kecil tersebut memacu semangatnya. Jika sudah mood dengan googling-nya, setengah hari penuh ia tahan berselancar di laptop dan mencatat atau meringkas berbagai informasi yang didapatkannya.

Dalam perkembangan selanjutnya penguasaan pengetahuan umum anak kami tentang berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan geografi dan sejarah dunia sungguh pesat kemampuannya. Iapun kemudian menggemari berbagai buku bertema ensiklopedi berbagai negara di berbagai belahan dunia. Selain masih menggemari film kartun sebagai anak-anak seusianya, ia paling getol menonton acara tivi yang berkenaan dengan tempat wisata, bersejarah, dan destinasi wisata yang favorit. Tidak mengherankan pula jika prestasi pelajaran yang paling menonjol di kelasnya juga berkenaan dengan geografi dan sejarah.

Apakah anak kami tersebut sama sekali tidak suka game online? Sama seperti anak yang lain, ia tentu menyukai game online. Namun ia tidak menjadi kecanduan dan hanya kadang-kadang memainkannya, terutama jika sedang bersama teman-temannya di paruh waktu akhir pekannya. Bagi kami antara bergembira dan belajar bagi anak-anak perlu ada keseimbangan agar masa golden age yang dimilikinya dapat dikembangkan sebaik-baiknya sebagai bekal masa depan yang semakin penuh tantangan. Mungkin Anda punya sikap dan pola asuh anak yang berbeda dalam menyikapi tantangan jaman online saat ini? Monggo saling berbagi.

Ngisor Blimbing, 15 Desember 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Mbah Google dan Kid Jaman Now

  1. layangseta berkata:

    Aku suka ini. Sebagian besar beranggapan bahwa Google dan sejenisnya berdampak negatif, namun tidak melihat sisi positif yang diperoleh.

    Bahwa dengan hadirnya internet, Banyak memicu kreativitas yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.
    Internet sebagai sumber informasi.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Setiap sesuatu pasti ada sudut positif negatifnya sekaligus. Nah tinggal bagaimana kita menghikmahinya untuk mendayagunakan hal positifnya tersebut. Prinsip ini yang coba kami pegang Mas Layangseta. Terima kasih berkenan mampir…

      Suka

  2. Hastuti berkata:

    Tulisannya keren mas. Senang bisa mendapat pencerahan karena anakku seumuran dgn putra njenengan. Mungkin proyek seperti ini bisa membuat dia sibuk dan sedikit melupakan game online-nya…. Perlu kesabaran dalam menghadapi kids jaman now…😂😂
    Terima kasih sdh kerso berbagi…benar-benar inspiratif tulisannya

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Mendampingi kid jaman now dengan perkembangan dunia digital yang demikian pesat memang membutuhkan kreativitas orang tua untuk memberikan yang terbaik dan paling sesuai untuk tumbuh kembang putra putri kita. Matur nuwun berkenan singgah Mbak Hastuti…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s