Negeri Lima Menari di Tangan Anak Kelas Lima


Iqra’, demikian pesan pertama yang disampaikan dalam kitab suci Al Qur’an. Iqra’ bermakna bacalah. Iqra’ sekaligus mengisyaratkan bahwa ummat Islam diperintahkan untuk senantiasa membaca. Dari membaca ummat kemudian belajar, kemudian paham, dan selanjutnya tentu saja dapat menguasai pengetahuan untuk diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup. Demikian membaca menjadi sesuatu yang sesungguhnya sangat penting dan mendasar dalam pembinaan kualitas ummat Islam sebagai insan yang paripurna.

Dalam konsep pendidikan, membaca menjadi instrument atau metode yang sangat mendasar dalam rangka menguasai ilmu pengetahuan. Membaca menjadi gerbang, pintu masuk, sekaligus jendela bagi segenap ilmu pengetahuan. Membaca memang kemampuan mendasar yang telah diajarkan semenjak anak usia taman kanak-kanak, bahkan di beberapa PAUD anak usia dini juga sedikit banyak sudah diajarkan untuk mampu membaca. Dalam berbagai tataran jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi, kemampuan atau ketrampilan anak didik dalam membaca tentu semakin diasah dan didayagunakan sedemikian rupa.

Membaca semestinya tidak terhenti sebagai tuntutan formal dalam rangka menunjang kegiatan belajar-mengajar di bangku sekolah resmi. Membaca seyogyanya menjadi kebiasaan dan pembiasaan. Membaca semestinya menjadi sebuah tradisi setiap individu muslim, terlebih kalangan muslim yang terpelajar. Membaca harus menjadi budaya di tengah kehidupan ummat Islam dan masyarakat secara umum. Budaya membaca inilah perintah amalan mendasar bagi ummat Islam yang belakangan ini justru semakin pudar. Modernitas kehidupan dengan berbagai kecanggihan produk teknologi seperti internet dan smartphone justru telah semakin meninabobokan generasi masa kini sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk membaca. Tentu membaca dalam artian harfiah terhadap berbagai referensi ataupun buku.

Kebiasaan, tradisi dan budaya membaca seharusnya menjadi kolektivitas nilai positif yang dimiliki masyarakat. Tentu untuk mewujudkan hal tersebut harus didukung oleh individu-individu, keluarga, dan kelompok masyarakat pada struktur yang terkecil. Kebiasaan, tradisi, dan budaya membaca harus ditanamkan kepada anak-anak semenjak usia dini. Membaca harus menjadi kesadaran bersama sebagai cara untuk menguasai ilmu pengetahuan, memperluas cakrawala pandangan kehidupan, bahkan sebagai pengamalan ajaran agama sebagaimana perintah iqra’ tadi.

Penulis sendiri secara asal-usul tidak berasal dari keluarga yang memiliki kesadaran mengenai pentingnya membaca. Dengan segala kondisi keluarga yang kami alami, sama sekali tidak ada upaya-upaya dari orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitar untuk menanamkan kebiasaan membaca. Tentu tidak ada bahan-bahan bacaan yang tersedia dalam rangka memperkaya pengetahuan di luar literasi buku paket yang dipinjamkan dari sekolahan inpres. Membaca sepintas lalu “hanya” menjadi kebutuhan dalam rangka sekolah. Padahal menuntut ilmu sesungguhnya tidak terbatas hanya di bangku sekolah formal. Tapi itulah fakta dan kenyataan umum pandangan yang terjadi di tengah masyarakat kita, bahkan hingga saat ini.

Dalam perkembangan dan perjalanan menempuh pendidikan, secara pribadi penulis kemudian memiliki kesadaran akan peran penting membaca. Tidak terbatas hanya kepada bahan bacaan yang menunjang mata pelajaran dan program studi yang ditempuh, melalui perpustakaan, penulis berkesempatan “mengembarai” berbagai ranah pengetahuan dari membaca buku-buku populer. Ada buku tentang sejarah, tentang budaya, tentang agama, tentang negara-negara lain, dan lain sebagainya.  Dari aktivitas membaca berbagai literasi mengenai berbagai hal inilah, penulis merasakan bahwa dari aktivitas membaca kita dapat mengetahui banyak hal, memiliki wawasan yang menujang pola pikir, yang pada ujungnya sangat berguna sebagai bekal menjalani kehidupan. Hal inilah yang menjadi dasar pemaham bahwa membaca merupakan suatu aktivitas yang sangat penting, bahkan untuk selanjutnya menjadi kebutuhan yang tidak bisa terlepas dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan kesadaran, pengalaman, dan menfaat dari aktivitas membaca, tentu penulis juga memiliki harapan agar kebiasaan yang positif ini dapat menular kepada istri, anak-anak dan lingkungan terdekat. Tidak hanya terhenti sebagai sebuah kesadaran dan pemikiran, penulispun kemudian melakukan usaha-usaha dalam rangka menanamkan kebiasaan membaca bagi anak-anak.

Buku sebagai bahan utama literasi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah ruang, kamar, ataupun rumah kami. Buku dan ilmu pengetahuan sedapat mungkin kami tanamkan kepada anak-anak kami sebagai harta dan mutiara tiada tara dalam hidup. Hiasan di ruang tamu keluarga kami didominasi rak-rak yang berisi deretan buku-buku dengan beragam tema. Tersedianya beragam koleksi buku kami harapkan dalam memberikan iklim dan atmosfer yang akan mendorong kepada aktivitas membaca. Anak-anak diharapkan akrab semenjak dini dengan buku. Bergaul, bahkan bergumul dengan buku semenjak kecil.

Selepas mengkondisikan iklim dan atmosfer membaca dengan ketersediaan beragam buku bacaan, sebagai orang tua kami juga harus senantiasa memberikan teladan dengan malakukan aktivitas membaca secara rutin. Membaca harus menjadi tradisi di keluarga kami. Setiap hari, di setiap waktu senggang, meskipun sesaat, meskipun sekedar membaca beberapa lembar buku, kami usahakan senantiasa ada aktivitas membaca.

Anak-anak semenjak dini kami kenalkan dengan buku. Buku bergambar, mewarnai, dongeng, komik tentu sangat sesuai dengan dunia anak dan perkembagan usianya. Membaca harus menjadi aktivitas yang asyik dan menggembirakan. Dalam perkembangannya, anak-anak dengan sendirinya akan semakin tertarik untuk membaca beragam buku yang ada manakala dalam dirinya telah tertanam manfaat dari aktivitas membaca. Hal ini kami rasakan betul dalam perjalanan minat membaca si Ponang. Dari membaca buku bergambar, dongeng pendek, komik, hingga kini di bangku kelas lima sekolah dasar ia tengah asyik menggeluti buku Negeri Lima Menara-nya Ahmad Fuadi. Semoga perkembangan ini akan terus berlanjut dan menjadi bekal yang berarti bagi si Ponang di kelak kemudian hari.

Ngisor Blimbing, 12 Desember 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s