Mendadak Tertimpa Cicak


Cicak? Ada apa dengan cicak? Tiba-tiba saja memang ingin bercerita tentang cicak. Ada kejadian yang saya alami secara tiba-tiba dengan cicak.

Sabtu sore selepas Ashar. Suasana yang mendung mencekam seolah langit akan segera mencurahkan air hujannya. Daripada was-was untuk beraktivitas di luar rumah, ya mending ndekem saja sambil meneruskan buku Rabu Serasa Sabtunya Bang Wendo. Jadilah sore itu, saya leyeh-leyeh bersantai ria sambil memangku untuk membaca buku yang saya maksud. Duduk di sofa butut ruang tamu sambil sepoi-sepoi menikmati kibasan angina dari kipas angina yang lumayan silir-sumilir.

Tengah asyik nan khusuk menikmati alur cerita dari bacaan, terjadi sesuatu yang tiba-tiba. Berlangsung sekejap dan sangat singkat. Saking tiba-tibanya seolah hanya saya dikejutkan oleh sebuah bom yang meledak secara mendadak. Sekonyong-konyong, kening alias bathuk saya tertimpa sesuatu yang sungguh mengejutkan. Belum sempat sadar terlebih berpikir tentang apa yang terjadi, tentang apa yang menimpa, sesuatu itu secara spontan pecah, membelah menjadi dua. Secepat kilat, kedua belahan itupun mencelat, melompat dengan sangat cepat kilat meninggalkan kening. Tentu saja antara reflek fisik dengan reflek psikis, bahkan reflek perasaan belum bisa gathuk untuk menganalisa tentang apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Sesaat berlalu, sambil thenger-thenger saya berusaha merekonstruksi peristiwa apa yang baru saja berlalu. Dari sinilah kemudian baru mulai bisa tergambar pelan-pelan perihal peristiwa barusan. Tanpa saya sadari ketika tengah tenggelam dalam bacaan, sepasang cicak sedang gandhek di sisi dinding tepat di atas jendela dimana sofa yang saya duduki berada. Namanya saja cicak gandhek, cicak kasmaaran nan wuyung yang lupa dunia karena duania tengah dirasa sebagai hanya milik mereka berdua, pegangan masing-masing kaki pada permukaan dinding sekonyong-konyong terlepas. Jatuh bebaslah mereka tanpa bisa lagi menahan beban tubuh masing-masing.

Seolah seiya-sekata dan setia sehidup semati, cicak gandhekan itupun jatuh dalam kondisi yang masih nyawiji, bersatu padu antara raga dan jiwanya. Tentu dengan tarikan grafitasi, meskiun kedua berat tubuh mereka tidak berarti namun kecepatan jatuh mereka tetap ngedap-edapi. Dan apesnya, sayalah yang terimpa mereka. Sayalah yang sesungguhnya diam pasif tak berdosa menjadi korban mereka. Ini sungguh-sungguh peristiwa langka yang baru sekali ini selama seumur hidup saya alami.

Belum ada angina ribut, belum ada hujan meski sore itu cuaca mendung, namun sungguh saya kejatuhan cicak. Dua ekor sekaligus. Tentu sesadar-sadarnya saya sadar bahwa peristiwa itu sungguh nyata dan bukan mimpi. Namun sebagaimana mimpi yang bisa ditakwilkan sebagai suatu pesan tertentu, sayapun jadi berpikiran jangan-jangan ada maksud dan arti dari peristiwa kejatuhan cicak gandhek sore itu.

Dalam perenungan yang lumayan seksama tentang peristiwa jatuhnya cicak gandhek di jidat saya itu, ingatan saya jadi menerawangkan ke bangku SMP saat kelas satu. Cicak tidak hanya kami akrabi sebagai bagian dari pelajaran biologi. Oleh salah seorang guru bahasa Indonesia saya waktu itu, cicak justru digunakan sebagai jembatan keledai untuk mengingat, bahkan menghafalkan, rumus persajakan pada soneta. Hingga kini sayapun masih sangat mengingatnya. Abab-abab-cecak ndongkel dele, dele campur dele. Apa maksudnya coba? Ada yang masih paham tentang soneta?

Soneta! Soneta yang saya maksudkan di sini bukan Soneta nama grup dangdutnya Wak Haji lho ya! Soneta merupakan suatu jenis karya sastra puisi lama yang pernah berkembang dalam periodesasi sastra kita. Soneta sendiri sesungguhnya bukan asli Nusantara. Soneta berasal dari negeri Italia. Ia masuk ke Hindia Belanda pada dasa warsa tahun 1930-an yang diperkenalkan oleh Muhammad Yamin, salah seorang tokoh pentholan Pujangga Baru. Lalu, apakah yang dimaksud dengan rumus abab-abab-cecak ndongkel dele, dele campur dele tadi dalam karya soneta? Cecak ndongkel cecak merupakan kepanjangan dari singkatan cdc.

Soneta secara struktur sastra puisi terdir atas 14 baris kalimat yang terbagi ke dalam empat bait. Bait pertama dan ke dua masing-masing terdiri empat baris kalimat. Adapun bait ke tiga dan ke empat, meliputi masing-masing tiga baris kalimat. Nah rumusan sajak abab-abab-cdc-dcd ini mengisyaratkan jatuhnya suara pada suku terakhir setiap baris. Suku kata terakhir baris pertama, ke tiga, ke lima, dan ke tujuh haruslah sama. Selanjutnya untuk suku kata terakhir baris ke dua, ke empat, ke enam, dan ke delapan harus sama semuanya, tetapi berbeda dengan suku baris ganjil sebelumnya tadi. Kemudian untuk baris pada bait ke tiga dan ke empat berlaku rumusan sebagai berikut: suku kata terakhir baris ke sembilan, ke sebelas, dan ke tiga belas masing-masing harus sama, tetapi berbeda dengan suku kata terakhir pada bait pertama dan kedua sebelumnya. Adapun untuk suku kata terakhir baris ke sepuluh, ke dua belas dan ke empat belas, masing-masing harus sama, tetapi berbeda dengan suku kata terakhir pada bait pertama dan kedua sebelumnya.

Aneh bin ajaib bukan? Lha binatang cicak kok bisa dijadikan sebagai jembatan keledai. Mungkin kid jaman now ada yang tidak sepenuhnya paham dengan istilah jembatan keledai. Jembetan keledai sebenarnya hanyalah sebuah istilah yang merujuk kepada suatu singkatan-singkatan yang diciptakan sebagai penghubung atau pengingat kepada suatu hal yang lain. Dengan menciptakann suatu jembatan keledai yang secara bebas dapat dikreasikan oleh siapun menurut kehendak masing-masing, masing-masing orang akan dengan mudah mengingat sesuatu. Salah satu jembatan keledai untuk mengingat nama-nama atom atau unsur gas mulia yang ada dalam susunan tabel periodik kamu pernah merumuskan, heboh negeri arab karena serangan radon untuk mengingat atom-atom He, Ne, Ar, Kr, Xe, dan Rn (helium, neon, argon, krypton, xenon, dan radon).

Bagaimana dengan sampeyan? Apakah pernah tertimpa secara tiba-tiba oleh sepasang cicak-cicak yang jatuh dari dinding? Atau apakah sampeyan ingat dengan jembatan keledai yang berkenaan dengan binatang cicak? Ataukah Anda ingat dengan beberapa jembatan keledai yang hingga kini masih di luar kepala? Ah, semoga pertanyaan ini tidak menambah beban pikiran pembaca sekalian.

Ngisor Blimbing, 9 Desember 2018

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s