Anak-anak Bersama Bapak


Memang ada film berjudul Sabtu Bersama Bapak. Tentu semestinya bapak sebagai orang tua yang memiliki kewajiban penuh untuk membimbing, mendidik dan membina, membersamai anak-anak tentu semestinya tidak terbatas di hari Sabtu sebagaimana film tersebut. Namun dunia realitas tentu tidak sesempurna idealisme manusia, karena satu dan banyak hal, waktu kebersamaan antara orang tua dan anak-anaknya tidak sepenuhnya dilakukan secara terus-menerus. Entah karena kerja, kesibukan, agenda acara lain, dan lain sebagainya.

Khususnya bagi seorang bapak yang memiliki tanggung jawab utama mencari nafkah bagi keluarga, kesempatan dan waktu membersamai anak-anak tercintanya tentu tidak sebanyak seorang istri yang memang menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja di luar rumah. Sebagian waktu dan dirinya tentu lebih banyak dihabiskan di luar rumah. Dengan demikian waktu, kesempatan dan kebersamaan seorang bapak dengan anak-anak merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh dan sangat berharga. Oleh karena itu, setiap kesempatan seorang bapak dapat berkumpul, bersendagurau, beraktivitas bersama, berkarya bersama, harus benar-benar didayagunakan sebagia suatu quality time yang benar-benar berkualitas. Hal ini menjadi jauh sangat lebih penting dan esensial untuk bapak-bapak yang masih memiliki putra dan putri usia anak-anak. Hubungan dan kehangatan bapak dan anak-anak di masa usia anak-anak adalah hal yang sangat menentukan karakter kelak setelah anak-anak tersebut menjadi dewasa, bahkan orang tua.

Secara umum, beragam profesi dan pekerjaan menyisakan hari libur di akhir pekan. Di akhir pekan inilah, bapak dapat mengoptimalkan waktunya untuk membersamai anak-anaknya. Bangun pagi bersama. Shoat Shubuh bersama. Menyiapkan sepeda bersama. Bersepeda bersama menghirup segarnya udara pagi. Berjongging atau berolah-raga bersama. Sarapan bersama. Bebersih dan beberes rumah bersama. Berkebun bersama. Berkarya bersama. Mungkin aktivitas-aktivitas tersebut hanyalah sebagian contoh kecil dan sederhana yang dapat dilakukan bersama-sama antara bapak dan anak di akhir pekan.

Kebersamaan sejatinya menyiratkan sebuah kehangatan interaksi dan hubungan lahir batin antara bapak dan anak. Kebersamaan dapat menjadi jembatan hati untuk menajamkan perasaan, mengasah saling pengertian, mendekatkan batin, dan nilai-nilai inilah yang mendasari serta membangun rumah keluarga secara utuh. Kedekatan emosional antara bapak dan anak akan senantiasa terbawa hingga ke masa-masa tahapan hidup selanjutnya.

Kelak setelah anak-anak kita remaja, dewasa, bahkan berumah tangga masing-masing, mereka tentu telah memiliki dasar, pondasi, rule model, contoh, dan teladan bagaimana mereka membangun serta mewarnai bangunan keluarganya secara lahir batin. Mereka tidak perlu kebingungunan, kehilangan pijakan, tidak memiliki kiblat dan acuan, dalam mendidik anak-anak dan keluarganya. Memang dunia yang kelak akan mereka hadapi tentu telah berubah. Dinamika roda jaman adalah sebuah keniscayaan. Namun apabila hubungan kedekatan antara bapak dan anak terjalin dengan baik di masa anak-anak, nilai dan norma yang tertanam akan menjadi acuan utama untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan jaman yang kelak mesti mereka jalani.

Seyogyanya tentu bapak dan ibu sebagai kesatuan orang tua semaksimal mungkin senantiasai membersamai tumbuh-kembangnya anak semenjak usia dini, wabilkhusus membersamai secara fisik. Hari libur di akhir pekan harus dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin untuk memberikan quality time yang mencukup dan memadai bagi anak-anak kita. Modernitas jaman hendaknya jangan sampai melunturkan nilai-nilai dan tradisi baik yang telah ada di tengah masyarakat kita, sebagaimana bapak-bapak kita dulu yang telaten dan meluangkan waktu untuk membersamai anak-anaknya. Jika orang-orang tua kita dulu rela membersamai kita, akankah kita membiarkan anak-anak kita merasa kesepian di tengah gegap gempitanya dunai modern dengan segala kecanggihan teknologinya saat ini?

Ingatlah bahwa dunia maya dengan internet, media sosial, game online, dan segala tawarannya saat ini tidak akan pernah sama sekali mampu menggantikan waktu-waktu yang sangat berharga, yang sangat berkualitas dalam hubungan bapak dengan anak, ibu dengan anak, antara orang tua dengan anak-anaknya. Kasih sayang, perhatian, cinta kasih, perasaan, kelembutan, kehangatan, adalah kebutuhan jiwa yang meskipun abstrak namun tidak sepenuhnya bisa didapatkan dari dunia maya. Keberadaan dunia maya hendaklah dan tidak akan pernah dapat menggantikan segala hal yang ada di dunia nyata. Alangkah bijak jika dunia maya dengan segala teknologi kemudahannya sekedar diposisikan sebagai pelengkap, pendukung, dan penunjang aktivitas kita sehari-hari.

Perkembangan dan tumbuh kembang anak-anak tentu tidak hanya menjadi urusan ibunya saja. Seorang bapakpun memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk turut bersama-sama membersamai anak-anaknya di masa-masa yang sangat menentukan. Masa dimana anak-anak belum terkontaminasi oleh pengaruh-pengaruh negatif dari dunai antah berantah. Masa yang terlampau sayang untuk hanya sekedar terlewatkan tanpa kesan, bahkan tanpa pesan. Moga menjadi bahan renungan bersama.

Ngisor Blimbing, 9 Desember 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s