Serangga di Mata Petani Seniman Sujono Magelang


Serangga dan lahan pertanian tentu dua entitas yang tidak terpisahkan. Sawah, ladang, kebun, hingga hutan adalah habitat hidup dari beragam jenis serangga. Serangga sendiri merupakan suatu kelompok hewan-hewan yang berciri utama memiliki tiga pasang kaki. Mulai dari semut, rayap, jangkrik, gasir, orong-orong, nyamuk, lalat, belalang, capung, garengpung, wangwung, ampal merupakan bagian dari hewan serangga. Tentu saja di luar itu masih sangat banyak jenis atau spesies serangga lainnya. Mungkin jumlahnya mencapai ribuan spesies.

Berbicara tentang lahan pertanian, terlebih khusus lagi sawah pertanian, tentu juga tidak terpisahkan dengan sosok petani itu sendiri. Petanilah sosok yang mengolah lahan, menebar bibit, menyemai dan menanamnya. Petani pulalah yang kemudian merawat, memelihara, menyiangi, memupuk, hingga ketika saatnya memanen hasil tanamannya. Dalam setiap tahapan proses bertani tersebut tidak dipungkiri, petani pasti juga beriteraksi dengan berbagai jenis serangga yang hidup dan berhabitat di lahan persawahannya. Sebuah keniscayaan yang tentu saja dipandang sebagai sebuah keumuman.

Petani melihat, menyentuh, berinteraksi dengan berbagai jenis serangga di sawahnya adalah hal yang biasa. Melihat capung atau belalang yang terbang dan hinggap di hamparan padi yang hijau membentang adalah peristiwa lumrah. Namun jika seorang petani ketika berinteraksi dengan berbagai serangga di sawahnya kemudian mengapresiasikan proses interaksinya tersebut menjadi karya seni nan unik, tentu tidak semua petani melakukannya.

Adalah sosok Sujono, seorang petani seniman asal Magelang, memiliki pandangan dan sensitivitas yang berbeda perihal beragam serangga sawah yang sehari-hari digaulinya. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, baginya serangga memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga tata keseimbangan ekosistem. Aneka serangga merupakan bagian dari sebuah keutuhan ekosistem. Persawahan tanpa serangga tertentu bisa jadi menjadi lahan yang kurang subur, bisa jadi menjadi sawah yang mendatangkan hama pengganggu tanaman utama yang dibudidayakan, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh binatang kinjeng, alias capung. Masyarakat lokal juga ada yang menyebutnya sebagai semprang. Keberadaan kinjeng yang berterbangan pada pucuk-pucuk dahan tanaman padi konon mengindikasikan bahwa persawahan tersebut merupakan tanah persawahan yang subur tanahnya. Kaya akan unsur hara. Kaya akan berbagai jenis cacing tanah. Berhawa sejuk. Intinya semua persyaratan kesuburan bagi tumbuhkembangnya tanaman padi secara baik tersedia dan dapat diukur dengan banyaknya kehadiran serangga kinjeng tadi.

Di sisi lain, dari segi mitos dan kepercayaan masyarakat Jawa dikenal sosok Dewi Sri. Dewi Sri adalah dewi kesuburan. Dewi ini diyakini menjadi pelindung para petani dalam melakukan kegiatan among taninya, khususnya berkaitan dengan padi. Dewi Sri juga dikenal sebagai Dewi Padi. Lalau bagaimana seorang Sujono dari Sanggar Seni Saujana mengapresiasikan kesuburan tanah, serangga kinjeng, dan Dewi Sri?

Salah satu kemahiran atau bakat alam yang dimiliki Sujono adalah melukis. Melalui imajinasinya tentang kesuburan tanah, tentang serangga kinjeng, dan tentang Ibu Dewi Sri terlahirlah sebuah karya lukisan yang diberinya nama lukisan Dewi Kinjeng. Sesosok wajah perempuan berparas cantik dengan rambut hitam terurai berhiaskan tindik dan sumping telinga sungguh elok menggambarkan Dewi Sri. Namun berbeda dengan penggambaran sosok Dewi Sri sebagai seorang putri bidadari yang utuh, justru bagian bawah tubuh Dewi Sri yang dilukiskan Sujono berbadan serangga kinjeng. Kolaborasi nan apik antara mitologi Dewi Sri dan realitas serangga kinjeng semakin menampakkan keindahannya dengan latar hamparan tanaman padi nan menghijau yang tersaji pada bentang sawah yang luas ijo royo-royo. Lukisan Dewi Kinjeng hanyalah salah satu lukisan buah karya kreativitas yang lahir dari perenungan sosok seniman kita ini.

Tidak terhenti pada karya seni berwujud lukisan, Sujono terinspirasi untuk menciptakan beragam bentuk wewayangan berwujud serangga-seranggaan. Ada wayang belalang sembah, wayang orong-orong, wayang wangwung, wayang garengong, dan lain sebagainya. Bertambah unik lagi ketika ia menggunakan media bahan plastik bekas sebagai media pembuatan wayangnya. Di samping menggali kreativitas seni sungging wayang yang dimilikinya, sosok Sujono juga memiliki perhatian dan empati yang tinggi perihal upaya dan usaha pelestarian lingkungan hidup. Digunakannya media plastik bekas untuk membuat wayang serangganya adalah salah satu upaya yang ingin dilakukannya untuk mengurangi sampah limbah plastik. Plastik bekas yang bagi sebagian masyarakat umum sudah dibuang dan tidak digunakan lagiĀ  disulap oleh Sujono menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

Tidak sekedar diwujudkan sebagai bentuk aneka wayang serangga, Sujono dalam berbagai kesempatan berkolaborasi dengan Dalang Muda Sih Agung dari Grabag mementaskan wayang serangga. Pesan moral mengenai penghargaan manusia kepada alam, kepada tanah persawahan, kepada petani, bahkan kepada keragaman ciptaan-Nya disampaikan dengan bahasa lugas nan menggelitik melalui wayang-wayang serangga yang dimainkan. Saling menghargai, saling asah-asih-asuh, mengutamakan kerukunan dan persatuan, menghormati perbedaan, hidup berdampingan secara harmonis dalam kehidupan bermasyarakat menjadi poin utama pesan Dalang Sih Agung dalam setiap pementasan wayang serangga karya Sujono.

Melihat sosok Sujono, petani sekaligus seniman alamiah dari kaki Merbabu ini memang sungguh mengundang decak kagum. Ia terlahir dan hidup sebagai petani asli. Namun Tuhan telah menganugerahinya dengan bakat alam berupa sensitivitas rasa yang mendorongnya menggagas dan melahirkan kreativitas karya cipta seni bercita rasa tinggi. Ia sosok multitalenta di bidang seni lukis, seni sungging, bahkan penata tari kreasi. Di samping membina Sanggar Saujana di Dusun Keron, Kecamatan Sawangan tempat tinggalnya, ia dengan beberapa seniman lain di kawasan Magelang juga senantiasa aktif menggelar Festival Lima Gunung. Sebuah festival seni budaya yang dipelopori oleh seniman-seniman petani di seputaran Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, dan Menoreh yang digelar secara rutin setiap tahunnya dan telah berjalan lebih dari tujuh belas tahun.

Ngisor Blimbing, 6 Desember 2018

Gambar disunting dari GoBo TV, gambar wayang serangga dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s