Dilematis Kantong Plastik


Kehidupan manusia modern seolah tak bisa lepas dari plastik, terutama kantong plastik. Perhatikan saja bawaan para ibu sehabis pulang belanja di pasar. Belanja sayur, bumbu, dibungkus pakai kantong plastik. Beli gorengan, kue, jajanan juga pakai kantong plastik. Beli beras, garam, cabe, sabun, sampho, dan jenis barang apapun sudah sangat lazim ujung-ujungnya ya dibungkus dengan kantong plastik. Tidak mengherankan berapa banyak plastik yang masuk ke rumah kita masing-masing. Dan kantong-kantong plastic itu ketika sudah sekali pakai, maka ia akan sekaligus menjadi sampah yang kita buang.

Terbayang bukan bagaimana kemudian kantong-kantong plastic itu menjadi kontributor utama sampah sulit terurai yang disisakan dari aktivitas manusia. Belum terdidiknya masyarakat kita untuk menggunakan ulang (reuse) ataupun mendaur ulang (recycle) menjadikan peningkatan kuantitas sampah kantong plastik menjadi semakin tidak terkendali. Hal ini menjadi semakin bertambah parah tatkala kita membuang sampah kantong plastik secara semabarangan. Di jalanan, di kendaraan umum, di got-got, parit, saluran air, bahkan sungai dan danau-danau kita. Kita masih sangat akrab dengan perilaku membuang sampah di sembarang tempat.

Tidak hanya sebatas kotor. Tidak hanya sebatas menganggu pemandangan lingkungan sekitar. Sampah kantong plastic yang ngendon di got-got, saluran air, selokan, hingga di sungai menjadikan mampetnya saluran air. Repotnya lagi jika sudah memasuki puncak musim hujan seperti sekarang ini, got mampet, saluran air mampet, selokan mampet, sungai mampet yang kesemuanya itu berujung kepada bencana banjir. Jika sudah demikian, siapakah yang patut dipersalahkan? Kita semuanyalah yang turut mendatangkan bencana dengan perilaku penggunaan kantong plastik yang semakin tidak terkendali.

Dampak lebih luas lagi ketika kantong-kantong plastik itu terhanyut air hingga di perairan luas, biasa danau, bahkan lautan dan samudera. Samudera kini seolah telah menjadi tempat pembuangan akhir sampah kantong plastik yang sungguh mengerikan. Bagaimana ikan-ikan, terumbu karang, hingga seluruh makhluk hidup di lautan dapat hidup dan berkembang dengan baik. Betapa ngeri ketika diketemukan bangkai ikan paus yang di dalam perutnya bersemayam sampah-sampah kantong plastik.

Sebagian anak-anak milenial generasi jaman now mungkin tidak pernah sempat mengalami jaman dimana bungkus-membungkus tidak menggunakan kantong plastik. Khusus berkaitan dengan aneka makanan atau jajanan tradisional, sebelum era kantong plastik dibungkus dengan daun. Ada daun pisang dan daun jati. Kedua jenis daun ini merupakan sarana bungkusan tradisional yang sebenarnya ramah lingkungan.

Daun pisang mungkin merupakan jenis daun yang paling banyak digunakan sebagai pembungkus makanan. Jika kita memiliki referensi yang beragam mengenai jenis makanan tradisional warisan nenek moyang, kita mungkin akan secara fasih menyebutkan lemper, semar mendem, wajik, jadah, tuntuman, wungkusan, wajik, jenang, klepon, wingko dan banyak yang lainnya sebagai makanan yang tidak lepas dari kehadiran daun pisang. Bahkan ketika masyarakat kita mengadakan hajat atau upacara tradisional, segala ubarampe nasi tumpeng, ingkung ayam, sayur, dan pelengkapnya juga diwadahi dengan daun pisang. Tak segan-segan, dalam acara kenduri ataupun tasyakuran, masyarakat makan bersama beralaskan daun pisang. Betapa terasa lebih natural dan nikmat bagi yang meresapinya.

Secara umum kita mungkin tidak paham mengenai siapa, kapan, dan bagaimana sosok yang menemukan bahan plastik hingga melahirkan kantong plastik di tengah kehidupan kita ini. Mungkin kita sepaham bahwa keberadaan daun sebagai alat bungkus makanan ataupun barang yang lain sangat memiliki keterbatasan terkait usia pakainya. Daun pisang, daun jati, daun kelapa, termasuk dedauanan yang lain tentu sangat cepat layu, kering, dan akhirnya membusuk ditelan waktu hanya dalam hitungan hari. Bahan-bahan itupun memiliki tingkat kekuatan yang cukup rentang untuk membungkus atau membawa barang-barang dalam ukuran, jumlah, ataupun berat yang besar. Wajarlah berangkat dari kondisi demikian lahirlah kantong plastik. Kantong plastik lebih kuat, bisa dibuat dengan berbagai ukuran, dan pastinya lebih awet. Seiring dengan keterbatasan keberadaan dedaunan untuk pembungkus makanan dan semakin meningkatnya kebutuhan bungkus-membungkus, maka masyarakatpun sadar tidak sadar akhirnya tergiring kepada penggunaan kantong plastik tadi. Peranan daun kemudian tergeser, bahkan tergantikan dengan kantong plastik.

Di satu sisi dari segi kapasitas, kekuatan, ukuran, kepraktisan kantong plastik tentu lebih unggul daripada daun pisang atau dauan jati. Namun demikian, kini kita disadarkan dengan permasalahan penanganan sampah kantong plastik yang semakin merugikan lingkungan hidup. Sampah kantong plastik yang menggunung, sampah kantong plastik yang tidak bisa membusuk, tidak bisa terurai secara cepat menimbulkan pencemaran lingkungan hidup yang semakin serius.

Bahan pembuat kantong plastik pada umumnya merupakan senyawa kimia non organik yang memiliki umur puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun. Hal ini menyebabkan sulitnya sampah kantong plastik untuk diurasi secara alamiah. Jika sudah demikian, upaya apa sajakah yang dapat kita lakukan untuk turut mengendalikan pertumbuhan jumlah sampah kantog plastik yang semakin menggila saat ini?

Ada beberapa hal terkait perilaku di tingkat individu yang semestinya kita lakukan untuk turut menyelamatkan bumi dari ancaman sampah kantong plastik. Alangkah baiknya ketika berbelanja kita membawa sendiri tas atau kantong untuk membawa barang belanjaan untuk menghindari penggunaan kantong plastik yang berujung timbulnya sampah kantong plastik di rumah kita. Kantong plastik yang telah kita miliki sebaiknya digunakan berkali-kali secara maksimal hingga kantong tersebut sama sekali tidak bisa digunakan lagi, mungkin karena sobek, usak, atau rusak sebab lain.

Di samping itu, dengan kreativitas kita juga dapat menyulap sampah kantong plastik menjadi barang-barang kerajinan yang cantik dan sungguh berguna. Pernah melihat tas belanja berbahan plastik bekas pembungkus kopi? Bahkan telah banyak desainer baju antik yang merancang gaun indah dari bahan sampah kantong plastik.

Di tingkat kebijakan publik, beberapa pemerintah daerah kini juga tengah menerapkan peraturan yang membatasi (bahkan melarang) penggunaan kantong plastik di pusat-pusat perbelanjaan. Langkah ini semoga semakin meningkatkan kesadaran setiap warga mengenai pentingnya mereduksi penggunaan kantong plastik dalam kehidupan sehair-hari. Sungguh langkah-langkah dalam mengurangi timbulan sampah kantong plastik semestinya kita dukung bersama untuk menyelamatkan kelestarian lingkungan hidup kita.

Ngisor Blimbing, 3 Desember 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s