Nostalgia Lintas Alam ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan


Babadan. Banyak tempat menyandang nama Babadan. Namun setahu kami, hanya ada satu Babadan di lereng Gunung Merapi yang merupakan lokasi pos pengamatan gunung berapi teraktif di dunia ini. Pos Pengamatan Babadan berada di sisi barat Gunung Merapi, tepatnya di Desa Krinjing yang masuk ke wilayah Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sebagaimana pos pengamatan Gunung Merapi yang lain, seperti yang terdapat di Ngepos maupun Plawangan, perangkat utama yang digunakan untuk mengamati aktivitas Merapi berupa alat pengukur gempa atau seismometer. Peristiwa keluarnya cairan magma melalui saluran kawah sebuah gunung berapi senantiasa menimbulkan getaran-getaran gempa tremor atau disebut juga sebagai gempa tektonik. Amplitudo dan banyaknya getaran gempa vulkanik senantiasa teramati melalui lembar seismogram.

Di samping perangkat seismometer, di halaman pelataran rumah pengamatan Babadan juga terdapat miniature taman alat sebagaimana yang banyak dioperasikan di stasiun pengamatan cuaca oleh BMKG. Ada regenmeter atau peralatan pengukuran curah hujan lokal. Ada pula sangkar thermometer yang di dalamnya terdapat thermometer basah dan kering untuk mengetahui temperatur maupun kelembaban daerah sekitar pos pengamatan. Ada lagi peralatan untuk mengukur arah dan kecepatan angin.

 

Tentu saja untuk kebutuhan pengiriman data-data pengamatan yang meliputi data aktivitas kegempaan, kelembaban, curah hujan, arah dan kecepatan angin, diperlukan suatu pemancar gelombang radio. Maka menjulang tinggilah sebuah menara yang berfungsi untuk pengiriman data tadi. Selain guna pengiriman data, pemancar gelombang radio yang ada juga menjadi sarana komunikasi dalam rangka koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas Merapi secara gradual, bahkan pada waktu terjadi erupsi.

Selain peran dan fungsi utamanya untuk aktivitas pengamatan Gunung Merapi, Pos Pengamatan Babadan sebenarnya juga mengemban misi untuk mengedukasi warga masyarakat sekitar mengenai pengetahuan seputar kegunung-apian dan juga langkah-langkah mitigasi bencana jika sewaktu-waktu gunung erupsi. Salah satu bentuk edukasi adalah pelayanan kunjungan terhadap rombongan siswa-siswi dari berbagai sekolah yang ada di seputaran wilayah Magelang, maupun dari berbagai daerah lain. Pengetahuan seputar isu kegunung-apian seyogyanya memang ditanamkan kepada anak-anak kita semenjak usia dini.

Mencermati peran Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan dalam rangka edukasi, kami jadi teringat kegiatan lintas alam ketika duduk di kelas satu SMP lebih dari 25 tahun silam. Kegiatan lintas alam merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari kegiatan kepramukaan di sekolah kami.

Pada pagi hari di suatu hari Sabtu, semua siswa di sekolah kami dibawa menggunakan truk terbuka ke titik awal perjalanan lintas alam di Tlatar. Dari sinilah kami memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Kami berjalan secara berombongan sesuai dengan regu masing-masing. Kami sendiri tergabung di dalam Regu Rajawali yang terdiri atas sepuluh orang penggalang. Meskipun demikian, dalam perkembangan di tengah perjalanan, masing-masing regu tidak dapat dalam kondisi lengkap dikarenakan beberapa anggotanya yang bergabung dengan kelompok-kelompok dari regu yang lain. Maka dapat dikatakan dalam sebuah rombongan seperjalanan terdiri atas campuran dari berbagai regu. Jadilah di jalanan setapak yang menuju Pos Babadan di pagi hingga siang itu mengular barisan panjang rombongan pelintas alam dari sekolah kami.

Berjalan kaki menyusuri jalanan setapak memang sungguh mengasyikkan. Meskipun perlahan dan pasti jalanan semakin menanjak dan memberatkan langkah kami, namun suguhan pemandangan di kanan-kiri jalan sungguh senantiasa mengundang decak kagum. Tebing, jurang, ngarai, lembah, sungai, deretan hutan, sungguh menentramkan jiwa dan batin siapapun yang melintasinya. Hamparan ladang bertingkat dengan beragam sayuran hijau nan segar membuat suasana hati ceria dan gembira. Belum lagi angin sepoi yang membawa hawa pegunungan yang sejuk. Kamipun sesekali bernyani bersama di sela-sela percakapan dan senda gurau sepanjang perjalanan. Intinya sebuah kegiatan lintas alam benar-benar membuat hati kami riang gembira. Suasana batin menjadi semakin kaya atas kekaguman terhadap bentang alam semesta raya karya agung dari Sang Maha Pencipta.

Lintas alam dengan berjalan kaki menjadi media penempaan dan penggemblengan fisik maupun mental anak-anak. Jarak puluhan kilometer yang harus ditempuh benar-benar menguras tenaga. Badan harus benar-benar sehat. Raga harus sungguh-sungguh fit, dan pastinya harus tahan terhadap rasa penat ataupun lelah.

Lintas alam di masa dulu tentu hanya membawa perbekalan makanan dan minuman ala kadarnya. Air minum sudah pasti menjadi bekal yang wajib ada. Ada beberapa di antara anggota yang membawa makanan kecil untuk camilan di sepanjang perjalanan. Adapun untuk makan siang sesampainya di Pos Babadan, masing-masing anak pada umumnya membawa bekal nasi dan pelengkapnya masing-masing. Banyak diantaranya yang merasa lebih praktis dan mudah dengan membawa bekal nasi lontong atau arem-arem.

Lintas alam sungguh kami akui menjadi kegiatan kepramukaan yang paling favorit. Dibandingkan dengan pelajaran mengenai persandian ataupun morse, lintas alam benar-benar membawa pengalaman pengelanaan yang sungguh mengesankan. Setelah lebih dari dua puluh lima tahun melintasi alam pada jalanan setapak yang menuju Pos Babadan dari arah Tlatar, Babadan, untuk kemudian turun melewati jalur Krinjing, Mangunsuko, Talun, Dukun, hingga turun lagi ke Muntilan, bulan lalu kami berkesempatan lagi menyambangi Pos Babadan. Jika perjalanan lintas alam di masa lalu benar-benar berjalan kaki, maka kunjungan kali ini naik sepeda motor. Satu hal kesan yang paling mendalam adalah betapa jarak jalanan setapak yang sekian puluh kilometer jauhnya kala itu ditapaki dengan kedua telapak kaki. Tidak merasa kelelahan dan kuat hingga di titik tujuan. Betapa sungguh jauhnya perjalan waktu itu. Kini apabila kami harus mengulang perjalanan itu mungkin sudah tidak aka sanggup lagi untuk melakukannya. Waktu memang telah berlalu. Usia semakin bertambah, dan tanpa terasa rupanya kamipun sudah semakin menapaki usia tengah baya.

Ngisor Blimbing, 29 November 2018

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Nostalgia Lintas Alam ke Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan

  1. anakayammmm berkata:

    Wah sepertinya seru.

    Disukai oleh 1 orang

  2. kusumah wijaya berkata:

    semoa omjay bisa traveling ke sana

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s